Rumah Gadang

ilustrasi

Oleh : Ramadhan Syukur

HARI ini, tiga tahun lalu gue (cowok satu-satunya) bersama enam wanita hebat melanglang ke tanah Minang. Gak beda dengan beberapa belas tahun lalu saat pulang, gue selalu terenyuh melihat begitu banyak rumah gadang yang tua dan terbengkalai.

Begitu juga kawasan cagar Saribu Rumah Gadang di Kabupaten Solok Selatan yang maunya menawarkan pesona Sumatera Barat, tapi jadi gak menarik karena rumah gadangnya seperti diurus seadanya.

Untunglah setahun setelah kami bertandang ke sana, tahun 2018 Presiden Jokowi, pada perayaan Hari Pers Nasional mampir ke sana. Dalam sambutannya dia bilang, bahwa waktu masih mahasiswa, tahun 1983, saat mau mendaki Gunung Kerinci lewat Solok Selatan, dia kagum ketika melihat keindahan rumah adat di sana. Terutama kawasan yang tahun 2008, oleh anak Bung Hatta, Meutia Farida Hatta, saat jadi Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, menjuluki kawasan itu Negeri Seribu Rumah Gadang.

Maka sebagai tanda kagumnya, Pak Jokowi langsung mencanangkan revitalisasi kawasan Saribu Rumah Gadang yang pembangunannya direncanakan selesai akhir 2019. Bertepatan dengan masa berakhirnya jabatan beliau sebagai presiden.

Meski akhirnya terpilih lagi untuk yang kedua kali, ternyata Jokowi kalah telak di Sumatera Barat. Sejak itu pembangunan Saribu Rumah Gadang seperti gak pernah terdengar lagi. Gue kirain Jokowi ngambek dan revitalisasi yang dijanjikan, batal. Apalagi lanjut dengan pandemi corona yang melanda dunia dan resesi mengancam banyak negara. Wah bakal mangkrak nih kayak di Hambalang.

Ternyata gue salah. Apa pun yang terjadi, janji adalah hutang yang harus dilunasi.

Di bawah pengawasan Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, pembangunan yang menelan APBN sebesar 69,7 Miliar rupanya terus berjalan dalam kesenyapan. Dan dikabarkan, akhir tahun 2020, sebelum ayam berkokok menyambut tahun 2021, Saribu Rumah Gadang itu sudah rampung.

Wah, jdi kangen pingin napak tilas lagi bersama enam wanita yang tiga tahun lalu (beberapa di antaranya bilang) gak puas malala (kelayapan) ke sana kemari cuma enam hari. Terutama sohib non Minang yang merasa belum tuntas mencicipi kulinernya. Kuliner khas sana yang jumlahnya 51 jenis itu. Alamak.

Sumber : Status Facebook Ramadhan Syukur

Wednesday, August 12, 2020 - 14:00
Kategori Rubrik: