Saatnya Bantu Tenaga Kesehatan

ilustrasi

Oleh : Muhammad Jawy

Kejadian seperti dalam foto ini, saya kira, yang sebulan lalu tidak dipahami oleh sebagian pejabat dan para bajer terkemuka republik ini, yang tak henti meremehkan wabah ini. Saya yakin foto ini sudah membuka mata mereka, bahwa meski di Tiongkok mortalitas akibat virus ini 3%, tidak setinggi SARS, atau MERS, ia adalah penyakit yang mampu merontokkan sistem kesehatan nasional jika tidak dikendalikan dari awal, sebagaimana yang tengah terjadi di Italia.

Karena itu membandingkan dengan DBD, TBC, yang mereka juga sama-sama berbahaya, tetapi itu perbandingan yang jauh tidak seimbang, karena DBD meski di beberapa tempat sudah menjadi KLB, ia tidak bisa merontokkan rumah sakit seganas COVID-19.

Ketika para dokter dan perawat dalam foto ini yang menjadi pasukan garis depan dalam menangani wabah ini, harus bergeletakan kelelahan dalam balutan pakaian yang sangat tidak layak untuk melindungi mereka dari potensi infeksi. Ya, jas hujan itulah sebagai baju darurat untuk melindungi mereka dari percikan yang mengandung virus berbahaya SARS-CoV-2.

Idealnya setiap dokter dan perawat menggunakan satu set Alat Pelindung Diri (APD) yang standar dan teruji untuk melindungi mereka. Harganya 500 ribuan, yang sekali pakai, dan langsung buang. Namun karena logistik APD ini tidak siap, meski anggaran rumah sakit ada, barangnya tidak ada, akhirnya sebagian dari mereka mulai menyetok jas hujan yang normalnya harga 5 ribuan. Dan sekarang naik jadi 10 ribuan.

Hal ini diperparah oleh perilaku egois masyarakat yang memborong peralatan yang vital bagi tenaga kesehatan, masker, sanitizer, hingga sarung tangan medis. Bahkan alkohol swab yang tidak seharusnya dibeli oleh masyarakat biasa pun ludes.

Saat ini, kita tengah berada dalam periode menentukan dalam perang melawan COVID-19 in.

Maukah kita melakukan refleksi diri atas berbagai kekeliruan yang kita lakukan dalam beberapa waktu terakhir, dan kemudian bersepakat untuk berkolaborasi dalam satu barisan yang didasari semangat transparansi dan kejujuran? Ataukah kita akan melanjutkan saling egos antar kelompok, melanjutkan pertengkaran ala Pilpres, dengan sentimen cebong vs kampret yang sungguh memuakkan itu?

Semua harus berbenah. Pemerintah yang ketinggalan langkah, harus serius berbenah. Masyarakat pun juga harus dipaksa patuh tidak menjadi biang masalah dengan mudah berkeliaran di jalanan. Media harus secara rutin menampilkan konten edukasi, dan semangat optimisme melawan wabah ini. Tokoh agama harus ikut terjun menyadarkan masyarakat pentingnya melawan wabah ini sebagai bagian dari jihad.

Sudah ada Gugus Tugas COVID-19, sudah ada maklumat Kapolri, sudah ada KawalCOVID19, sudah ada penggalangan relawan dan dana dari berbagai pihak, mari kita kerja kolosal bersama.

Jangan biarkan para tenaga kesehatan berjuang sendiri di garis depan, yakinkan mereka, bahwa kita tengah bekerja di belakang mereka.

Sumber : Status Facebook Muhammad Jawy

Monday, March 23, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: