Runtuhnya Sekolah Favourite

ilustrasi

Oleh : Maman Damiri

Sekolah A terletak tepat di tengah kota. Hanya dibatasi dengan dinding setebal 20 cm dengan komplek DPRD kota tersebut. Tepat beberapa meter dari gerbang sekolah langsung berhadapan dengan deretan bangunan fasilitas layaknya di perkotaan.

Dulu, sebelum berlakunya Biaya Operasional Sekolah (BOS) dan kurtilas banyak siswa sekolah tersebut yang berhasil meraih prestasi kejuaraan baik di bidang akademik maupun non akademik. Bahkan ada beberapa siswa yang berhasil meraih prestasi kejuaraan akademik di tingkat nasional dan internasional. Misalnya dalam bidang matematika, sains, dan kebahasaan. Demikian pula halnya dengan prestasi non akademik, khususnya dalam bidang ekskul jenis-jenis kesenian dan keolahragaan. Hingga tak heran bahwa sekolah tersebut dijuluki oleh masyarakat sekitar sebagai sekolah elit. Sebutan tersebut kiranya pantas disandangkan waktu itu. Dengan alasan bahwa disamping rata-rata siswanya berasal dari kalangan keluarga terpelajar dengan latar belakang pendidikan orang tua lulusan S1 - S3. Juga didukung dengan kemampuan ekonomi rata-rata masyarakat kelas menengah.

Proses penerimaan peserta didik baru dilaksanakan dengan sangat selektif karena disamping mempertimbangkan berbagai faktor dan juga melalui rangkaian tes kemampuan dasar dan IQ baik secara verbal maupun non verbal. Dengan tujuan dan sasaran untuk menguji kesiapan setiap calon siswa tanpa membedakan latar belakang ekonomi orang tua siswa. Pada hari pertama dari seminggu waktu pendaptaran yang dialokasikan biasanya jumlah pendaptar mencapai ratusan. Meskipun pada hari pengumuman PPDB hanya dapat menerima 4 atau 5 rombel saja.

Karena melihat keberhasilan sekolah tersebut maka para orang tua pun begitu antusias dan tanpa paksaan memberikan dukungan moril dan material untuk kemajuan serta pengembangan sekolah.

Sebelum pemerintah menurunkan bantuan fasilitas yang memadai ("yang biasanya cukup sulit) maka dengan sukarela para orang tua pun secara terorganisir dan bertahap menyumbangkan berbagai fasiltas baik dalam bentuk bangunan maupun fasilitas pendukung lainnya. Sehingga secara bertahap sekolah tersebut pun menjadi sebuah sekolah negeri terkemuka di kota itu. Karena kelengkapan fasilitas pendukung akademik dan non akademiknya. Diantaranya laboratorium komputer berikut jaringan internet untuk pembelajaran TIK, laboratorium bahasa, bahkan sampai ke fasilitas kegiatan olah raga, fasilitas musik / karawitan, dan tari, juga ruang praktek matematika-sains.

Meskipun saat itu belum ada tunjangan sertifikasi, namun para guru dan staf di sekolah tersebut terbilang cukup sejahtera. Karena dana yang dijatahkan untuk staf dan pengajar tak kurang dari 25% dari SPP bulanan yang disepakati para ortu, dengan pengecualian untuk siswa kurang mampu yang memang cukup memadai untuk menunjang operasional keseharian kerja. Dengan demikian tentu saja harus mengimbanginya dengan kemampuan kerja ekstra keras. Mengingat tuntutan keberhasilan pun amat diharapkan oleh para orang tua siswa.

Namun lain dulu, lain pula sekarang. Akhir-akhir ini dirasakan bahwa sekolah tersebut sedang mengalami penurunan prestasi di berbagai bidang. Khususnya pada bidang prestasi akademik. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan yakni munculnya berbagai penghalang dalam bentuk kebijakan dari pusat dan intern daerah. Kebijakan atau peraturan tersebut memaksa pihak sekolah serta stickholder sekolah untuk tunduk dan patuh pada kebijakan tersebut. Diantaranya:

1. Pembiayaan penyelenggaraan sekolah harus melalui dana BOS yang prosentase untuk pos-pos peruntukannya sudah ditentukan. Padahal kerap kali dana tersebut terlambat dari masa penggelontorannya.

2. Munculnya larangan dan sanksi bila lembaga pendidikan, khususnya yang berstatus sekolah negeri menghimpun dana dari masyarakat, khususnya dari para orang tua siswa. Hal ini sedikit banyak mengubah paradigma masyarakat pengguna lembaga pendidikan dan stickholdernya sebagai pendukung dan penyokong proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah formal.

3. Sistem PPDB berdasarkan zonasi amat membatasi sekolah hanya menerima calon siswa dari kalangan terbatas di lingkungan setempat. Walhasil calon siswa bibit unggulan menjadi tak terjaring. Bahkan semua calon siswa yang dalam kondisi dipabel yang seharusnya masuk ke sekolah khusus yang sesuai dengan fungsinya (misalnya SLB) juga setengah dipaksakan harus diterima.Karena demikianlah aturan yang berlaku.

Pada beberapa sisi mungkin permasalahan tersebut di atas menjadi nilai positif bagi penyamarataan kesempatan belajar semua kalangan masyarakat seperti layaknya yang berlaku di beberapa negara sosialis. Namun hal tersebut bukan tidak mungkin akan meruntuhkan kemapanan kualitas yang telah dicapai oleh lembaga-lembaga pendidikan.

Sumber : Status Facebook Maman Damiri

Thursday, January 16, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: