Saat Prabowo Dipilih Jokowi

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Saya kira bagian mendebarkan dari pengumuman kabinet 2019-2024 sudah usai. Hari ini masih ada sekian calon menteri dipanggil ke istana. Semua biasa-biasa saja.

Buat saya pribadi, kejelasan Prabowo dan Edi Prabowo masuk kabinet menandai rampungnya 2 kajian predictive analytic. Yang pertama saya lansir persis sehari setelah pertemuan Teuku Umar.

Sidang Umum MPR pekan lalu memperlihatkan betapa keukeuhnya Gerindra ingin meraih kursi ketua MPR. Di menit terakhir Prabowo menelpon Megawati. Ibu Teuku Umar meminta Prabowo merelakan apa yang sedang bergulir dalam sidang. Bambang Soesatyo melangkah lempang ke kursi ketua MPR.

Yang kedua saya lansir dua pekan lalu, jauh sebelum media riuh: memrediksi Prabowo masuk ke kabinet. Itu sudah ditegaskan kemarin. Dalam tulisan itu saya juga memperkirakan gerakan mahasiswa gembos begitu saja. Dan memang demikian yang kemudian terjadi.

Beberapa orang bertanya via japri: darimana saya tahu?

Saya gak tahu dari mana-mana, gak juga nebak-nebak langit atau hujan atau baca aura (yang taik kucing itu), hanya bikin kajian predictive analytic berdasarkan data di tangan dan informasi dari berbagai media. Beberapa variabel teruji saya tetapkan jauh-jauh hari. Begitulah, semua menggelinding sesuai formula.

Buat saya, apa yang terjadi sekarang ini memang tidak enak. Saya mendukung pernyataan Hidayat Nurwahid: kalau memang akhirnya semua bergabung, ngapain ada dua kontestan di pilpres kemarin?

Tapi Jokowi memilih jalan lain. Karena ia sudah kita pilih menjadi Presiden, tak ada hak kita lagi mencampuri prerogratif beliau dalam memilih tim kerja. Mau itu berdasar desakan Mega kek, atau Surya Paloh kek, atau hantu blau, itu sepenuhnya wilayah kewenangan Jokowi. Kita gak boleh ikut-ikut.

Pada akhirnya Jokowi yang mempertanggungjawabkan kerjanya kepada rakyat Indonesia, bukan Mega, bukan Prabowo, bukan Paloh. Jika itu jalan yang dipilih Jokowi, kita dukung sepenuh sembari berharap bahwa hasil akhirnya jauh lebih baik daripada ekspektasi kita.

Ke depan, mari kita perbaiki nalar kolektif. Kericuhan yang mengiringi demo mahasiswa tempo hari sungguh memalukan. KIta bersikap emosional sehingga kehilangan akal sehat. Sekali lagi, rubuhkan semua tahyul. Tak ada yang mutlak benar. Tidak demo mahasiswa, tidak KPK, tidak segala kentut yang kita puja selama ini sebagai kebenaran mutlak.

Berhentikah kita bersikap kritis?

Tidak. Awasi kerja Jokowi. Beliau harus memastikan bahwa KPK dengan revisi Undang-Undangnya justru akan membawa kebaikan bagi rakyat Indonesia, dan indeks persepsi korupsi naik secara drastikal selama 5 tahun ke depan.

Asah nalarmu dari waktu ke waktu. Gunakan itu untuk memandu hidupmu. Saya sendiri sedang mempraktikannya. Sejak 10 hari lalu saya buang semua obat. Otak saya cukup kok untuk mengalirkan terapi kesembuhan ke seluruh organ.

Tidak, saya tidak menggunakan meditasi. Tidak, saya tidak berdoa. Saya benahi pikiran. Saya susun struktur jagad raya dengan pemahaman baru. Dengan itu saya tidak perlu marah terhadap apa pun sebab memang tidak ada alasan untuk marah.

Saya tak perlu menjaga diri saya agar tidak marah. Itu sia-sia, suatu saat pasti jebol. Saya maknai ulang apa itu hidup dan bagaimana jagadraya berselenggara. Dengan meyakini itu sepenuh, saya tak mungkin marah, atau mangkel, atau iri, atau membenci.

Tapi maaf, saya tidak akan membagikan pikiran dan kajian tersebut kepada kalian. Saya bisa dirajam hidup-hidup oleh para agamawan.

Itu cukup. Gula darah saya drop ke 102, tensi 100/75, fungsi ginjal, hati, dan lain-lain normal. Kolesterol, tidak saya ukur. Ngapain? Akhir pekan depan saya akan menjalani general checkup untuk memastikan terapi pikiran yang saya rancang memang sangkil dan mangkus dalam memulihkan tubuh.

Tapi perut saya membuncit. Saya merasa nyaman sehingga banyak makan. Itu harus cepat saya atasi.

Saya tidak akan lagi menulis tiap hari. Mungkin sepekan sekali atau sebulan sekali. Suka-suka saya. Tidak ada jadwal.

Banyak hal lain perlu dikerjakan. Kalau pun ada kabar harus dibagi, bukan saya yang mewartakannya.

Apakah saya masih percaya Tuhan? Ya. Tapi Tuhan saya funky.

Sebab segala sesuatu sungguh amat baik adanya.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Tuesday, October 22, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: