Saat Negara Diancam Begal

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Negeri ini baru ultah 72 thn, nusantara ini sdh berumur ribuan tahun. Perpecahan, perang, adu pengaruh selalu ada pada zamannya, bahkan saat kemerdekaan seumur jagung pemberontakan sudah bersemi. Asal muasalnya krn beda prinsip dan saling tidak puas, saling curiga, ingin berkuasa, bahkan mencoba membalik ideologi yg dianggap tak lagi seksi menurut pikiran yg cuma mampir tanpa mikir.

Karto Suwirjo, Kahar Muzakkar, Daud Brueuh, karena ketidak cocokkan prinsip dgn Soekarno mau mengambil jalan pintas, menghitung penduduk mayoritas Indonesia adalah muslim, maka mendirikan negara islam paling gampang menurut pikiran yg menggampangkan. Mereka lupa bgmn para pendiri bangsa ini memeras otak untuk merumuskan Pancasila agar menjadi pondasi yg kokoh menopang suku, agama dan budaya Indonesia yg begitu kaya, kemajemukan ini sejak awal sudah disadari tdk mungkin ditunggalkan, seperti negara yg berazaskan islam atau agama lain, jadi sejak awal sudah begitu dgn sadar pendiri negeri ini menghindari ideologi monopoli karena tunggal akan gagal, yg tunggal hanya Tuhan, manusia harus beragam bukan seragam, karena itulah keinginan Tuhan, tunggal hanya Dia, tidak untuk yg lainnya.

 

 

Ditengah proses pembentukan jati diri sbg bangsa, disana pula kita mendapat cobaan yg tak gampang, dikuasai Soeharto selama 32 thn, Indonesia bak hidup di sarang penyamun, semua diatur seragam, Golkar berkuasa warna kuning menjadi simbolnya, sampai kantor koramil dicat kuning, mungkin kalau agak lama bendera kita sudah kuning putih warnanya.

Pengelolaan negara lebih kacau dari pasar kaget, belanja negara dari hutang yg terus digalang. Sumber daya alam kita malah dijadikan bancaan para kroni, keluarga dan makanan para penjilat kelas dewa. Saat kita ditinggalnya, lengser terpaksa, dia mewariskan sistim dalam berkorupsi, saling menyuapi, bagi2, tipu sana sini. Kebiasaan akan menjadi tabiat kata orang tua, kalau kebiasaannya nipu dia akan jd maling, kalau kebiasaannya minta2, dia akan jadi calo saja, kalau kebiasaannya menyuap dia akan menggigit, dst. Ibarat mobil, chasisnya bengkok, bagaimana bisa lurus jalannya.

7 presiden sdh dan sedang ada, Soekarno mencari bentuk tapi di gebuk, Soeharto menikmati jabatan sampai lupa kalau presiden itu bukan owner atau share holder, dia adalah penjaga dan pembentuk sistim pengembangan dan penjagaan negara, yg terjadi dia lupa semua, yg dia urus cuma anak dan kroninya sampai akhirnya IMF mendiktenya. Estafet selanjutnya harusnya kita bahagia, sayang kita kemasukan manusia yg banyak alfa, sampai dia lupa presiden atau sinden, bayangkan ditengah sistim ketatanegaraan sdg kolaps ada presiden yg masih bisa rekaman dan jual CD, saya pernah berfikir apa rakyat Indonesia pernah salah makan obat sehingga bs memilih presiden yg begitu lucu, absurds.

Pak Jokowi hadir, manusia langka ini entah bgmn nongolnya, manusia dgn penampilan tenang namun berkarakter ini membawa perubahan nyata. Para pesaing dan sekaligus pembencinya begitu tersiksa mata batinnya, karena upaya dan kerja selama ini dgn cara berkroni dan berkoloni satu2 mati suri atau mati di bui. Segala cara dibuat agar tabiat lama bisa ditambat, aset negara main embat malingpun merasa bermartabat.

Pertunjukan sirkus politik makin menggelitik, mulut busuk makin menusuk. KPK diamuk, polisi diseruduk, hakim dan jaksa di tanduk atau diajak duduk bagaimana mengatur agar perkara bisa diatur dan diukur, maju mundur sampai bisa perkara atau orangnya yg kabur.

Zaman ini memang zaman jin makan burger. Ada partai anti pancasila hidup di Indonesia, dia bela ormas yg nafasnya sama, mendukung pemerintah sekaligus menjegalnya, mrk bukan lupa pancasila tapi jelas2 tidak mengakuinya, kenapa dibiarkan? , bukan tapi sedang dimabokkan, ibarat menebar air tuba, nanti akan kelihatan ikan yg naik kepermukaan. ini kepiwaian, bukan ketidaktahuan, secara perlahan begal2 senayan plus kelas jalanan akan makin muncul dalam kondisi setengah pingsan.

Biarkan mereka pede seadanya, karena sebentar lagi mati selamanya. Kita fokus saja bekerja agar para begal makin tak berdaya. # Indonesia Jaya.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Wednesday, October 11, 2017 - 00:45
Kategori Rubrik: