Saatnya Beralih Ke Bank Syariah?

Ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Suatu saat beberapa tahun lalu, ada sejumlah pimpinan suatu bank syari'ah yang sedang berkunjung ke kantor kami . Mereka ingin presentasi mengenai produk yang mereka jual. Kami dengan antusias mendengarkan. Harapan kami adalah akan ada penjelasan soal kelebihan-kelebihan apa yang dimiliki produk yang mereka tawarkan sehingga kami akan beralih ke bank ini atau paling tidak, tertarik .

Mereka memulai presentasi. "Bank konvensional itu riba', haram".
Kami, tepatnya saya, mulai kurang sreg, Melirik sebelah saya dan teman saya mengisyaratkan hal yang sama. Dilanjutkan oleh tamu bahwa "dengan ikut di bank kami ini, membawa bapak ibu ke jannah, insya Allah".

Kurang lebih begitu. Saya pun mulai bertanya-tanya tahukah para presenter itu bahwa kami ini bermacam-macam kelompok: ada Islam, Kristen, Hindu. Tidak salah memang mengajak ke jannah. Kami sedang bicara bisnis, kami butuh ukuran nyata soal profit, keamanan investasi dan sejenisnya. Bukan kami nggak mau masuk surga, tapi kita sedang berbicara urusan nyata di depan mata yang ukurannya jelas. 

Saat lain kami bisa bicara sodakoh atau infaq, di sana layak bicara surga neraka. Keseharian kami, insya Allah aktivitas kami ditujukan mencapai jannah meski berbau dunia, karena memang surga diraih dari aktivitas di dunia. Tapi saat tertentu kita perlu bicara sesuatu yang riil di masa kini. Harus riil dan bisa dibayangkan.

Rasanya setelah presentasi itu, kami tidak ada yang beralih ke bank tersebut. Bukan saya nggak mau menjadi baik atau mengikuti pilihan yang baik. Hanya saya tidak melihat kelebihan yang ditawarkan. Mari kita bicara yang nyata, faktual, mimpi pun terukur, jelas time framenya dan realistis. Jargon yang diusung seseorang atau kelompok tertentu memang seringkali kelihatan indah terutama jika berbau agama. Tapi jargon seperti itu jalannya harus pelan, mendaki, kadang muter, bahkan mungkin gagal.

Mencapai sesuatu yang bagus tidak cukup dengan kumpulan massa dan lecutan motivasi tanpa usaha. Seringkali perlu contoh sukses dengan usaha yang keras dan cerdas. Bagaimana menurut Anda?

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Saturday, December 8, 2018 - 20:00
Kategori Rubrik: