Saat Ustadz Jawab Umat Yang Mabuk Politik

ilustrasi

Oleh : Moch Syarif Hidayatullah

Beberapa minggu yang lalu dalam suatu pengajian di masjid yang cukup besar dan jamaah yang penuh, saya menyampaikan materi yang sama sekali tak ada hubungannya dengan pilpres atau dukung-mendukung.

Lalu, ada pertanyaan dari satu penanya bahwa bagaimana sikap kita sebagai muslim bila tahu ada kandidat calon pemimpin yang di belakangnya banyak orang-orang yang anti-Islam dan merugikan umat Islam.

Saya paham pertanyaan ini arahnya kemana. Dan, ada potensi jebakan di dalamnya. Lalu saya jawab, kalau kita tahu sepenuhnya dengan data dan informasi yang valid, maka kita wajib tidak mendukungnya. Namun, bila masih praduga, sebaiknya kita tidak boleh gampang bersuuzzan.

Di akhir jawaban saya menyampaikan, jangan-jangan orang yang kita dukung, justru bukan yang terbaik bagi kita. Sebaliknya, orang yang tidak kita dukung, malah itu justru yang lebih baik bagi kita. Lalu, saya menyitirkan QS al-Baqarah 216.

Pengajian selesai. Saya keluar dari masjid, tiba-tiba ada sekelompok jamaah yang bergerombol. Ada salah satu orang di antara kerumunan itu dengan nada yang agak meninggi.

“Sebagai ulama, jawaban Ustaz tidak boleh abu-abu. Harus tegas condong kemana. Nanti Ustaz akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.”

Saya tak menanggapi dan saya hanya respons dengan senyum karena saya tahu dia sedang menjebak saya untuk emosi. Saya melempar senyum sambil berlalu di antara gerombolan itu.

Dalam hati, saya juga berbisik, “Nanti di akhirat pun Anda akan dimintai pertanggungjawaban soal sikap Anda kepada saya saat ini.”

Saya tahu dia bersikap begitu karena jawaban yang diinginkan untuk mendukung capresnya, tidak keluar dari mulut saya. Padahal, itu sangat diharapkan demi mungkin bisa mempengaruhi jamaah yang hadir saat itu.

Ternyata dia tidak puas juga karena saya tidak menanggapi celetukan dirinya dan berlalu hanya meninggalkan senyuman.

Saat saya menuju mobil, tiba-tiba Bapak ini dengan gerombolannya menghampiri saya dan bertanya.

“Menurut Ustaz, Islam Nusantara itu benar atau salah?”

“Maaf, Bapak, ini dari sudut pandang apa, Pak, dilihatnya?” begitu jawab saya.

“Pokoknya Ustaz harus jawab benar atau salah. Tidak usah muter-muter, kayak jawaban Ustaz di dalam tadi!” begitu sergahnya.

“Lho, kan saya perlu tahu juga kenapa Bapak bertanya seperti itu? Kan saya tadi sama sekali tidak membicarakan soal Islam Nusantara,” jawab saya.

“Bagi saya, Islam Nusantara itu salah. Ustaz silakan jawab, benar atau salah?”

“Saya tidak bisa berdiskusi seperti ini, Pak. Saya terbiasa berdiskusi dengan ilmiah dan ada argumen. Saya hormati pilihan Bapak, tapi jangan paksa saya untuk mengikuti pilihan Bapak,” tegas saya dengan agak kesal.

Kalau lihat dari ekspresinya, rupanya orang itu tetap tak puas dan saya pun lalu berpamitan dengan didampingi salah satu pengurus masjid yang menjelaskan bahwa orang-orang yang bergerombol itu adalah alumni 212, yang selalu memaksa pengurus masjid untuk menghadirkan ustaz-ustaz 212.

Kepada pengurus masjid itu saya bilang, “Saya ini alumni 212, tapi saya tidak seperti itu.” Lalu, saya berpamitan pulang.

Dari kejadian itu, saya belajar bahwa sikap tidak memihak kita ke salah satu kubu, memang tidak disukai oleh orang-orang yang mabuk pilpres. Mereka ingin memaksa semua orang mendukung pilihannya.

Bahkan, ada pendukung yang sampai pada titik sikap yang sangat ekstrem dan radikal: tidak pilih capresku, maka kamu kafir.

Ini yang mudah-mudahan dapat dipahami oleh para ustaz atau ulama yang benar-benar ingin mendidik umat dengan sesungguhnya, bukan ustaz atau ulama yang jadi tim sukses capres tertentu.

Pelajaran lainnya ternyata ada orang-orang yang sama sekali niradab (tidak beradab) kepada orang yang bahkan baru saja mengajarinya ilmu.

Padahal, dia berpenampilan sangat “islami”, rajin ke masjid (terutama di masa-masa pilpres—itu kata pengurus masjid), dan kerap teriak soal bela agama dst.

Ada nasihat para ulama yang dilupakan oleh orang-orang itu, bahwa ilmu yang diterimanya akan menjadi racun bagi diri dan keluarganya, karena sudah berlaku tidak beradab pada orang yang memberinya ilmu.

Para ulama biasanya mengingatkan kepada orang-orang seperti itu kisah ketika Rasulullah disergah dengan tidak sopan oleh seseorang yang merasa diperlakukan tidak adil, padahal itu perasaan subjektif dia.

“Muhammad, adillah!” kata orang itu pada Nabi yang membuat beliau sangat marah.

“Kalau saya dianggap tidak adil, lalu siapa lagi yang lebih adil?”

Melihat Nabi diperlakukan seperti itu, Umar minta izin untuk membunuh orang ini. Orang itu pun ketakukan dan pergi.

Kata Nabi, “Jangan! Biarkan dia pergi. Nanti dari orang seperti dia akan lahir orang-orang yang membaca Alquran, tapi Alquran yang dibacanya tak akan sampai di tenggorokan. Keluar-masuk dalam Islam tanpa ada sesuatu yang membekas, persis seperti panah yang terlepas dari busurnya.”

Laki-laki yang tidak sopan pada Nabi itu dikenal sebagai Dzul Khuwaisirah al-Tamimi, seorang munafik. Dan dalam sejarah tercatat, dari keturunannyalah lahir generasi Khawarij.

Dalam perjalanan pulang itu saya lalu berpikir, “Nabi saja diperlakukan seperti itu? Apalagi saya yang masih dalam level remahan rengginang ini!”

Sumber : Status Facebook Moch Syarif Hidayatullah,

Sunday, April 7, 2019 - 12:30
Kategori Rubrik: