Saat Eddy Prabowo Tertangkap, Publik Ingat Susi

ilustrasi

Oleh : Tito Gatsu

Semenjak dulu saya selalu berpikir bahwa jiwa Nasionalis tidak harus dibentuk oleh partai politik dan pendidikan yang tinggi karena di Indonesia sejak masa Orde Baru telah terjadi penyelewengan besar - besaran Terhadap makna nasionalisme (kapan-kapan jika ada umur akan saya bahas).

Justru Partai politik harus berubah haluan dengan mengedepankan nasionalisme bukan lagi konsituen untuk mencapai parlementary treshold. Karena jika ini dipertahankan Omong kosong dengan Nasionalisme !! Mau bukti?

Jelas -jelas pada 2 x pemilu ditambah 2x Pilkada (DKI dan Sumut) Kita menghadapi kepungan Identitas yang bernuansa SARA , dimana nasionalismenya? Seolah - olah menghadapi pilihan imajiner , Saya meminjam istilah Amien Rais dengan pilih Partai Tuhan atau Partai Setan? Belum lagi para dagelan politik yang bersorban dan mengaku ustad sibuk ikut mencari konsituen di akar rumput untuk menjual agama padahal semua demi suara untuk kepentingan yang Ingin menikmati kekuasaan.!! Nyata kan nasionalisme berusaha dikaburkan.

Kemudian bagaimana bisa dikatakan seseorang Itu Nasionalis jika dia kebetulan seorang Pejabat Negara yang punya relasi bisnis yang luas dan kekayaan pribadi yang terus bertambah dengan memanfaatkan birokrasi? Kemudian bagaimana seseorang akan bisa menjadi seorang Pejabat Negara yang Nasionalis jika orientasinya hanya masalah materi dan kekuasaan ?.

Tapi Itulah kenyataan kaderisasi Pejabat yang ada di Indonesia dari mulai masalah pilihan jurusan di Sekolah lanjutan Atas saja sudah ada penganak tirian siswa SMA jurusan IPA seolah -olah lebih pandai dari jurusan IPS, (Maaf biasanya seorang anak jurusan IPA kurang punya minat dalam berpolitik biasanya Ingin jadi teknokrat dengan bayaran yang besar itupun tidak berhenti disitu pada saat seorang siswa diterima di Universitas negri akan dinilai lebih hebat dari lulusan Swasta apalagi Swasta yang murah , misalnya lulusan ITB pasti dianggap hebat padahal belum tentu , liat Aja Rizal Ramli, tetep aja percaya Hoax atau penyebar hoax? (bukan juga gara-gara saya pernah ditipu dosen ITB yang juga lulusan ITB ya! sungguh menyedihkan proses feodalisme di Indonesia . Semuanya diukur dengan Identitas.

Kemudian gurita bisnis Masa lalu seperti migas, Industri sampai dengan kucuran kredit untuk masyarakat tak lepas dari kontrol birokrasi pemerintah yang jelas sarat KKN asal bisa dekat dengan kekuasaan semuanyapun lancar.

Saya justru melihat seorang Nasionalis adalah seorang yang punya Jiwa kemanusiaan yang tinggi , Mohon Maaf jika seorang Ulama belum tentu Nasionalis karena mana mungkin sih seorang Nasionalis berlaku tidak adil Terhadap sesama anak bangsa misalnya mendahulukan muslim daripada non muslim malah sekarang muslim.212 yang harus diprioritaskan oleh para ondel-ondel , mana mungkin seorang nasionalis lebih mendahulukan keyakinannya dari rasa kebangsaannya. Hmm Saya tak perlu menjelaskan lebih jauh jika seorang mentri tertangkap KPK yang ternyata memfasilitasi rekan-rekan politisi apalagi separtainya , cukup katakan "Omong Kosong dia seorang patriotik apalagi nasionalis!!".

Saya Tetap menilai bahwa seorang nasionalis dilihat dari hal yang terkecil adalah seorang yang cinta sesama , saya mengagumi Susi mantan Menteri Kelautan dan Perikanan ketika menggendong seorang perempuan lanjut usia (lansia) menuju pesawat sempat ramai diperbincangkan pada 2014 silam.Perempuan lansia yang digendong Susi ialah ibundanya sendiri, Hajah Suwuh Lasminah. Belum.lagi upaya beliau membantu korban Tsunami Aceh tanpa pikir Panjang dengan mengerahkan seluruh pesawatnya.

Bahkan beliau mau menggendong Ibunya sendiri untuk menaiki pesawat yang akan diterbangkan ke RS , lalu apakah Susi tidak mampu membayar orang untuk menggendong Ibunya ? Tentu tidak mungkin! tapi Itu karena dia seorang yang memiliki jiwa Patriotik , Nasionalis dan sangat mencintai sesama oleh karena selama dia mampu dia berbuat akan dia lakukan Itulah jiwa seorang patriotik pasti kita akan menemukan sifat yang sama dengan presiden Jokowi. Mereka sama-sama bukan tipe borjuis yang senang dilayani.

Saya pernah melakukan survey sendiri kepada para pedagang ikan di lokasi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pangandaran Jawa Barat mereka memiliki kesan tersendiri kepada sosok Susi Pudjiastuti. Menteri Kelautan Perikanan ini, menurut pedagang, dinilai sebagai sosok penolong.

Susi sejak menjadi bakul ikan pada tahun 1983an, suka menolong pedagang ataupun nelayan yang ikannya sudah tidak laku. Susi bersedia menampung atau membeli produk ikan disaat para bakul ikan lain menolak membeli. Susi juga berani membeli ikan dengan hasil lelang tertinggi.

"Dia orang baik dari dulu. Dia penolong. Kalau jualan nggak laku, dia yang beli dan ditampung Karena dia tak sanggup melihat kami susah" kata para nelayan.

Selama menjabat, Susi juga mengeluarkan larangan ekspor benih lobster melalui Permen KKP No. 56/2016 tentang Larangan Penangkapan dan/atau Pengeluaran Lobster (Panulirus Spp.), Kepiting (Scylla Spp.), dan Rajungan (Portunus Spp.) dari Wilayah Republik Indonesia.[34]Susi beralasan ekspor benih lobster akan membuat kerusakan ekologi karena permintaan dari luar negeri yang sangat tinggi menyebabkan eksploitasi besar-besaran. Selain itu, ekspor benih lobster juga hanya akan menguntungkan petambak negara lain karena harganya sangat tinggi saat dewasa.

Itulah perbedaan cara berpikir seorang yang punya Jiwa kemanusiaan dan bukti merupakan modal dasar cara berpikir Nasionalis akan selalu berpikir untuk rakyat kecil dan kepentingan bangsanya, berbeda dengan penggantinya yang ditangkap KPK selain selalu menjelekan ibu Susi juga mengekspor benih lobster untuk bancakan para koleganya .

Orang punya Jiwa Pemimpin dan nasionalisme seperti Ibu Susi dan Pak Jokowi adalah jauh lebih Penting daripada seorang Ulama, berpendidikan Tinggi bahkan seorang profesor dan Jendral sekalipun apalagi Pemimpin binaan Orde Baru Karena seorang Nasionalis Seperti Susi mereka rela mengorbankan diri untuk sesama tanpa menghitung Untung dan rugi apalagi nyinyir kayak Fadli Zon.
Merekalah para Pemimpin langka yang memang Kita butuhkan untuk Indonesia untuk saat ini.

Sumber : Status Facebook Tito Gatsu.

 

Thursday, November 26, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: