Saat Iriana Menyapu Di Istana Negara

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Saya dapat cerita dari mereka yang sering jumpa orang-orang di lingkaran satu. Katanya, Iriana kerap bikin paspampres tunggang-langgang.

Bayangkan, di waktu senggang di Istana Bogor, Iriana gak segan ambil sapu dan menyapu halaman. Paspampres lintang-pungkang berlari dan meminta Iriana menghentikan tindakannya. Iriana protes: saya lagi senggang, mosok ndak boleh nyapu halaman?

Indonesia memang memuja Amerika Serikat secara berlebih. Gambaran tentang seorang Ibu Negara begitu tinggi, mulia, agung, tak diperkenankan melakukan apa yang dilakukan ibu rumah tangga biasa. Beda dengan penghuni Downing Street No. 10 di London. Jika Anda nonton film tentang Margaret Tatcher, terlihat dia sering masak air di ketel dan membuatkan suaminya teh saat sarapan. Di beberapa kesempatan bahkan Maggie sendiri yang menyiapkan penganan mereka berdua.

Anda boleh percaya atau tidak dengan cerita tentang Iriana menyapu halaman Dyah Bayurini di Istana Bogor. Saya sendiri cenderung percaya. Iriana memang seperti itu. Bagaimana saya memastikannya?

Dalam acara Mata Najwa di episode Rahasia Keluarga Jokowi, Najwa memutar video rekaman kunjungan kerja Iriana ke berbagai daerah. Itu biasa, gak ada hebohnya. Dari Bu Tien sampai Bu Ani juga melakukannya. Tapi acara yang terselip di sana bikin saya nganga.

Seperti suaminya, Iriana sering bikin kuiz, juga membagikan hadiah sepeda. Jokowi bertanya tentang nama ikan, nama suku bangsa, dan hal-hal semacam itu. Iriana? Jauh beda. Dia mengajukan acara bermain peran. Pasti lucu, Itu biasa. Yang gak biasa Iriana gendeng pol, melebihi perempuan paling urakan mana saja yang pernah saya jumpa.

Coba bayangkan: Iriana menyuruh seorang lelaki mengucapkan kalimat pengingat atau nasehat agar kekasihnya tidak nyebur ke dunia narkoba. Trus siapa yang jadi kekasihnya? Ya Iriana. Maka terdengarlah ungkapan cinta lelaki sialan di situ kepada Iriana. Masih kurang gendeng? Iriana menyahuti lelaki itu sebagai kekasihnya. Mereka bermesra-mesra dalam ucapan. Gelo. Sampeyan iku istri Presiden, Bu.

Kuiz serupa berlangsung di kota lain. Di sana Iriana bahkan melakukannya di depan Jokowi, yang lalu tertawa terbahak-bahak hingga nyaris mengucurkan airmata. Iriana menikmati sangat ‘game’ yang disajikannya. Lawan mainnya juga tak kalah gendeng. Saya tertawa nyaris hilang ingatan.

Apa salahnya Iriana bermain game seperti itu? Gak ada yang salah kalau dia cuma ibu rumah tangga biasa. Lain halnya karena dia seorang Ibu Negara. Jangankan perempuan, bahkan serenceng lelaki bekas Presiden, dari Soekarno hingga Jokowi, gak ada tuh yang menyajikan acara “bermain peran” lalu beradegan ucapan-ucapan mesra bersama peserta yang ditunjuknya. Gak ada. Wis percoyo aku: gak ada.

Lha ini perempuan…, dari kota Solo, trus seorang nenek pulak.

Iriana gak pernah menjadikan posisinya sebagai sesuatu yang membuat dia berbeda dengan ibu-ibu lain. Kalau lagi senggang, ya nyapu halaman. Terserah, Gak peduli aku istri Presiden, aku bersihkan halaman. Gila kalau aku malah diharamkan mengerjakan hal-hal semacam itu. Sing gendeng iku yo Paspampres karena nglarang-nglarang aku.

Jangan heran kalau dia megol-egol di Asmat dengan sebuah gerakan, yang sama sekali tak umum bagi perempuan Indonesia. Saya mantan penari di masa SMA hingga Mahasiswa, fasih membedakan gerakan mana yang berkualitas penari, mana yang dilakukan sekadar demi kepantasan, dan mana yang meruap dari hati, dari jiwa, dari sukacita tak mengada-ada dalam diri.

Iriana jelas bukan penari. Gerak bahu dengan gerak pinggang dan gerak kaki tak selaras di banyak bagian. Tapi perhatikan gerak bahunya bersanding pose leher, dan dengan tangan yang bergetar teratur. Sesekali kepalanya bergerak menunduk—nyaris tak terlihat, mengabarkan ketakjuban hatinya kepada apa yang tersaji di depan. Iriana menari dengan rohnya. Dalam istilah Batak, saat itu Iriana sedang “siar-siaron”.

Jelas Iriana tidak kesurupan. Tapi tubuhnya kewalahan mengendalikan gejolak yang tiba-tiba hadir oleh dentum tetabuhan dari teriakan purba. Raganya menyahuti tarian itu. Dia tak punya tenaga untuk mengukuhkan posisi sebagai istri presiden, sebagai Ibu dari negeri berpenduduk ratusan juta orang. Dia tak berdaya menjaga kehormatan seturut posisi yang disandangnya. Hatinya yang bersih dan jernih merubuhkan semua batasan itu. Jiwanya menari, menyambut derap purba dari tetabuhan anak bangsa.

Jadi, gak usah heran kalau suatu saat kita mendapati Iriana sedang nyapu halaman wisma yang diitinggalinya bersama Jokowi di Istana Bogor. Gak usah kaget kalau tiba-tiba dia ngelucu urakan bersamamu. Jangan jantungan kalau gak ada angin--gak ada hujan, tahu-tahu dia njitak kepalamu dari belakang sambil berucap guyon.

Iriana ya seperti itu, menjadi dirinya di setiap abad dan tempat.

Kita semua takjub, terpukau, memuja kesederhanaan Iriana. Tapi lagi-lagi dengan semua keterpanaan itu kita pampangkan kemunafikan kita.

Adakah di antara kita yang lalu kepingin seperti Iriana: naik pesawat di kelas ekonomi, mengabaikan semua kehormatan semu untuk sepenuhnya jadi manusia, menyambut hangat setiap sapaan—tak peduli seaneh apa pun itu?

Adakah dari kita yang kepingin menemukan jodoh seorang perempuan seperti Iriana?

Lebih jauh lagi, adakah dari kita yang berharap bermenantukan seorang perempuan seperti Iriana.

Gak ada. Yang sederhana ya biar Iriana saja. Aku, istriku, menantuku, harus canggih.

Gombal!

Kon iku telek asu tenan.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian
#AkuIriana170419TDH

Sunday, February 10, 2019 - 12:45
Kategori Rubrik: