Saat Matahari Kembar Menaungi DKI Jakarta

Oleh: Rudi S Kamri

Di suatu provinsi, ada yang bilang Wakil Gubernur itu bukan matahari lain yang muncul berikutnya, tapi sosok yang harus ikhlas berdiri di belakang bayang-bayang matahari utama yaitu Gubernur. Dalam teori kepemimpinanpun demikian, bahwa sebuah kepemimpinan akan efektif kalau seorang pemimpin tidak dibayangi dengan matahari kembar. Adanya matahari kembar dalam sebuah kepemimpinan suatu lembaga dengan sinar yang sama-sama terang, akan menimbulkan silau di mata anak buahnya dan ini berpotensi menimbulkan kekisruhan dalam pengambilan keputusan.

Dan ini yang terindikasi sedang terjadi di Pemda DKI Jakarta. Pasangan Gub dan Wagub ini dari awal tidak terlihat sebagai sebuah kesatuan kepemimpinan yang solid tapi malah sering terlihat tumpang tindih dan saling menindih. Kurang lebih 8 bulan kepemimpinannya di Balaikota DKI Jakarta sering sekali dalam satu masalah yang sama mereka mempunyai perspektif yang berbeda satu sama lain. Sebagai contoh saja dalam urusan rumah DP Rp 0, mereka bersilang pendapat cukup tajam. Gubernurnya menginginkan proyek kepemilikan 100% milik Pemda DKI Jakarta, tapi Wagubnya berpendapat kepemilikannya bisa juga oleh Pemda bersama swasta. Mungkin karena perbedaan yang tajam diantara keduanya itulah program ini belum ada titik terang sampai sekarang.

Banyak lagi perbedaan tajam diantara keduanya. Contoh lain lagi menghadapi Asian Games, di awal-awal dengan gagah gemulai si Wakil Gubernur berkoar di media bahwa anak sekolah akan diliburkan total. Tapi dalam hitungan beberapa hari pernyataan Wagub sotoy itu dikoreksi keras oleh Gubernurnya. Banyak contoh lainnya, seperti normalisasi Kali Ciliwung, jam kerja selama bulan Ramadhan dan banyak hal lagi. Statement mereka sering tidak sejalan serirama.

Menurutnya teman saya yang saat ini menjabat Eselon 3 di Pemda DKI Jakarta, ketidak-kompakan ini sangat menyulitkan anak buahnya. Belum lagi masing-masing punya Tim tersendiri. Gubernur punya TGUPP (Tim Gubernur Untuk Percepatan Pembangunan) yang diisi oleh Timsesnya. Tim jumbo ini menghabiskan anggaran Rp 28M setahun. Di sisi lain meskipun secara formal tidak dilembagakan, sang Wagub tak mau kalah juga punya Tim tersendiri yang dinamakan Tim Wagub. Sama seperti TGUPP, Tim Wagub ini juga diisi oleh orang-orang terdekatnya. Kata teman saya kedua Tim ini sangat powerfull melebihi SKPD yang ada. Dan tidak jarang pula kedua Tim ini juga saling bergesekan di lapangan. Kedua Tim seperti metamorfosis dari kedua Boss-nya. Saling adu kuat sinar terang di atas langit kota Jakarta.

Sebagai orang yang sering memberikan pelatihan "Servant Leadership", saya melihat titik tolak terjadinya matahari kembar dan kekisruhan turunannya ini adalah bersumber dari TIDAK TAHU DIRINYA dari Wakil Gubernur. Undang-undang memang tidak mengatur secara spesifik pembagian tugas antara Gubernur dan Wakil Gubernur. Dalam prakteknya biasanya Wakil Gubernur hanyalah mengerjakan penugasan yang diberikan oleh Gubernur atau berdasarkan kesepakatan pembagian tugas diantara keduanya saat sebelum mereka dicalonkan. Tapi apapun jenisnya semua pertanggungjawaban tetap mengerucut pada 1 orang yaitu Gubernur.

Di Pemda DKI Jakarta yang terjadi tidak seperti itu. Sang Wakil Gubernur terlalu sering tampil ke depan melebihi proporsinya sebagai Wakil. Seolah-olah dia bisa bertindak memutuskan secara tunggal. Tapi dalam kenyataannya keputusan si Wagub sering dikoreksi keras oleh Gubernurnya. Ini bukan saja menunjukkan ketidak-kompakan diantara kedua, tapi juga terbaca rivalitas keras diantara keduanya.

Mengapa bisa terjadi demikian ?

PERTAMA :
Penggabungan diantara keduanya memang hanya didasarkan pada kebutuhan politik pragmatis semata. Bukan berdasarkan atas kapabilitas yang saling melengkapi. Mungkin pembagian tugas secara detail belum sempat secara tuntas dibicarakan dan disepakati. Apalagi sebelum penggabungan, si Wagub awalnya sempat menggadang-gadangkan dirinya menjadi menjadi DKI-1.
KEDUA :
Si Wagub mungkin merasa sahamnya dalam Pilkada DKI Jakarta ini jauh lebih besar dibanding si Gubernur. Berdasarkan pengakuannya sendiri, dia telah menyetor saham dengan menggelontorkan uang 108 Milyar lebih dari koceknya untuk biaya politik dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. Karena sahamnya merasa lebih besar itulah, mungkin dia merasa bisa bertindak seenaknya.
KETIGA :
Sang Wagub mungkin mendapat angin surga dari kelompok elite Gerindra dan PKS bahwa si Gubernur akan didorong ikut perhelatan Pilpres 2019. Sehingga dia diminta ikhlas dulu menjadi DKI-2 dulu, dan pada waktunya dia akan mewarisi jabatan DKI-1. Tapi di sisi lain saya melihat kegamangan dari si Gubernur yang sangat ambisius itu untuk mengikuti kontestasi Pilpres 2019. Dia tidak terlalu bodoh untuk mengorbankan jabatan Gubernurnya, karena dia melihat dan mengakui kubu incumbent masih terlalu kuat untuk dilawan.

Apapun terjadi, matahari kembar di ufuk langit Balaikota DKI Jakarta adalah realita dari sebuah demokrasi yang penuh rekayasa. Dan bagi saya semua itu hanya sekedar hiburan semata. Karena dari awal duo Giant dan Suneo ini memang terlihat sepasang pemimpin yang aneh. Sampai hari ini mereka tidak terlihat punya nawaitu untuk merangkul 42% penduduk Jakarta yang bukan pendukungnya. Yang terlihat mereka terlalu asyik menari diantara 58% pendukungnya saja. Mereka dari awal tidak menunjukkan itikad baik untuk menjadi pemimpin semua warga Jakarta. Ke depan kalau mereka tetap tidak mau merendahkan diri membuang ego untuk merangkul semua, sampai kapanpun kepemimpinan mereka tidak akan efektif untuk Jakarta.

Saya tidak tahu sampai kapan matahari kembar ini terus berkobar dan membakar langit Balaikota DKI Jakarta. Tapi prediksi saya tidak lama lagi gesekan diantara keduanya akan memicu konflik terbuka. Karena kesatuan mereka tidak didasarkan pada 'natural chemistry' murni sehingga berpotensi rentan retak pecah berkeping-keping.

Kita lihat saja sampai kapan aparat Pemda DKI Jakarta kuat menghadapi matahari kembar yang memancar terik di atas jidat mereka. Time will tell.......

Salam Satu Indonesia,
Rudi S Kamri
06062018

Sumber : facebook Rudi S Kamri

Wednesday, June 6, 2018 - 14:15
Kategori Rubrik: