Rongsokan Peradaban Arab

ilustrasi

Oleh : Abdul Munib

Arab Saudi dan kerajaan kecil sebagai cerlider-nya (UEA, Bahrain, Kwait, Qatar, Oman dan Yordania) mulai meninggalkan peradaban Wahabi-nya. Mulai ada Valentin Day (hari orang Serui), konser musik, perempuan nyopir, peragaan busana atau perhelatan mode dan westernisasi lainnya. Dimotori oleh UEA lewat postmodernisme Dubai, kemewahan yang sempurna dan paripurna. Melampaui Barat.

Rongsokan peradaban Arab (RPA) itu yang dijual ecer di Indonesia dan laku keras. Maka terbentuklah masyarakat hibrida 212, prototype mirip babon-nya : Wiro Sableng. Wiro Sableng hibrid hasil kawin silang dengan RPA dengan kelelawar endemik lokal. Pakaiannya niru pakaian Arab makannya nasi urab.

Ini sejenis penyakit latah (gehgeran/sunda). Gejala fenomena Otak Sabun, karena efek sering dicuci oleh layar televisi, sekarang layar hape. Masih ingat dua malaikat tukang sulap yang dikirim Tuhan di jaman Nabi Sulaiman. Namanya Harut (H) dan Marut (M). Hollywood dan Massmedia/Mediamasa, alat sihir Zionis sang pembuat kerusakan dua kali dimuka bumi.
Dunia makin terombang-ambing oleh otak masyarakat yang tak seimbang. Yang nyata masih dipertanyakan, yang khayal sudah dilayakkan. Di jaman PKI latah komunis. Dijaman sekarang latah khilafah. Padahal tidak tahu itu semua tipuan yang datang dari bangsa Asing.

Santri Kalong : Kenapa bangsa ini kecolongan dua kali, percaya orang asing dan mau membahayakan bangsa dan negaranya sendiri ?

Kang Mat :
Karena kita kekurangan penjelas Pancasila. Elit kita abai akan hal ini. Coba simak kemarin Profesor Yudian Wahyudi, pimpinan BPIP, yang mengatakan musuh Pancasila adalah Agama. Ini statement yang parah justru keluar dari mulut pembina ideologi Pancasila. Sangat parah. Sejak merdeka pendidikan kita condong ke Barat. Barat menganut pendekatan metode ilmiyahnya menggunakan empiris skeptis. Sedang pendekatan lokal berupa pesantren Indonesia menggunakan data verbal kitab kuning dan iman. Ini terjadi 75 tahun selama kita merdeka. Karena terdapat subjek mater ketuhanan dan kemanusiaan, Pancasila mengandung subjek metafisika yang tak bisa dibedah atau didedah menggunakan cabang ilmu alam (fisika) atau ilmu sosial (sosiologi). Mendedah Pancasila membutuhkan filsafat ketuhanan (Ontologi) atau filsafat metafisika (Teosofi Transenden). Pendidikan nasional Kita kita tak menyertakan ini : bagian terpenting dari Bangsa Pancasila. Bangsa Falsafah. Tapi tak menguasai tradisi keilmuan filsafat. Sangat aneh memang. Dampaknya rawan dan rentan serangan penyakit budaya yang datang dari serangan budaya dan ideologi luar. Masyarakat yang tak imun akan latah. Telan mentah-mentah. Karena tak ditanamkan dalam didik dan ajar pendidikan nasional kita, siapa bangsa kita yang sebenarnya : Bangsa Gotong Royong. Kini jadi gosong dan terhuyung.

Bung Cebong : Caranya untuk kembali pada jatidiri bangsa bagaimana Kang?

Kang Mat : Untuk sementara lima kementrian percayakan ke NU dulu. Kementrian didik dan ajar. Kementrian agama. Kementrian kesehatan. Kementrian pertahanan. Menkopolhukam, tapi jangan Mahfud. Biar Mahfud independen saja dia lebih bagus disitu. Jangan juga orang seperti Muhaimin, kelamaan berkuasa di PKB.

Kenapa demikian, karena kalau lima kementrian itu sudah diperjualbelikan tandanya rakyat Indonesia hidup sengsara. Segala hal tidak bisa diindustrialisasi, khususnya hal terkait lansung penderitaan rakyat.

NU masih punya Banser yang jaga minoritas tapi diterlantarkan negara. NU adalah modal pokok kita berindonesia.
NU sedang mempersiapkan pesantren yang membaca kitab kuning Al Asfar Al Arbaah. Demi Pancasila. Demi bangsa dan negara Indonesia.

Angkringan Filsafat Pancasila

Sumber : Status Facebook Abdul Munib

Sunday, February 16, 2020 - 11:00
Kategori Rubrik: