Rusak Susu Sebelahnya

Oleh: Sunardian Wirodono

 

 Apakah hanya ada keburukan di Indonesia, seperti aksi-aksi kebodohan kadrun? Tidak selalu. Saya setuju ucapan Prof. Yudian Wahyudi, Kepala BPIP (yang dituding mempertentangkan Pancasila dengan agama, padal yang nuding acap melakukan pendustaan), bahwa kelompok kadrun sebenarnya minoritas. 

Tapi minoritas terorganisasi, dan suka keributan, tentu tampak lebih menonjol dibanding masyarakat diam. Apalagi di medsos dan ILC. Coba di kelas-kelas sekolah, murid yang brengsek mungkin tak lebih dari 5, tapi seluruh kelas bisa ikutan tertuduh. Gara-gara nila 2%, rusak susu 98%! Padal susu yang tidak 100%, nggak enak ‘kan? Kan!

 

Orang baik sejati, tak suka pamer. Apalagi ngasih amplop dan bawa-bawa wartawan, yang sekarang disebut jurnalis. Kalau kerja di koran mustinya koranis, di majalah disebut majalahis. Wong mbaca juga kagak pernah, apalagi nulis di jurnal. Disebut wartawan dibilang kuno, padal cara mikirnya masih analog. Disebut kuli-tinta, yang nyebut kebangetan wong sekarang pakai gadget. 

Suami BCL, Ashraf Sinclair almarhum, contoh orang baik yang baru saja kita tahu setelah kematiannya. Itu pun yang cerita bukan BCL, yang kagak tahu babar-blas. BCL malah nangis kekejer mendengar cerita pengurus Yayasan Panti Asuhan yang sering disambangi dan disumbangi Ashraf diam-diam.

Apakah dari Tanah Minang cuma cerita buruak-buruak, yang membuat Andre Rosiade terkenal? Tidaklah. Belum lama lalu ramai di medsos, seorang Kapolres di wilayah Sumbar, bisa mengharu-birukan merah dan kuning kita. Laras, anak kecil yang jualan kue, menangis sedu-sedan mengetahui pindah tugas Kapolres itu. Selama bertugas di Mapolres Padang Panjang, AKBP Cepi Noval SIK., selalu ngeborong abis onde-onde dagangan Laras.

Belum lagi kalau kita mendengar cerita tentang Ahok. Bukan soal bagaimana memberangkatkan umroh para marbot dan pembelaannya pada rakyat kecil ketika sebagai pejabat publik. Para kadrun mungkin hanya kenal Ahok yang suka bilang ‘nenek lu!’, tapi pasti nggak mau tahu, bagaimana Ahok meminta tolong orang lain untuk selalu mengecek kondisi seorang nenek yang tinggal seorang diri di rusun. Ahok menanggung hidup dan kebutuhan nenek itu. 

Bukan hanya nenek, tapi juga beberapa anak Betawi-wi yang miskin tapi ingin terus sekolah. Kalau Ngkong Ridwan Saidi juga ingin terus sekolah gimana dong? Jangan kasih bantu, Koh, nanti dia maksa jadi guru. Bisa ancur berkeping peradaban! Masih inget filsuf kawe yang suka nongol di ILC? Bandingkan dengan Ibu Karlina Supeli, yang bisa menjelaskan dengan bahasa sederhana, mengenai filsafat yang mencerahkan dan bukan menggelapkan. Menggelapkan biasanya dari orang dungu nuding orang lain dungu.

Anggota DPR yang baik, mungkin juga ada. Tapi gara-gara sebiji Zon, rusak susu sebelahnya. Padal, emang majoritas nila. Susunya mah cuma setitik, atau dua titik sebagaimana umumnya susu manusia. Jangan lelah menyintai susu, eh, Indonesia ding! 

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)

Saturday, February 22, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: