Saat Para Pengusaha Tak Tahu Yang Menyambutnya Sang Walikota

Ilustrasi

Oleeh : Damar Wicaksono

Bagi yang baru mengenal pakdhe, mungkin hal2 yang dilakukannya (nginep di hotel bintang 2 atau turun ke sawah, memakai payung sendiri) dianggep pencitraan. Tapi saya jamin, Presiden Megawati dan Presiden SBY ngga akan tahan fisiknya seperti Jokowi. Ngga usah beliau2 deh. Saya juga 

Jokowi saat ini masih sama seperti saat saya bertemu pertama kali di Solo. Saat ia yang kurus dengan baju kedodoran, duduk di kursi belakang, berbincang dengan beberapa stafnya. Saat puluhan pelaku usaha senior yang berbisnis di Solo, bersiap dijamu walikota Solo. Saya yang masih piyik, nginthil salah satu mitra yang usianya sudah sepuh. Cuman senyum2 aja saat mendengar para dewa2 itu ngobrol. Di akhir 2007 (dua tahun pertamanya sebagai walikota)

Yang terjadi adalah, para pengusaha tak tau bahwa walikota sudah datang. Bahkan dari tamu belum datang. Para tamu kaget karena trnyata yang menyambut mereka di belakang tadi adalah walikota, bukan staf birokratnya. Lha fisiknya biasa aja. Kurus cungkring.

Pidatonya yang trpenting

"Perkenalkan saya Joko Widodo. Sugeng rawuh bapak dan ibu sekalian. Maturnuwun sudah bersedia rawuh. Saya cuma mau makan siang bareng dan mendengar masukan bapak ibu. Maturnuwun sudah bersedia berinvestasi di Solo.

Saya mau mengatakan bahwa dalam 2 taun saya menjabat ini, saya berusaha membangun sistem yang baru. Sudah ngga zaman pengusaha dipersulit. Saya berusaha mempermudah proses perijinan bapak dan ibu sekakian untuk berbisnis. Ndak ada lagi namanya pungli. Ndka boleh preman ngganggu. Saya juga meminta bapak dan ibu ndak usah menggubris kalo ada orang atau pejabat pemkot minta uang, apalagi mengatasnamakan saya. Saya jamin, saya ndak mau. Keluarga saya juga saya larang ikut tender2 proyek.."

Saya begitu terpesona. Saat itu semua cerita yang saya dengar bisik2 itu menjadi riil. Hanya Pak Herry Zudiyanto (walikota Jogja 2002-2012) yang saat itu menjadi patokan saya terhadap pejabat yang BEKERJA. Saya tambahin satu lagi. JOKOWI

Entahlah..
Saya bahkan waktu itu berharap dia melangkah lebh tinggi. Gubernur Jateng misalnya. Tahun 2009, media mulai menyorotnya. Saat majalah Tempo memilihnya sebagai "tokoh tahun ini". Saat juga berita pemindahan ratusan PKL dilakukannya dengan pawai meriah. Lalu 2010 Jokowi mendapat Bung Hatta Anti Corruption Award.

Takdir membawanya menjadi Presiden.

Saya bangga pernah membantunya dalam kampanye pilpres. Dalam sebuah kesempatan ngumpul dengan para piyik pembantu umum, saya katakan, "Pak, saya salah satu yang nyempil di belakang saat bapak menjamu para pelaku usaha di Solo beberapa tahun lalu. Njenengan konsisten"

4 tahun penuh kerja keras. Banyak yang belum selesai. Kekurangan juga masih banyak. Tapi masyarakat tahu bahwa njenengan serius bekerja. Dan nampak sekali KONSISTEN. Keluarga tak boleh terlibat dalam kerja kerja negara. Jokowi juga melepas bisnisnya ke tangan keluarganya. Ndka boleh ikut tender. Sesuatu yang masih jarang didapati di lingkungan pejabat tinggi

Sehat selalu, Pakdhe

Dari rakyatmu, pelaku usaha, remaja 30an tahun

Sumber : Status Facebook Damar Wicaksono

Friday, February 9, 2018 - 15:15
Kategori Rubrik: