Ruang Terbuka Hijau Monas

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

(Katanya Disain Monas Baru Lebih Hijau 

Seorang pejabat pemda DKI, di tengah ramai urusan 'peri-kepohonan', katakan RTH, Ruang Terbuka Hijau Monas yang baru, akan lebih hijau dari yang sudah-sudah.

Nurut Keppres tahun 1995, katanya cuma 53 persen. Pergub tahun 1997 sebesar 56 peŕsen. Dengan Rancangan Baru hasil lomba, nanti Monas akan jadi 64 persen. Akan lebih 'hijau' ? Dari apa ? Benarkah ?

Yang bicara ini, seorang pejabat yang juga ngaku bingung pada Keppres diatas, no.25 tahun 1995. 'Yang ditulis perlu persetujuan, bukan ijin'. Kata beliau.

Jadi nurut beliau, untuk 'obrak-abrik' Monas, bukan 'ijin' yang perlu tapi 'persetujuan'. Ijin itu beda dengan persetujuan ? Sudah minta juga persetujuan ? Wwk wk wk wk juga . . .

Jangan2 ada kemungkinan beliau juga bingung lihat data prosentase RTH. Atau bahkan malah ndak ngerti apa itu RTH, Ruang Terbuka Hijau . . .

Ruang Terbuka Hijau, RTH, itu kira2 punya arti satu area yang didominasi tanaman. Baik pohon, rumput, atau semak. Berfungsi secara ekologi, misal sebagai resapan air, polusi udara, dll. Juga berfungsi sosial budaya serta ekonomi. Kalimat 'resmi'nya silakan cari dan baca sendiri . . .

Jadi yang termasuk 'hijau' itu jelas dan pasti 'tumbuhan', bukan jalan dan plaza 'beton' yang di cat hijau . . .

Tahun 2014, semasa Gubernur DKI Jakarta-nya masih yang punya nama Jokowi, dengan paguyuban Paspampres yang dikomandani pak Doni, sekarang kepala BNPB, bertemu di Sentul. Pak Doni serahkan 100 ribu 'pohon langka'. Seperti Merbau, Ulin, Puspa, . . .

Sebagian ditanam di Monas, sebagian lagi di Semper, Pluit, Kemayoran, dan lain-lain.

Tahun 2014 juga, seorang mahasiswi IPB, Institut Pertanian Bogor, adakan penelitian di Monas. Tentang korelasi 'keaneka-ragaman' pohon di Monas dengan jumlah dan aneka macam burung. Lama penelitian sekitar 10 Bulan.

Ditulis olehnya luas Monas 63.54 Hektar. Jumlah pohon 2579 yang terdiri dari 58 jenis pohon. Indeks keragaman bernilai 4,175. Ada Mahoni, Ki hujan, Tabebuya, dan lain-lain . . .

Itu angka yang 'sangat baik', dan berbagai macam burung pun bisa muncul dan hidup disitu. Sampai ada 25 jenis burung. Ada Jalak Suren, Punai, Cabe Jawa, sampai yang aneh2 namanya, Kerak Kerbau, Kekep Babi, dan lain-lain . . .

Saking bagusnya lingkungan itu, Monas, dia pun, si mahasiswi, ndak banyak nulis di akhir. Bab kesimpulan dan saran.

Bahkan RTH yang dia usulkan 'sejalan' dengan Rencana Kawasan Terbuka Hijau Provinsi DKI Jakarta, saat itu . . .

Tentang RTH, Ruang Terbuka Hijau lapangan Monas, dia tulis prosentase pepohonan 49,9, rumput 7,78, semak 15,57. Total 73,38 Persen . . .

Lapangan terbangun sebesar 26.62 persen. seperti parkir, jalan, kolam, dan lain-lain . . .

Ini semua data yang diambil sepanjang tahun 2014. Selain data lapangan, juga data dari Suku Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI. Dibuat laporan thesis Januari 2015.

Terus bagaimana dengan RTH Lomba yang 64 persen, yang disebut 'lebih besar' itu. Lebih besar dari apa ? Dapat data dari mana ? Ber-halu2 ?

Sebaiknya para pemangku jabatan itu 'Iqra-iqro' dulu. Sebelum rilis 'statemen abal2'. Biar bisa 'baca' data dulu. Juga tahu dulu definisi. RTH itu apa. Peri-kepohonan, Drainase Vertikal, Naturalisasi, Beda Rumah Susun dan Rumah Tapak, Rusunawa itu apa, IMB itu apa, Dana Kompensasi itu apa juga . . .

Tahu saja sudah sangat bagus. Ndak usah mikir mau kerja dulu, nanti malah bikin ruwet. Kalau sudah tahu dan paham definisi, baru boleh ngeyel.

Jangan dibolik-balik. Minum sêrbat dulu, minum dawêt kemudian. Ngeyel dan ajak debat dulu, ngacak-acak bikin ruwet belakangan . . .

Note :
Sebagian data diambil dari hasil penelitian : Agnisaa Dwi Handayani, Institut Pertanian Bogor 2015

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Sunday, February 2, 2020 - 16:30
Kategori Rubrik: