Rumput Kering Mudah Terbakar

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Pada dasarnya, Indonesia Raya, atau sebutlah Nusantara Raya kita, tidak pernah mengisolasi diri. Dari dahulu kala, Nusantara merupakan tempat perjumpaan dan pertemuan dengan bangsa-bangsa manca. 

Dalam sejarahnya, perjumpaan telah terjadi dengan India, China, Arab, dan tentunya Portugis, Belanda, yang pernah menjadi bagian dari penjajah negeri kita itu. Bahkan juga, secara tak langsung Inggris dan Perancis pada era Napoleon Bonaparte, ketika VOC mengalami kebangkrutan di tahun 1799. Bahkan, "etnis" Betawi yang merupakan kelompok masyarakat baru dari berbagai unsur adonan etnis di atas, hanya butuh waktu kurang dari 300 tahun untuk lupa asal-usulnya.

 

Dalam berbagai perjumpaan itu, mengalir berbagai gagasan, dan tentunya keyakinan-keyakinan spiritualitas seperti Hindu, Buddha, kemudian Islam, Kristen ke bumi Nusantara. Dari sana pula kemudian berkembang biak agama-agama local, yang pada jaman kini disebut aliran kepercayaan atau pun kebatinan. Karena di Indonesia, Kementrian Agamalah yang menentukan sebuah aliran kepercayaan atau kebatinan bisa disebut agama. 

Secara otoritatif, siapa yang paling berhak menentukan sesuatu sah disebut agama atau bukan? Sementara kita tidak tahu apakah pengesahan itu hanya berhenti pada pembuktian kitab-kitab suci? Sedangkan kita tahu dari penjelasan historis, penulisan kitab-kitab seperti Injil dan Alquran terjadi setelah Yesus maupun Muhammad wafat.

Tetapi inti dari agama adalah sama. Mengajarkan apa yang kita sepakati sebagai nilai-nilai baik, mulia, luhur, dengan segala anak pinaknya. Bagaimana proses-proses semacam itu mesti diberitahukan, dilatihkan, hingga menjadi perilaku yang disebut adab atau pun akhlak.

Tetapi, Bung Karno dan Bung Hatta pun, saya kira, takkan pernah mengira; negara impian mereka bakal dirajam sejumlah konflik etnis, agama, juga antarkelas di masyarakat. Apalagi dengan prestasi luar biasa, dulu keduanya menjadi symbol, karena berhasil menyatukan orang dari ribuan pulau untuk melawan musuh bersama (yakni Belanda).

Kini semangat hidup bersatu itu semakin pudar. Tiap suku atau kelompok, menghadirkan musuhnya sendiri-sendiri. Bahkan agama pun yang konon diciptakan untuk menciptakan peradaban itu. Kita seolah berada di tengah padang lalang, dengan rumput-rumput kering yang mudah terbakar. 

Anak kandung dari kepentingan masing-masing kelompok itu, dengan menciptakan musuhnya sendiri-sendiri, ialah soal intoleransi. Dalam berbagai survey, bahkan sejak 10 tahun lampau, toleransi bukan lagi menjadi ciri dari bangsa Indonesia yang acap disubya-subya sebagai bangsa peramah atau murah senyum. Lebih-lebih ketika kesadaran etnis dan agama berada dalam formalisme belaka, dan tak pernah menyentuh nilai kesejatiannya.

Kita yang hidup di jaman kini, menerima warisan masalah yang tak pernah terselesaikan tuntas. Sejak riwayat Piagam Jakarta, bahkan kemudian seusai Pemilu 1955, juga pada Sidang Umum MPR 2000, di mana suara partai-partai Islam kembali menguar dengan membuka halaman lama pada Piagam Jakarta. Pada 2006, melalui Bekasi, HTI menyodorkan konsep negara khilafah kepada salah satu anggota DPRD yang ikut dalam pertemuan organisasi masyarakat yang kini dilarang pemerintahan Jokowi itu.

Kita memang dalam situasi lama ketegangan baru. Dua poin itu, etnis dan agama, paling rawan dipermainkan oleh siapapun, dengan tujuan apapun. Menjadi pintu penghancur sangatlah mudah, tetapi untuk nilai-nilai kebaikan dalam jargon persatuan dan kesatuan, amat tidak mudah. 

Lebih-lebih di jaman medsos yang liar. Ibarat kata, kini rumput-rumput kering itu telah membawa bekalnya sendiri, entah korek api atau bensin. Tak butuh orang lain lagi, karena dengan keangkuhan agamisnya, seseorang bisa ngotot tidak merasa bersalah. Karena bersalah itu cuma soal rasa-merasa. Apalagi kalau mendaku sebagai majoritas. | Bersambung ke Pemimpin Biasa Saja di Era Transisi | @sunardianwirodono

 

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)

Saturday, August 24, 2019 - 14:30
Kategori Rubrik: