Runtuhnya NU, Runtuhnya Pancasila?

ilustrasi

Oleh : Mamang Haerudin

Catatan ini merupakan hasil dari amatan saya atas diskusi online yang diadakan Lakpesdam PCNU Kabupaten Cirebon, yang menghadirkan Budiman Sudjatmiko (BS) dan M Nuruzzaman. Diskusi ini bertemakan Pancasila vs Khilafah. Saya tertarik menulis catatan ini karena paparan BS yang senafas dengan apa yang selama ini saya amati terkait dengan perkembangan para aktivis khilafah dan hijrah. Saya merasa diskusi online ini, terutama paparan BS sedang dalam rangka "menceramahi" warga Nahdliyin. Saya berharap akan banyak para pengamat dari luar yang serius memberi masukan dan kritik terhadap NU. Sejurus dengan itu saya pun mengambil judul catatan ini: Runtuhnya NU, Runtuhnya Pancasila?

BS banyak memberikan kritik terhadap NU--sekalipun tentu saja disampaikan dengan bijak dan hati-hati, selain tentu saja mengapresiasi di awal-awal. Beberapa kritik itu di antaranya NU terlalu "ngelit", keilmuannya cenderung "mempersulit" bukan mempermudah umat dalam rangka belajar agama. Sementara para aktivis khilafah dan hijrah justru menawarkan kajian keislaman yang simpel dan sederhana. Mereka mampu memenuhi dahaga spiritualitas umat, atau dalam istilah BS mampu memberikan "paket simpel" menuju surga. Inilah yang saya sebut sebagai dakwah yang "asyik sendiri" dan jalan sendiri-sendiri alias terjebak zona nyaman.

BS bahkan mengatakan bahwa NU masih sulit atau belum mampu menandingi inovasi teknologi dan sosial para aktivis khilafah dan hijrah. Dalam hal ini saya menyebutnya sebagai kemampuan untuk melakukan optimalisasi dakwah digital. Sebagaimana telah saya tulis di dalam berbagai catatan harian sebelumnya, sudah saatnya kita berbenah. Sebab kalau tidak, bukan sesuatu yang mustahil jika NU dan Pancasila akan runtuh. Bukan hancur (berkeping-keping) ya tetapi runtuh (secara perlahan). Keruntuhan itu ditandai dengan tidak efektifnya pesan-pesan sosial-keagamaan terhadap kehidupan masyarakat menengah kota maupun Desa.

Upaya ke arah optimalisasi dakwah digital bukan tidak pernah ada, hanya saja kendalanya adalah masih terlalu santai--cenderung asyik sendiri dan terjebak zona nyaman--, berjalan sendiri-sendiri, kurang mampu memanajemen konflik, mudah terjadi keributan internal dan meminjam istilah BS, tidak punya "konsep berbagi rezeki" yang adil. Yang ada aji mumpung, kemaruk, koruptif, merasa superior, main hantam yang berbeda dan akhirnya membuat garapan dakwah kita semakin tidak jelas. Bahkan banyak di antara kita yang tidak mengakui kelemahan, tidak mau berbenah dan terlalu banyak alasan.

Wallaahu a'lam

Sumber : Status Facebook Mamang M Haerudin (Aa)

Friday, July 10, 2020 - 11:15
Kategori Rubrik: