Saat Presiden Diprotes Warga Gamplong

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Di Gamplong, presiden diprotes warga, karena salah nyebut nama desa di Moyudan, Sleman, DIY itu. Jokowi menyebutnya Gemplong. Dan ia mengaku tak salah. Seorang warga dipanggil, disuruh membaca bunyi teks secarik kertas di tangan Jokowi.

Tulisan di kertas itu memang Gemplong, "Nah, yang salah bukan saya toh? Sekretaris saya yang salah, Mensesneg yang salah," kata Jokowi enteng. Warga dan hadirin di tempat lokasi syuting film Sultan Agung, ketawa-ketiwi.

 

 

Jokowi itu kadang-kadang nggemesin juga. Waktu meresmikan tol Solo-Ngawi, dimintanya rest-area berwajah lokal, bukan malah mejengin makanan dan minuman yang ituuu mulu.

Lha, itu artinya para stockholder entah itu Kementrian BUMN, Menteri PUPR, dan semua yang ngurusin jalan toll, sampai pun pada komisaris utama pemain-pemain terkait, yang adalah sebagian besar jokower (atau dibagiin jatah kursi oleh Jokowi), mestinya sudah tanggap dari sejak awal.

Pintu sudah dibuka lama, tapi kerja-kerja belum seberapa. Instinc presiden tak sebagaimana air cucuran atap agaknya. Soehartoisme masih susah ilangnya, atau malah jadi bahaya laten. Kepekaan masih berhadapan dengan ke-peka-an, peka dalam pengertian bahasa Betawi.

Revolusi mental-mentul, tentu karena proses evolusi tak pernah menjadi ilmu. Makanya kita ingin regenerasi itu cepat terealisasi. Yang tua saatnya menyingkir, daripada bermuluk-muluk nyapres, tapi encok dan bengek bikin 250 juta rakyat stress.

 

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)

Tuesday, July 17, 2018 - 22:15
Kategori Rubrik: