Saat Kostum Memiliki Agama

ilustrasi

Oleh : Nisa Alvis

Tahun lalu seorang teman kantor mulai berhijab. Ia nampak gembira. Saya memujinya "manis banget kayak gini, mbak". Ia berterima kasih, percaya diri. Bulan lalu, kawan yang lain buka hijab. Tepatnya mulai longgar, kadang pakai kadang tidak. Ia sekilas bercerita dapat teguran dan sindiran teman. Mereka menyayangkan: sudah dapat hidayah ko malah dilepas. Kasihan orang tuamu. Lahh

Sesungguhnya ia sudah siap mental. Ketika terpublikasi tak ketat berjilbab lagi akan terima reaksi judgemental. Tapi terselip gundah. Saya memujinya "salut aku padamu mbak. Berani mengekspresikan diri. Tidak semua perempuan bisa berdaulat atas tubuhnya. Berjilbab atau tidak jangan karena terpaksa". Ia terkesima. Mungkin tak menduga ada penghargaan untuknya. Matanya berkaca-kaca.

Begitulah anomali sekarang. Jaman semakin maju, tetapi kebebasan perempuan dalam memilih pakaian sendirinya saja susut. Pakai baju, sampai jadi keputusan besar seperti mau menikah. Sudah siap berhijab belum. Yang siap langsung sah, tapi jaga dan lekatlah selamanya. Melepas hijab itu bagaikan bercerai. Berat, mengguncang jiwa. Iki opo......

Begitulah bila pakaian sudah ikut beragama. Tiba-tiba ada baju muslim, sekonyong-konyong marak hijab syar'i. Hasil perhelatan bisnis kapitalis dan penafsir agama yang mengukuhkan konsep penyeragaman tunggal tentang aurat wanita. Sebuah paham skripturalis yang mengutamakan simbol daripada esensi. Persoalan ini tidak terjadi di era orang tua kita.

Agama memang sudah ramai dipakai tema dagangan. Mulai makanan, toiletry, pakaian, perumahan hingga pemakaman. Produk-produk barang dan jasa diberi lebel syariah dan halal. Ada kerudung halal, kulkas halal (hadeuh). Banyak kelucuan. Termasuk penjurian produk shampoo Sunsilk Hijab Hunt, yang sama sekali tak menilai rambut kontestan. Hahaa.. Lalu kita yang menggandrunginya percaya ini jalan ke syurga? Ini trik iklan belaka, Ratna!

Kepada yang berkata, saya pakai jilbab karena kesadaran sendiri, bukan. Anda berpakaian pasti karena faktor lingkungan. Lingkungan yang mengkonstruksi anda bahwa itulah bentuk pakaian yang tepat dalam agama. Anda merasa nyaman dan tentram, bagus. Tetapi baik juga untuk mengerti bahwa tafsir yang ustad anda sampaikan itu bukan final. Ulama moderat, sufistik, kontekstual bisa tak sepandangan. Contohnya siapa, balik lagi, mereka yang hidup di era sebalum kita. Buya Hamka, kyai Hasyim Asy'ary dan seterusnya.

Saya jadi membayangkan sosok Najwa dan Najela, adik kakak putri mufassir kenamaan tanah air, Prof. Dr Quraish Shihab. Yang satu tak berhijab, yang lainnya berhijab. Sama-sama punya kiprah cukup luas di ruang publik. Secara agama mana diantara keduanya yang lebih baik? Sungguh ini bukan perkara yang penting untuk dibanding-banding. Soal agama dan ketakwaan, wilayahnya berada paling dalam di pribadi setiap insan. Tak bisa hal itu dinilai manusia yang hanya mampu melihat permukaan.

Yang jelas, simbol itu mudah, simbol itu murah. Tak mesti mengerti dan berfikir dalam-dalam, siapa pun bisa memakai jilbab atau hijab. Simbol kesolehan? Bukan. Orang jahat dan koruptor banyak berhijab. Yang suka ingkar janji, yang fitnah, banyak berhijab. Maka dalam kacamata hakikat, tak ada yang lebih utama dari berhijab atau tidak. Simbol itu bukan representasi kualitas diri. Karena puncak dari iman dan islam, adalah IHSAN, yaitu: aktualisasi kebaikan dalam sikap dan perbuatan.

Sumber : Status Facebook Nisa Alvis

Friday, May 17, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: