Saat Anak Jadi Sasaran Kekesalan Sang Guru

ilustrasi

Oleh : Mimi Hilzah

Anak lelaki saya yang tampan lainnya kemarin petang menceritakan pengalamannya ditaklukkan oleh guru-gurunya hingga jatuh di lantai semacam seorang pelaku kejahatan yang hendak dilumpuhkan, hanya karena perkara ia berani bersuara.

Di mushalla sekolah mereka sedang shalat azhar. Seorang staf melaporkan dua anak yang tampak bermain-main ketika shalat. Seorang guru muda maju dan menampar mereka berdua sambil berteriak; Ibuku baru saja meninggal dan kalian bermain-main waktu shalat??!

Anak saya yang terkejut melihat kejadian itu spontan berteriak; Sir, kenapa kasar sekali ki'?

Pertanyaan itu dianggap sebagai pembangkangan dan si guru balik menyerang anak saya. Sekuat tenaga ia menahan tangan si guru agar tidak mengenai dirinya. Tetapi setelahnya ia justru dirundung oleh guru yang lain, diancam dan ditantang berkelahi di luar sekolah.

Anak saya diperingatkan bahwa itu bukan urusannya. Anak saya tak terima bahwa perlakuan itu sama sekali tidak pantas.

Lalu yang paling membuat saya jatuh kecewa, wali kelasnya sendiri berkata; seperti itu anak-anak dididik di sini.

Anak saya akhirnya dilumpuhkan di lantai semacam seorang pesakitan.

Pertanyaannya; orang tua mana yang kemudian pernah berkeinginan menitipkan anak-anak mereka dididik dengan cara-cara brutal?

Saya kemudian menyesali ratusan kali di mana saya memintanya untuk bersabar dan mengerti posisi seorang guru. Saya yang selalu berusaha berbaik sangka pada guru biar bagaimana anak saya mengkritisi sikap-sikap berlebihan yang diperolehnya. Saya ajarkan untuk tetap berlaku baik dan sopan, mengalah bukan berarti kalah. Tegakkan adab, sebisanya menghindar dari masalah. Taati aturan sekolah betapapun tidak menyenangkan.

Tapi maaf saja. Saya cukup sadar diri untuk tidak melakukan tindakan kekerasan kepada anak-anak saya dengan alasan sebagai orang tua saya berhak. Walaupun berat dan butuh ribuan kali jatuh bangun menguatkan diri sendiri, mereka mati-matian saya ajarkan menjadi manusia dan memanusiakan manusia lain. Mereka sesekali berbuat teledor, masih ada banyak sekali jalan dan cara untuk menegur mereka tapi tak menjatuhkan harga diri mereka. Bukan sekadar menghukum keras tapi membuat mereka menyimpan sakit dan dendam. Ajarkan tentang tanggung jawab dan konsekuensi. Ajarkan tanpa dengan kekerasan.

Bersyukurlah jika anak-anak kalian masih berani bersuara ketika melihat ketidakadilan dan tindak kekerasan. Atau mereka harus menghadapi trauma yang akan sulit mereka selesaikan entah sampai usia berapa.

Entahkah mereka menjadi seorang manusia yang gagal menghargai dirinya sendiri, entahkah mereka mencontoh tindak kekerasan itu sebagai pelampiasan luka-luka batin mereka oleh sebab perlakuan buruk yang pernah mereka terima.

Saya menjawab ancaman guru-guru tersebut dengan ancaman. Bahwa anak saya tidak selevel dengan mereka, bahwa sangat tidak adil menantang anak didik sendiri. Saya tidak akan menerima terkecuali urusan ini diselesaikan melewati proses yang benar.

Guru-guru hebat ini akan menghadapi ancaman tuntutan yang sangat serius. Dan saya sangat beralasan. Jalur-jalur pengaduan yang bisa kami tempuh terpampang jelas.

Dinas Pendidikan. Komisi Perlindungan Anak. Kepolisian.

Mau jadi apa bangsa ini kalau ada oknum guru yang hanya bisa meruntuhkan mental anak dan sangat besar kemungkinannya menggiring anak-anak menjadi penjahat?

Sumber : Status Facebook Mimi Hilzah

Friday, October 18, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: