Rumah Indah Itu KIni Gaduh

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Aku terlahir sbg muslim pas2an, bukan santri, lbh tepatnya abangan karena hidup dilingkungan dgn paham agama seadanya. Tapi aku mencintai islam krn darinya aku mengenal Tuhan, walau lama tak bersamaNya, tp aku tau Dia bersamaku. Terasa kehadiranNya saat2 aku berkeinginan melakukan kebaikan walau sebesar biji jarah, karena tanpaNya manusia manapun tak mampu berbuat sesuatu. Membaca sejarah kehadiran islam di indonesia dari mulai Cheng Ho, Raja Champa, kemudian dilanjutkan dgn Wali Songo, yg juga msh keturunan China, 3 diantara dari 9 nya adalah China. Generasi sesudahnya muncul masa keemasan KH. Achmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy'ari.

Dua manusia luar biasa ini pejuang segalanya, mendirikan ormas islam dengan payung kemanusiaan, jasadnya telah tiada namun ruhnya masih menggema untuk Indonesia bersama jutaan warga NU dan Muhammadiyah. Muncul pula sebagai penerusnya, Gusdur, Gusmus, Quraisy Shihab, Nazaruddin Umar, Syafii Maarif, dan lainnya. Para ulama yang tidak mencium tangan umara, para ulama yang tetap dijalan kebenaran.

 

 

Perkembangannya begitu luar biasa, sebagai agama terakhir yg diturunkan melalui Muhammad. Indonesia menjadi rumah terbesar islam dunia. Berkembang bersama zaman dan peradaban, dibesarkan bersama saudara kembarnya yaitu budaya. Islam di indonesia menjadi unik karena masih berbau asal muasal dia dibesarkan. Ada islam jawa berbau dupa, ada islam berbau Hindu penuh wewangian, adat membawa manfaat, agama menjadi nikmat bersama. Era Wali Songo adalah keharuman islam setelah Cheng Ho, mungkin?, diteruskan banyak ulama sampai era KH. Achmad Dahlan dan KH. Hasyjm Asy'ari, dua sahabat yang disekat oleh kunut, namun bathinnya terajut oleh ketaqwaan dan tidak pernah merasa dipisahkan oleh perbedaan. Kalau Mbah Hasyim membaca kunut Mbah Dahlan manggut2, begitu juga sebaliknya. Hanya para pengikut yang pernah tersungut2, saling merasa *aku* lebih islam, hanya persoalan khilafiah nyaris memberangus kebaikan yang disebarkan. Untung era itu telah reda, sekarang balik mesra walau kadang masih ada yang usil menyentil, tapi itu urusan kecil.

Rumah bernama islam itu akhir2 ini menjadi pengab, ventilasinya terganggu udara dan asap yang panas yg masuk dari luar. Entah dari mana datangnya, tiba2 mereka mengatakan kita saudara, saudara tua dan lainnya bertanya, saudara dari mana, karena seingat saudara lainnya tidak ada, saudara pungut atau saudara tiri, atau sepupu yang lama pergi. Setelah lama dicermati, maka diputuskan bahwa mereka bukan famili. Bagaimana akan diakui sebagai famili akhlaknya tidak seperti kami, mereka suka memaki, mulutnya tak terkendali entah bagaimana cara mereka menjaga hati.

Rumah indah itu harus selalu dijaga dengan seksama, biarlah dua saudara tua yg dipercaya menjaganya, NU dan Muhammadiyah. Walau berbeda gaya tapi mereka tetap tau dimana pintu keluar masuknya, mereka tidak pernah meloncat dari jendela. Terus siapa gerangan yg berteriak lantang ikut keluar masuk dirumah itu. Mengaku2 punya hak warisan yg sama, dengan pongah katanya ikut menjaga dan membela serta merawat rumah nan indah, padahal kerjanya marah2, fitnah, sumpah serapah. Sampai kita nyaris tak bisa membedakan apakah mareka manusia atau sampah yang berlindung dalam bingkai agama, sayangnya islam menjadi tempat kostnya.

Kepribadian gandanya begitu nyata, kata adil jauh dari pikiran mereka, orang lain dikerdilkan, tak salah dikatakan menistakan, diri sendiri selalu minta dimuliakan, kawan yang salah dikatakan khilaf dan mohon diberi maaf. Penipuan besar2an dgn memakai atribut surga, uang umroh dijarah berjamaah. Malingnya hidup mewah, kelompoknya tetap pongah seolah kelakuannya tak masalah walau salah, parah!!

Islam, rumah indah itu kini sedang dijarah, penjagaan 24 jam seolah tak mampu menghalau gerombolan kesetanan, semoga saudara tua NU dan Muhammadiyah tidak goyah, agar kita terus bisa mengadah melihat kebenaran dijalankan. Bukan benar sendiri, orang lain dianggap tuli.

Berindonesialah dgn pancasila, dan berislamlah dgn islam Indonesia. Diantara bau dupa Hindu, aroma Hiyo, lonceng gereja, selendang penutup kepala, diatas konde wanita jawa, dan apa saja yg melekat pada Indonesia. Islammu akan menjadi islam nusantara, ramah, bersahaja penuh taqwa, tanpa mencela bahwa saudaramu yg masih menghitung weton jawa divonis masuk neraka, padahal kita semua belum dikhabari surga itu disebelah mana.

Islam Indonesia harus ramah mendunia, bukan marah kepada yg beda mazhabnya.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Thursday, April 12, 2018 - 00:15
Kategori Rubrik: