Saat Perempuan Berpenghasilan

ilustrasi

Oleh : Mimi Hilzah

Perempuan bisa menghasilkan duit? Baguusss... Pinter dikelola ya kaak, jangan diabisin buat jajan dan skinker doang. Boleh belanja menyenangkan diri sendiri tapi tetap diukur sesuai kemampuan. Jajanan, pakaian, atau skinker itu juga ada tingkatannya. Beli secara bijak, sesuai kebutuhan. Kalau duitnya udah nggak bisa diitung, silakan pilih yang brandnya nampol. Kalau belum, mari berlaku cerdas supaya besok-besok nggak balik merana.

Euforia bisa menghasilkan uang bisa menyesatkan kalau tidak dikelola. Masalahnya dalam berbisnis tidak ada rumus mutlak bisnis itu selalu naik-naik ke puncak gunung. Ada masa bisnis lesu, penjualan sepi, atau halangan semacam pandemi kayak yang sedang kita alami ini. Yang paling berat dari berbisnis adalah tetap semangat bahkan di kala penjualan sedang tidak baik angkanya.

Apalagi yang punya pintu doraemon semacam kartu kredit di dompetnya. Kalau dirasa-rasa tidak dibutuhkan untuk keperluan membantu permodalan ya baiknya digunting saja. Jangan jadikan kartu tersebut menjadi kartu ajaib yang bisa menghadirkan kebahagiaan sesaat. Kartu itu ada untuk memudahkan pembayaran di depan, belakangnya ya tetap bayar. Kadang berikut bunganya kalau telat menyicil. Ada teman yang bangga sekali menceritakan ia punya sepuluh kartu kredit yang memudahkannya memiliki barang-barang branded yang bisa menaikkan gengsi. Tapi pas cerita tunggakan yang harus dibayarnya, ya mewek juga.

Saya sendiri belum pernah punya kartu kredit, ditawari berkali-kali tapi ndak kepengen. Hitungannya saya belum butuh. Jarang ke mana-mana juga, belanja seperlunya saja. Dan saya senang sekali kalau bisa membeli barang secara tunai. Misal saya butuh beli peralatan untuk dapur yang cukup mahal dan duitnya kurang, ya nyicil ke suami. Nyicil lho, supaya tetap bertanggung jawab. Bedanya, sama dia nggak pakai bunga. Dan misal telat sebulan ya tetap bisa tidur dengan tenang. Lha wong saya tidurnya sama si pemberi utang

Nah, supaya perempuan yang bisa menghasilkan duit itu tidak melulu dapat cibiran dan cap negatif semacam boros, belajarlah mengelola keuangan. Mulai dari kecil, nanti kalau sudah banyak jadi terbiasa. Pisahkan uang hasil bisnis dengan kebutuhan rumah tangga. Jangan dicampur aduk karena mumet nantinya. Bisa jadi kalian merasa tidak menghasilkan tapi sebenarnya ada tapi sudah habis dipakai untuk membeli keperluan sehari-hari. Dipakai untuk rumah tangga ya ndak papa tapi usahakan tetap ada yang disisihkan untuk modal produksi selanjutnya. Dicatat rapi biar tambah semangat meningkatkan penghasilan. Bisnis yang baik dimulai dengan manajemen yang baik.

Dulu saya nyicil beli peralatan. Kalau ada keuntungan dari jualan kue di rumah ya saya sisihkan sebagian untuk beli loyang, cetakan, kertas bakar dll peralatan yang bisa saya pakai untuk jangka panjang. Sedikit-sedikit belinya ya ndak lama jadi banyak. Lalu belajar menggunakan peralatan sampai benar-benar tidak bisa digunakan lagi alias rusak. Kalau masih bisa diperbaiki, ya perbaiki. Bukan ikut tren, bukan pengin gara-gara lihat dapur tetangga. Sesuai kegunaannya, sesuai kebutuhan. Contohnya kita mau bakar kue awalnya bisa pakai oven otang dengan kapasitas produksi 10 stoples per hari. Ya diukur orderannya. Kalau bisa dapat segitu, ya pakailah itu otang dengan sepenuh cinta. Jangan ngomel bahwa oven listrik enak, nggak goyang-goyang, tangan nggak kesenggol oven. Ingat harga oven listrik. Yakin sudah bisa dikembalikan harganya berapa bulan misalnya? Kalau belum yakin tapi tetap kepengen ya nabunglah. Pas duitnya ada baru beli jauh lebih baik daripada ngutang tapi setengah ngesot membayar cicilannya.

Lalu kalau sudah break even point alias balik modal, pikirkan untuk menabung lebih serius. Punya duit di rekening sebagai alat berjaga-jaga itu sangat menenangkan hati. Macam kasus pandemi ini, mereka yang punya tabungan pasti bisa menghitung kekuatannya, berapa lama bisa menggaji karyawan sekaligus tetap berproduksi walaupun misalnya penjualan menurun drastis. Nggak sedih-sedih amat pokoknya. Mana kalau masa begini di mana hampir semua orang terkena dampak pandemi, mencari pinjaman itu sangat sulit. Orang-orang sedang sama-sama mengencangkan ikat pinggang.

Kalau sudah begitu, banyak orang pasti menyesal saat membuka lemari pakaian atau rak sepatu. Melihat barang-barang yang sebenarnya tak mereka butuhkan sekali tapi telanjur dibeli. Ya penyesalan memang selalu datangnya terlambat. Tapi kalau mau berubah dari sekarang, tetap masih selalu ada jalan.

***

Kapan saya baca meme yang menurut saya lucu juga ya ngenes juga.

Uang suami adalah uang istri. Uang istri ya tetap milik istri.

Ceritanya kalau istri berpenghasilan ya boleh disimpan sendiri, dipergunakan sendiri. Saya setuju sampai bagian ini, sudah mandiri secara finansial mbokya kasih keleluasaan untuk mengelola dan mempergunakannya. Lama-lama pinternya jadi kayak Ibu Sri Mulyani kan lumayan, Paak

Tapi apakah benar kebutuhan rumah tangga harus dibayar hanya dengan uang yang dihasilkan suami?

Mungkin beda-beda aturan rumah tangga, ya. Ada yang suami yang nyaman semua uangnya dikelola istrinya, ada yang tidak. Kalau di rumah tangga saya ya tidak pakai aturan saklek. Mungkin karena saya sudah mandiri belajar mencari uang sedari usia remaja maka saya selalu percaya ngga dikasih duitpun saya tetap bisa nyari sendiri. Saya yang selalu percaya dengan modal otak dan kedua tangan saya, saya pasti bisa menghasilkan sesuatu yang bernilai uang. Jadi saya ngga kepancing kepo pengin tahu berapa sih sebenarnya duit yang dipunya suami.

Nah ada pos-pos pembayaran yang memang diselesaikan oleh suami. Cicilan rumah, mobil, listrik, air, belanja bulanan dll. Saya bantunya ya di bagian pangan keluarga dan jajan-jajan anak-anak. Misal kayak gitu. Kapan ada sesuatu yang butuh dibayar dengan nilai yang banyak ya saya tetap bertanya apakah saya harus urunan membayar juga? Itu bukan sekadar mau kasih sinyal saya punya banyak duit ya, tapi begitulah sebaiknya dalam rumah tangga. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Misal tugas beli air galon terlupa sama beliau ya saya angkut galonnya dan singgah ke indomaret beli sendiri. Pulangnya nggak usah nagih, palingan saya minta dibelikan jajan makanan apa kalau dia pulang wkwk... Misal kita mau kurban tahun ini, pas saya ada duitnya ya kita urunan bayarnya.

Intinya begini. Ini nasihat ringan dari saya yang masih muda tapi sudah hampir menjalani 22 tahun pernikahan. Bersikap luwes itu perlu alih-alih saklek dan curiga melulu. Kasih napas juga ke suami, dia beli sepeda terus ngga mau nyebut harganya ya jangan dongkol. Yang penting semua kebutuhan bulanan itu masih terpenuhi dengan baik, ya kalian baik-baik saja.

Suami ngasih ke orang tua dan saudaranya? Hm, ya anak lelaki itu memang tanggung jawabnya besar kan ya secara agama. Saya ingat pernah suatu masa tinggal bersebelahan dengan ibu mertua. Suami saya pulang dari kerja bawa dua kantong makanan. Saat pulang dia tidak langsung ke rumah tapi pergi mencari ibunya. Kantong makanan pertama disampaikan dulu lalu ia balik ke rumah membawakan kantong satunya. Di situ saya belajar, walau suami saya ndak romantis tapi dia anak yang baik dan sudah berusaha bersikap adil kepada keluarganya. Dan itu membuat hati tenang bahwa sebagai istri kita tetap ikut berperan dalam hubungan yang terjaga harmonis dalam keluarga besar suami maupun istri.

Tapi kak, duit saya yang tidak terpakai disembunyikan sebagian ndak papa ya? Ya ndak papa, asal duit hasil keringat sendiri. Seperti saya bilang di atas punya tabungan untuk berjaga-jaga itu baik sekali. Dulu waktu masih miskin saya sering menyelipkan duit sepuluh ribuan ke celah dompet yang paling dalam. Pas suami mau naik angkot untuk cari kerja dan nggak ada duitnya, ya saya keluarkanlah harta berharga itu. Trus dia geleng-geleng kepala.

Bisa ya kamu sembunyi duit di situ?

Bisa! Kalau ndak begini, kamu ya ndak bisa keluar cari kerja...

Suatu hari bisa jadi uang itu bisa jadi sangat berguna untuk keperluan keluarga, bisa juga tidak terpakai dan lumayan untuk dijadikan bekal hari tua. Well prepared itu bagus sekali, sedih lho kalau ketemu orang tua hidupnya sudah susah, anak nggak peduli atau didera sakit tapi biaya ndak ada. Kita tidak bisa memprediksi secara detail akan jadi seperti apa kita saat fisik kita sudah lemah. Maka bersiap-siap dimulai hari ini adalah tindakan yang sangat bijak.

Untuk pasangan yang tidak diminta-minta akhirnya terpaksa berpisah pun, si istri kelak tidak jatuh terjerembab karena tidak punya pegangan untuk melanjutkan hidup.

Dus, berpenghasilan besar itu bukanlah sebuah legitimasi bahwa perempuan bisa semena-mena memperlakukan suaminya yang penghasilannya lebih kecil misalnya. Ndak begitu. Jangan begitu. Pun bapak-bapak yang istrinya lebih tangkas menghasilkan uang ya ojo minderan dan mendadak insecure trus kepengin poligami dengan alasan mau menafkahi perempuan yang butuh dinafkahi saja. Jangan. Rumah tangga itu bukan soal menguasai, siapa yang lebih apa, tapi soal mengelola dan menambal kekurangan satu dengan yang lain dan bertahan kuat berjalan bersama-sama menemani anak-anak bertumbuh hingga dewasa. Pekerjaan bertahun-tahun yang pasti ada jenuhnya dan banyak sekali tantangannya tapi semoga tidak jadi berhenti hanya karena persoalan uang.

Istri yang berpenghasilan semoga tahu untuk mengatur ritme kerjanya dan menyelaraskannya dengan kewajibannya mengelola rumah tangga. Suami pun semoga tetap bertanggung jawab dan pengertian meski tahu istrinya berpenghasilan, bahwa hal tersebut adalah berkat perjuangan yang tidak mudah dalam menaklukkan diri sendiri sekaligus tetap setia kepada keluarga. Salah satunya lelah jangan dilampiaskan secara keliru, pastikan semua langkah yang diambil adalah langkah-langkah yang sudah diukur risikonya dan siap diterima akibatnya.

Tetaplah saling menyemangati. Dalam keadaan lapang maupun sempit.

Sumber : Status Facebook Mimi Hilzah

Sunday, July 12, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: