Saat Ini Semua Berakhir, Kami Akan Memelukmu Rakyat China

ilustrasi

Oleh : Herry Tjahjono

Tatkala Covid-19 baru mewabah di China, banyak sikap diskriminatif yang menyakitkan di Italia pada orang China (bahkan pada orang Indonesia berwajah Cina). Bahkan ada yang diusir-usir. Mereka dianggap pembawa wabah.

Tapi kurang dari sebulan, virus itu menyapa Italia, dan menghajar mereka tanpa ampun. Ironisnya, yang melanda mereka ternyata bukan ditularkan oleh ras kulit kuning.

Pemerintah dan rakyat Italia panik serta kalang kabut. Mereka mencari sekutunya untuk mohon bantuan. Jerman dengan tegas menolak karena stok obat, masker, pakaian pelindung dan alat bantu pernapasan mereka juga sangat terbatas.

Mereka memohon kepada Perancis. Ditolak. Bahkan konon, dua kali mereka menghubungi Amerika. Ditolak.

Di tengah keputusasaan dan kepanikan, akhirnya mereka memberanikan diri menelpon menteri kesehatan China. Setelah berbincang cukup lama, sang menteri menjanjikan akan memberi kabar secepatnya. Dan hanya berselang satu hari kemudian, sang menteri menelpon balik : permintaan bantuan sudah disetujui.

Dan pada hari Kamis malam tanggal 12 Maret 2020, pesawat Southern China sudah mendarat di Roma membawa dokter, anggota palang merah China beserta 31 ton peralatan medis dan obat-obatan bantuan dari pemerintah China.

Kini rakyat Italia menyatakan penyesalannya, mengekspresikan terima kasihnya, dan mereka banyak menulis di laman-laman FB :

"Kemarin kami menolak dan mengusir kamu. Saat ini kami menyadari kesalahan kami dan ingin berterimakasih padamu.
Dan saat semua ini berakhir, kami ingin memeluk kalian 1,4 miliar rakyat China."

Cinta dan kemanusiaan sesungguhnya melampaui sekat ras, suku dan agama sekalipun.

China telah mengajarkan tentang cinta dan kemanusiaan di muka bumi.

Sumber : Status Facebook Herry Tjahjono

Saturday, March 21, 2020 - 10:45
Kategori Rubrik: