Rupiah Melemah Itu Isu Hoax Yang Sudah Terbantahkan

Kepala Ekonom PT Bank Central David Sumual mengatakan, pelemahan rupiah kali ini tidak begitu berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Sebab, seiring dengan melemahnya rupiah, pemerintah menjaga harga-harga terutama makanan agar tetap stabil.

"Tahun ini gaji kan naik, harga-harga juga cukup terjaga meski pemerjntah kalau di beras harga naik sedikit lakukan intervensi," jelas dia ketika dihubungi Kompas.com Selasa, (4/9/2018).

Dia menjelaskan, yang benar-benar akan merasakan dampak dari pelemahan rupiah adalah masyarakat kalangan menengah ke atas yang memiliki gaya hidup konsumsi barang-barang impor. "Jadi sebenernya yang terkena dampak pelemahan ya masyarakat kelas menengah atas yang kebanyakan impor, memakai barang-barang lux (mewah), jalan-jalan ke luar negeri. Kalau masyarakat menengah ke bawah mereka kan kebutuhan makan tetap tercukupi, harga-harga makanan kan terjaga," ujar dia.

 

Oleh : Sadhu

Ini fakta saat menteri keuangan dan BI mengadakan raker dengan DPR. Tadinya DPR sudah siap menyerang dengan issue kurs melemah. Tetapi setelah dijelaskan oleh SMI dengan data yang ada, akhirnya DPR menyetujui semua asumsi RAPBN tahun 2019.

 Apa yang menarik dari Raker, seakan raker ini puncak anti klimaks fakta lawan hoax. Berita issue negatif bahwa pemerintah lemah karena kurs melemah terbantahkan sudah. Bahwa berdasarkan asumsi APBN 2018, nilai tukar Rupiah terhadap dolar berada pada Rp13.400 per dolar Amerika Serikat. Kalau dihitung rata-rata tahunan Januari sampai September 2018 rata rata kurs di 13.977 per dollar.

Artinya asumsi meleset sebesar Rp 577 per USD lebih tinggi. Tetapi mengapa tidak sampai APBN direvisi?

Karena pelemahan kurs itu tidak sampai membuat APBN tekor. Malah berdasarkan hitungan, APBN kelebihan pendapatan atas pelemahan kurs tersebut. SMI mengatakan bahwa setiap pelemahan atau depresiasi Rp 100 per US$ maka ada kenaikan penerimaan Rp 4,7 trilun dan belanja negara naik Rp 3,1 triliun.Hitunglah kalau pelemahan sebesar Rp 577 per USD. Lumayan surplus APBN. Makanya tahun ini neraca primer kita surplus.

Artinya ini pertama kali sejak 2013 APBN kita sehat lahir batin. 

Mengapa ?

Karena pendapatan dikurangi belanja mencatat surplus.

Ternyata pelemahan rupiah memang karena terjadinya arus keluar dana jangka pendek tahun 2018 akibat bukan karena kebijakan suku bunga the fed tetapi faktor perang dagang. Karena serangan suku bunga the fed tahun 2016 dan 2017 sudah ada namun capital inflow tinggi sehingga Defisit CAD dapat ditutupi dari capital inflow. Tahun 2018 ini perang dagang menekan CAD dan yang pada waktu bersamaan terjadi capital Outflow. Makanya SMI menetapkan Kurs tahun 2019 pada APBN adalah 14.400. Inilah kurs rata rata yang realitis dalam kondisi terjadi capital Outflow akibat kebijakan suku bunga the fed dan perang dagang.

Dampaknya ?

APBN akan semakin bergantung kepada pembiayaan rupiah. Tentu ini semakin sehat APBN. Semakin mandiri.Indonesia akan mengefektifkan Bilateral Swap Agreement (BSA) atau biasa disebut juga Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA). Skema ini adalah perjanjian kedua negara untuk transaksi tapi tidak menggunakan mata uang dollar, bisa menggunakan mata uang rupiah. Udah tiga negara yang sudah approved seperti Jepang, Korea dan China. Kalau tiga negara maju ini aja mau, apalagi negara berkembang. Selanjutnya Good Bye US Dollar.

MARI KITA DUKUNG PEMERINTAH YG TERUS BEKERJA KERAS DAN CERDAS UTK MEMAJUKAN NEGERI INI. BILA ANDA TIDAK DAPAT MEMBANTU SECARA LANGSUNG, MINIMAL DAPAT MENDUKUNG DENGAN TIDAK IKUT MENYEBARKAN BERITA HOAX TENTANG PELEMAHAN RUPIAH. DAN SEBARKANLAH INFO INI KESEMUA KONTAK SERTA GROUP WA ANDA. JAYALAH NEGERIKU.

 Ingat! Pelemahan Rupiah itu HOAX!!

Monday, September 17, 2018 - 02:00
Kategori Rubrik: