RUU HIP dan Jurus Kuncian

ilustrasi

Oleh : Nun Alqolam

Dalam dunia bela diri, apakah itu pencak silat, karate, taekwondo, kempo, kungfu dan sebagainya, jurus-jurus mematikan lawan diantaranya adalah pukulan, tendangan, kuncian, senjata dan olah kanuragan. Kuncian merupakan salah satu teknik atau jurus dalam mematikan lawan. Yang mana dalam kuncian tersebut lawan dikunci, "dipithing" sehingga tidak dapat bergerak lolos. Ibarat ular Piton saat memangsa hewan lain, misal kelinci, yaitu dengan cara mengunci dulu, dililit dengan kuat lalu ditelan bulat-bulat.

RUU HIP ini terjadi pro dan kontra. Fenomena yang menarik dalam suasana pro kontra adalah adanya suatu ormas yang sebelumnya anti Pancasila (yaitu HTI, dkk), yang abu-abu dengan Pancasila (FPI dan sejenisnya), kok sekarang mendadak bela Pancasila. HTI yang sebelumnya menuduh Pancasila toghut (berhala), kok saat ini koar-koar bela Pancasila. FPI yang sebelumnya menghina Pancasila dengan plesetan PANCAGILA dan agenda NKRI Bersyariahnya (bukan NKRI sebagaimana saat ini), kok mendadak membela Pancasila? Ada apa gerangan dibalik semua ini?

Jika diamati episode demi episode sepak terjang HTI dan sejenisnya, selama ini mereka dicap sebagai anti Pancasila, anti UUD 1945, anti NKRI, dan anti demokrasi. Sehingga posisi mereka terpojok. Namun saat terjadi "prahara" RUU HIP mereka (HTI, dkk) mencoba cari panggung, dengan mendadak menjadi Pancasilais, mendadak bela Pancasila dan mengklaim sendiri bahwa merekalah sang pembela Pancasila sejati.

Taktik tersebut dilakukan dengan cara membangun opini publik, untuk meyakinkan umat dan rakyat bahwa merekalah "sejatining" pembela Pancasila. Sedangkan pemerintah, PDIP dan kelompok Islam moderat diframekan sebagai pendukung Trisila, Ekasila (pendukung komunis gaya baru). Yang ujung-ujungnya (goal design) adalah menggulingkan pemerintahan untuk selanjutnya mengambil alih kekuasaan. Jadi, judulnya adalah sok Pancasilais, Pancasilais dadakan atau mendadak bela Pancasila.

Jika dipikir secara cermat maka keberadaan RUU HIP dengan segala kontroversinya, ternyata terdapat "energy power" dalam penguatan Pancasila dengan jurus kuncian. Bagaimana ini bisa terjadi?

Ketika sebelumnya HTI, dkk, anti Pancasil, tiba-tiba sekarang kok sok sebagai pembela Pancasila, maka pernyataan mereka itu harus dikunci. Mereka diajak semacam "teken kontrak" bahwa dengan jujur, dengan bersumpah akan membela Pancasila sampai kapanpun. Jadi, HTI, FPI dan sejenisnya dibuat semacam "kontrak kesepakatan" untuk setia kepada Pancasila selama-lamanya.

Ketika mereka sudah "teken kontrak", ini sebenarnya kita (pembela Pancasila sejati (asli) dan pembela Aswaja) sudah menang. Ketika sudah menang dengan kesepakatan dengan HTI, dkk tadi maka apakah RUU HIP akan dibatalkan, dihapus atau ditunda, sebenarnya tidak terlalu bermasalah. Karena kesepakatan dengan kelompok anti Pancasila dan mendadak menjadi Pancasilais, tadi sudah ada "teken kontrak" nya. Sehingga jika mereka ingkar janji, kembali menghujat Pancasila misalnya, maka tinggal kita perlihatkan "naskah perjanjian atau teken kontrak" sebelumnya.

Jadi naskah "teken kontrak" tersebut semacam sumpah setia kelompok HTI, dkk untuk selalu konsisten menjaga, mempertahankan dan mengawal Pancasila di bumi pertiwi ini, sampai kapan jua.

Jika toh RUU HIP ini bukan ditunda tapi dihapuskan total misalnya maka sebenarnya tidak masalah. Karena ke depan bisa membuat RUU Penguatan Pancasila, misalnya.

Jika dulu ada program Penataran P4 maka saat ini bisa dibuat semacam "Program Pendalaman dan Pengaplikasian Pancasila" yang diwajibkan bagi seluruh komponen dalam republik ini.

Jadi dengan membingkai HTI, dkk yang sepakat dengan "Bela" Pancasila, maka dituntut secara konsisten untuk membela Pancasila sampai kapanpun. Jangan nanti setelah RUU HIP jika memang harus dibuang (tidak ada pembahasan lagi), jangan sampai mereka kembali ke khilafah.

Untuk itulah saat mereka koar-koar membela Pancasila, saat itulah harus dikunci. Sehingga jika mereka berubah (ingkar janji, ingkar kesepakatan) dan menjadi anti Pancasila lagi, maka tinggal ditunjukkan pernyataan atau janji mereka dulunya. Sehingga terkuncilah dia, HTI, dan sejenisnya.

Sumber : Status Facebook Nun Alqolam

Thursday, July 2, 2020 - 10:45
Kategori Rubrik: