Saat Pelukis Stress

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Tertegun saya mendengar cerita kawan yang tidak terpikir oleh akal sehat. Sebuah karya lukisan quilt bagus (menurut selera umum) jadi masalah serius. Hanya gara2 di lukisan itu ada gadis berjilbab makan pakai tangan kiri. Pelukisnya stress. Pelukisnya dibully. Padahal tidak ada niat melecehkan ajaran agama tertentu. Karena pelukisnya sendiri tidak tahu bahwa makan itu harus pakai tangan kanan. Dia penganut katolik.

Saat kuliah dulu beberapa temannya kidal. Sering orang tua anak2 kidal memaksa pola pikir 'tangan kanan' sebagai bentuk kesopanan dan pelaksanaan agama. Padahal naluri orang bertangan kidal tidak bisa dipaksa untuk bergaya tangan kanan. Di situlah manusia kurang menghargai keragaman dan keistimewaan ciptaanNya. Atas nama sopan santun dan agama manusia memaksa makhluk khusus untuk mengikuti cara2 umum. Banyak orang kidal dibuat stress gara2 pola pikir 'tangan kanan'. Padahal orang kidal biasanya punya keistimewaan dalam kecerdasan.

Temanku yang indigo itu sering melihat makhluk aneh di sekitarnya yang orang lain nggak tahu. Suatu saat dia dibonceng pacar melaju di jalan raya. Tiba2 ada banyak makhluk seperti bola menggelinding di jalan sambil mringis. Pacarnya disuruh ngerem untuk menghindari, pacarnya tidak melihat apa2.

Jalan lagi. Menurut saya temanku ini punya keistimewaan. Orang lain tidak tahu. Teman2 di FSRD ITB yang dulu sering dibilang aneh ternyata berisi orang2 yang sering memaknai hidup dengan cara yang berbeda. Asyik ternyata mengenal cara berpikir para seniman itu.

Kembali ke karya quilt tadi.
Sampai segitu orang2 tertentu mencari kesalahan orang lain. Padahal orang lain yang normal justru melihat keindahan lukisan itu.

Si pelukis adalah seniman kondang di bidangnya. Lukisan gaya quilt itu dibuat dengan melibatkan banyak orang sebagai tenaga penjahit. Para penjahit ini harus dilatih dulu untuk bisa bekerja. Suatu saat para pekerjanya minta mundur karena alasan agama. Ya mungkin karena 'hasutan' pihak tertentu. Temanku kaget karena kondisi dia yang double minoritas itu membuat dia tidak berani bersuara. Sudah cina katolik pula!.

Beruntung para agamis yang resign itu kemudian minta kerja lagi. Mereka butuh uang katanya. Temanku itu menerima mereka lagi. Penghasut hanya bisa merusak pola pikir tanpa bisa memberi makan.
Hasutan sejenis melanda ke berbagai tempat dan kalangan bahkan orang2 terdidik pun kena. Alumni ptn bagus keluar dari bank gefara hasutan orang tidak bertanggungjawab.

Alasannya riba. Setelah keluar ya jadi pengangguran atau jualan minyak wangi arab. Keluarga berantakan, penghasut nggak peduli. Penghasut terus berkoar,'jangan terlena dengan kehidupan dunia', ini haram, itu riba,ini dosa, itu masuk neraka. Jamaahnya tumbang satu persatu, ustadz penghasut makin kaya, mobilnya mewah, rumahnya besar, beristri tiga. Dia nggak peduli jamaahnya makan apa, iming2 surga cukup mengisi perut mereka.

Temanku tadi lalu pindah dari Riau mengikuti tugas suami. Di tempat baru dia mengembangkan usaha lagi. Banyak pekerja direkrut. Tapi yang direkrut orang2 yang berpikir longgar yang jauh dari 'ini haram itu dosa'. Dia merasa lebih nyaman bekerja dengan orang2 seperti ini, profesionalisme terjaga. Usahanya di Riau tetap jalan dan bahkan membesar. Korban hasutan sadar bahwa mereka butuh makan, butuh kerja. Ustadz penghasut hanya bicara, tidak tahu cara membuka lapangan kerja..

Balikpapan 6okt 2019, sepertiga malam terakhir.

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Sunday, October 6, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: