RUU MLA RI - Swiss, Kemana Mau Sembunyikan Dana Haram?

ilustrasi

Oleh : Fadly Abu Zayyan

Bagi orang waras dan mampu berpikir jernih, setidaknya sudah bisa menangkap gambar besar segala kegaduhan yang terjadi di negeri ini sejak awal pemerintahan Jokowi. Semua bermula dari keberanian dan keputusan Jokowi untuk mengembalikan Kedaulatan negeri ini. Khususnya dalam hal pengelolaan SDA sekaligus Keuangan atau Moneter.

Pertama adalah penerbitan emisi uang NKRI dengan sebelas pengaman sehingga sulit untuk di kloning. Saat uang ini diluncurkan, isu simbol PKI dalam Rupiah langsung dimainkan oleh kelompok angka togel itu. Karena apa yang dilakukan Jokowi adalah pukulan telak bagi pihak yang telah menimbun uang kloning emisi sebelumnya dan kadung disiapkan untuk skenario Politik Dinasti. Dengan terbitnya rupiah emisi NKRI, uang kloning itu akhirnya hanya menjadi lembaran-lembaran kertas yang tak ada nilainya.

Selanjutnya adalah program Tax Amnesty. Mungkin sebagian orang beranggapan program ini untuk mengejar pendapatan negara melalui pajak. Hmm.., itu hanya sasaran antara bung! Program ini sebenarnya untuk membuka topeng siapa saja yang telah menyembunyikan hartanya di luar negeri. Terutama bagi mereka yang didapatkan dengan cara haram. Yaitu mencetak uang ilegal (kloning) yang kemudian dibelanjakan US$ dan disembunyikan ke luar negeri. Inilah yang membuat Rupiah terseok-seok selama puluhan tahun akibat tingginya permintaan US$ yang dibeli dari uang haram itu.

Kemudian langkah Jokowi yang melakukan divestasi atas Freeport di Papua dan Vale di Sulawesi. Yang satu adalah cadangan emas yang bisa dijadikan sebagi kolateral untuk mencetak uang, sedangkan satunya adalah cadangan energi global di masa depan. Apabila sebuah negara mampu berdaulat di bidang Keuangan dan Energi, maka ia akan menjelma menjadi negara besar. Disinilah peran para proxy termasuk yang bertopeng SJW dan berjubah Agama untuk menghalangi kembalinya kedaulatan bangsa ini.

Dan yang teraktual adalah, pengesahan RUU MLA RI-SWISS. Dengan legal platform ini, pemerintah akan memiliki payung hukum untuk menarik aset yang telah disembunyikan di luar negeri khususnya di Swiss. Termasuk harta haram yang didapatkan dengan cara penjelasan saya diawal (uang ilegal). Sementara kalau harta yang didapat hanya didapat dari hasil korupsi, rekor dunia yang telah dicetak oleh Soeharto "hanya" senilai kisaran Rp.300 Trilliun. Namun yang tersembunyi mencapai angka hingga Rp.11.000 Trilliun. Diduga kuat, dari mana lagi kalau bukan dengan cara mencetak uang secara ilegal?

Pertanyaan penutupnya adalah, setelah rangkaian capaian yang telah diraih ini, apakah kegaduhan oleh kelompok preman berjubah Agama itu akan usai? Isu PKI dan Antek China akan mereda? Hmm.., justru prediksi saya, bohir di belakang mereka akan semakin all out untuk menjatuhkan Jokowi. Dan tantangan kedepannya justru semakin keras. Karena efek pulangnya aset itu bukan sekedar pemasukan negara dalam jumlah signifikan. Tapi juga efek domino yang akan tercipta.

Jika selama ini setiap harta yang dilarikan ke luar negeri harus dikonversikan terlebih dulu dalam bentuk US$. Begitu juga yang selama ini transaksi perdagangan antar negara selalu menggunakan alat pembayaran US$. Coba bayangkan jika yang terjadi adalah sebaliknya.

Bila misalnya aset itu dipulangkan dan dikonversikan dalam bentuk Rupiah, berapa besar permintaan "pembelian" Rupiah oleh US$. Dan jika itu terus diikuti oleh neraca perdagangan kita yang surplus dari Amerika Serikat. Ditambah lagi transaksi dengan negara lain tak lagi menggunakan US$. Dan itu juga mulai dilakukan oleh banyak negara lain yang "membuang" Dollar.

Akhirnya, saya membayangkan suatu saat nilai tukar US$ menjadi hanya satu digit Rupiah. Dan empunya Dollar tentu akan mati-matian untuk menghalangi itu terjadi. Bahkan jika perlu mereka akan menciptakan jalan perang. Baik yang simetris ataupun asimetris. Yang kasat mata atau tak kasat mata. Tapi sekali lagi, ini hanya sebuah prediksi.

*FAZ*
#SILIT

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan

Thursday, July 9, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: