Rusaknya Wajah Toleransi

ilustrasi

Oleh : Aldira Maharani

Ribuan massa di Medan kemarin menggelar aksi demonstrasi dengan membawa spanduk bertulisan, Save Babi di depan DPRD Sumut.

Aksi ini sebagai bentuk protes, akibat rencana pemerintah setempat yang ingin melarang makan babi makanan khas daerah Sumut.

Lalu bagaimana tanggapan saya terkait ini.

Begini,

Permasalahan ini sudah merembet kemana2 dan yang menjadi korban adalah babi.

Padahal babi itu nggak salah. Babi itu makanan khas orang batak dan sudah jadi tradisi saat menggelar acara adat dan tidak bisa diganti dengan binatang lain.

Saya heran, kenapa babi yang diurusin? pelihara nya kan nggak disembarang tempat, dan si babi tidak berkeliaran di jalanan. Nggak seperti ganja yang sudah jelas akan merusak generasi bangsa. tapi kenapa malah babi yang lebih dominan di usik?

Kebijakan pelarangan babi di Medan membuat nilai toleransi di negeri kita punah. mau makan mau tidak sesuai keyakinan masing2 saja, gak usah di buat aturan yang sifat nya memecah belah.

Semakin hari semakin menyedihkan Republik ini dengan maraknya Intoleransi. Padahal sejatinya Indonesia lahir dan tumbuh dalam keragaman agama dan suku bangsa. Semua anak bangsa sejak dulu sudah hidup berdampingan dalam damai.

Jika berbicara tentang agama itu adalah ranah privat dan urusan pribadi antara manusia dengan Tuhannya. Nggak usahlah mengurusi agama, adat istiadat, dan kebiasaan orang lain.

Perbaiki saja amal ibadah dan budi perkertimu sendiri daripada mengurusi akidah dan keyakinan orang lain.

Di setiap agama selalu saja ada orang bodoh dalam beragama, bodoh dalam artian sok paham dan tidak mau paham.

Dan di agama apapun kita bisa menemukan mereka dalam berbagai macam profesi seperti ustadz, pendeta, biksu, pastur, dll.

Sifat manusia bodoh ini selalu mengukur sesuatu hanya dari sudut pemahamannya saja, pemahaman kebenaran versi dirinya dianggap pemahaman absolut yang pasti benar, padahal tidak ada kebenaran yang mutlak di dunia ini, hanya Tuhan dan Nabi nya saja yang memiliki kebenaran mutlak.

Bagi saya, semua kebenaran di dunia ini adalah kebenaran relatif, bahkan penafsiran kitab suci adalah kebenaran relatif karena merupakan produk dari ahli tafsir berdasarkan riwayat dan ijtihad proses akal mereka, karena perbedaan tafsir inilah maka dalam setiap agama memiliki bermacam cabang agama, di agama Islam disebut mazhab.

Orang bodoh, rasis, intoleran dalam beragama tidak mengerti akan kebenaran relatif. yang lebih celakanya jika si bodoh ini ikut-ikutan membicarakan Tuhan agama orang lain, memahami agamanya saja dia masih bodoh apalagi membahas agama orang lain.

Kebodohan manusia seperti ini diikuti oleh orang-orang yang tidak paham, kemudian diucapkan berulang-ulang dan menjadi kebenaran bagi mereka.

Hidup ini sangat luas sahabat, syukurilah keluasan hidup ini dan bergembiralah dengan semuanya.

Agama apapun mengajarkan kebaikan dan kemuliaan, dan yang menjadi musuh terbesar kita adalah bukan perbedaan agama, tapi musuh terbesar kita adalah orang bodoh yang rasis, intoleran dan terlalu fanatik dalam beragama kemudian salah kaprah dalam meyakini keimanan nya sehingga mereka selalu merasa benar, sok suci dan berhak menghakimi orang lain yang berbeda dengannya.

Jika Intoleransi semakin marak terjadi, saya kawatir NKRI Harga Mati sebentar lagi tinggal Slogan. Dan toleransi itu jangan cuma digembar gemborkan saja, tapi harus diaplikaskan dalam kehidupan sehari2. Jangan sampai toleransi tercabik-cabik dan tenun kebhinekaan terkoyak.

Pemerintah juga jangan sampai menutup mata terhadap kelompok dan ormas yang intoleran. Jika ini dibiarkan maka akan berakibat kesombongan kelompok2 yang merasa paling suci, paling benar, paling mayoritas.

Saya sangat menyayangkan di periode kedua ini semakin meningkat aksi intoleran yang dibiarkan oleh pemerintah.

Wajah Toleransi sudah rusak dan intoleransi yang selalu mengatasnamakan agama, padahal sudah jelas bahwa negara ini adalah negara Pancasila bukan negara agama tapi kenapa segala tindakan intoleran dan kebijakan tendensi agama tetap dibiarkan saja.

Benih2 perpecahan antar anak bangsa sudah mulai terlihat. Jika kelompok radikal, rasis, intoleran, berbuat semena2 mengatasnamakan pemerintah setempat untuk buat aturan yang menekan kaum minoritas, negara tidak pernah hadir jika terjadi seperti ini, mereka diam, dan menutup mata.

Inilah yang membuat saya kecewa dengan pemerintah pusat sampai daerah, tidak adanya aksi nyata terhadap kerukunan antar umat beragama.

Sumber : Status Facebook Aldira Maharani

Tuesday, February 11, 2020 - 11:15
Kategori Rubrik: