Saat Alumni UI Minta Gaji Tinggi

ilustrasi

Oleh : Aldira Maharani

Hanya karena kamu lulusan Universitas ternama, lalu minta gaji tinggi, itu bukan alasan yang tepat.

Gaji itu berbanding lurus dengan value kamu. Bukan Universitas kamu. Kalau mau gaji tinggi, ya yang kamu jual seharusnya value dirimu. Bukan kampusmu.

Kalau kamu merasa bagus banget sampai tidak pantas dibayar 8 juta. Ngomongnya tidak begitu juga.

Orang yang merasa dirinya berkualitas, tidak bawa-bawa nama kampusnya, titelnya dst. Tapi tunjukkan langsung kualitasmu.

Saya tidak pernah menggunakan ijazahku S1 Dan S2 untuk melamar kerja. Tapi sejak dulu suka ditawari pekerjaan & langsung diwawancara kerja oleh ownernya langsung. Tapi saya tolak. Bukan karena menolak gaji. Karena belum pernah sampai membahas gaji saya sudah menolak.

Apa sih sebenarnya yang saya mau dalam hidup ini? Apakah sukses itu tolak ukurnya uang saja?

Kalau bukan, bagaimana saya bisa mencapai semua aspek sukses itu dan dimana? Kalau saya kerja seharian kapan saya bisa belajarnya untuk hal yang memang saya butuh untuk pelajari?

Jadi jika pun saya mencoba pekerjaan lain, ya cuma part time saja dengan pertimbangan saya cuma mau belajar sesuatu. Saya tidak terlalu peduli dengan gajinya. Karena itu bukan tujuan utama saya.

Misalnya kamu freshgraduate, dan merasa kamu pantas dibayar mahal, kalau kamu memang berkualitas, nego dong.

Misalnya dengan bilang,

"Pak/Bu, kalau saya boleh tahu apa yang bisa saya berikan dengan apresiasi dari perusahaan senilai 8 juta itu? Jobdesk & kualifikasinya apa saja?"

Kalau sudah mereka sebutkan, dan misalnya kamu mau gaji 20 juta, tanyakan lagi,

"Kalau saya punya kualifikasi itu semua, bahkan lebih dari itu boleh saya minta gaji 20 juta?"

Tawarkan win-win solution. Kalau dari skill nego saja kamu sudah bisa dinilai kamu memang berkualitas, ya mereka pasti mempertimbangkan kamu.

Terkadang, tidak harus tunggu bekerja dulu untuk pembuktian kamu memang berkualitas. Kadang di proses wawancara itulah kamu pun bisa menunjukkan kamu berkualitas. Kalau memang kamu aslinya memang berkualitas ya.

Tidak usah norak di medsos bawa-bawa nama kampus. Justru itu menunjukkan yang bagus itu kampusmu. Bukan kamunya.

Jadi tidak melulu kita bekerja demi uang semata. Karena yang paling bahaya ketika kamu lulus kuliah dan merasa sudah waktunya bekerja dan cari uang saja. Bukan untuk belajar.

Karena bagi saya, dalam konteks ini, orang yang merasa dirinya berbakat dan tahu atasannya mudah dijilat, seharusnya percaya diri untuk upgrade diri agar bisa menyalip atasannya kalau memang tidak sudi dipimpin orang yang tidak Profesional.

Karena tidak menutup kemungkinan juga orang yang kamu anggap penjilat memang adalah orang berkualitas. Tapi kamunya yang memang tidak berkualitas lalu memfitnah orang. Mental orang kalah ya memang seperti itu.

Jadi terkadang, kita juga perlu tahu diri. Kalau memang kita tahu kita berkualitas, jangan melakukan sesuatu yang sama seperti orang pada umumnya.

Misalnya seorang freshgraduate. Tahu diri tidak pantas dibayar 8 juta dengan kualitas yang kita miliki.

Harus pintar pilih perusahaan yang mampu bayar sesuai kualitas kita. Atau pintar nego. Atau berbisnis saja. Biar bisa tentukan income sendiri.

Kalau tidak bisa melakukan 3 hal ini. Ya sadar diri saja bahwa masih banyak hal yang perlu kamu pelajari untuk meningkatkan kemampuan diri.

Sumber : Status Facebook Aldira Maharani

Sunday, July 28, 2019 - 15:00
Kategori Rubrik: