(Romo) Sindhunata Bukan Kita

ilustrasi

Oleh : Supriyanto Martosuwito

Sebelum dinobatkan sebagai Imam Katolik, dengan panggilan hormat Romo Sindhu, beliau adalah wartawan sama seperti kita, kami dan saya. Tapi Sindhunata bukan kita, meski dia juga menulis berita, artikel features dan opini, seperti kita. Dia tidak mewawancarai pejabat negara, para pesohor, artis artis ternama atau para ahli yang mumpuni di bidangnya; sebagai rujukan dari peristiwa yang sedang jadi pembicaraan pembaca.

Sindhunata adalah jurnalis, penulis cerita dan pewarta yang berpihak pada yang papa, warga kelas bawah, kaum nestapa dan mereka yang terpinggirkan. Orang orang yang serba kekurangan. Bahkan juga terhina.

Tak terbayangkan oleh kita mau membuat reportase dan menulis sepertinya. Dia mengisahkan percintaan dua orang gelandangan, penggembala kambing yang cacat, pengayuh perahu penyeberangan di tepi kali Bekasi. Wanita yang sedang mengandung dan terancam banjir di Pluit. Karsi si anak Mini, cerita rasa cemburu dan cinta di antara PSK di Kramat Tunggak dan lainnya. Juga proses kelahiran ikan pesut di Ancol.

Pendeknya, dia mereportase dan menulis topik dan figur yang tak terperhatikan oleh kita – wartawan ibukota umumnya.

Kita mengenal Sindunata sekarang sebagai sastrawan, penulis novel wayang “Anak Bajang Menggiring Angin“, seorang pastur, seorang Imam Katolik, Romo bergelar doktor, pemimpin redaksi majalah ‘Basis‘, editor buku, dan kolumnis yang menulis 3 judul buku tentang bola.

Namun pengalaman kewartawan di lapangan, memperkaya kehidupannya dan memberikan kenangan menarik dan menjadi bahan pelajaran untuk kita.

SEJAK bergabung dengan koran ‘Kompas‘, tahun 1977, Sindhu sudah bersepaham dengan Jacob Oetama, pemimpin redaksinya sebagai penganut filsafat humanisme. Penghayat nilai nilai kemanusiaan.

Pemilik nama lengkap Dr. Gabriel Possenti Sindhunata SJ ini merupakan lulusan Seminarium Lawang – Malang, 1970, dan sarjana filsafat lulusan Sekolah Tinggi Driyakarya di Jakarta, 1980. Studi doktoralnya diselesaikan di Munchen, Jerman.

“Di ‘Kompas’ lah saya belajar bagaimana merefleksikan dan mengolah kemanusiaan dan humanisme menjadi berita dan tulisan, ” tulisnya di bagian Kata Pengantar buku memoarnya "40 Tahun Menulis" yang terbit Oktober 2019 lalu.

Pengalamannya sebagai reporter lapangan dan duet dengan Kartono Ryadi, wartawan foto legendaris – suhu fotografi jurnalistik modern Indonesia – itu, dijadikan pembuka tulisannya. Berdua dan berboncengan Vespa, mereka berkeliling Ibukota. Kartono Ryadi memotret dan Sindu lah yang menulisnya.

“Wartawan itu pertama-tama pekerjaan di kaki, baru kemudian pekerjaan otak! ” itulah filosofi yang diajarkan oleh Kartono Ryadi alias KR yang dikenangkan oleh Sindhunata.

Hidup wartawan bukanlah di kantor tapi di jalanan. Kewartawanan bukan duduk di belakang meja dan mengetik tapi berjalan, mengayuh kaki ke lapangan, melihat langsung obyeknya, mengamati peristiwanya, merekamnya dan mewartakannya kepada pembaca.

Maka terkumpulah tulisan yang memaparkan kehidupan kaum pinggiran itu. Mengenangkan ketika kuluyuran di Pasar Minggu, Tanah Abang, Senen Tanjung Priok dan lokalisasi Kramat Tunggak.

Karya foto KR yang menyentuh dan tulisan Sindhu yang mengharu biru – kental dalam nuansa sastrawi – menuai reaksi pembaca, yang spontan menyalurkan bantuan buat obyek obyek yang direportase mereka, membuat Sindhu dan KR punya tugas tambahan menyalurkan santunan dari pembaca ‘Kompas’.

Dalam contoh kisah liputan, wartawan 67 tahun, kelahiran Kota Batu, 12 Mei 1952 ini, juga menampilkan karya reportasenya di Pulau Buru, menayangkan ulang foto karyanya, saat sastrawan Pramoedya Ananta Toer sedang mengetik di sana – dan kemudian kondang dengan novel tetraloginya. Tubuhnya masih nampak tegap.

Perlu keberanian dan nyali bagi wartawan era 1980-an untuk ke Pulau Buru dan mewawancarai tahanan politik rezim represif Orde Baru.

Tak semata mata meliput kaum pinggiran, dan orang orang yang tersingkir, duet dengan KR juga mengantarkannya ke lapangan olahraga. Belakangan, kita mengenal Sindhunata sebagai penulis kolom / buku bola.

Dia mengenangkan saat memotret pebulutangkis I’ie Sumirat melawan Svend Pri. KR agak kewelahan memotret Thomas Cup 1979 sendirian, lalu memberikan kamera cadangannya kepada Sindhu dan memintanya duduk di dekat net – sementara KR mengambil angel lain. Perintahnya, kalau ada moment bagus; jepret! Dia pun ikut perintah. Siapa sangka jepretan kameranya saat I’ie Sumirat melompat di atas net merayakan kemenangan melawan pebulitangkis Denmark itu – terpampang sebagai headline pada ‘Kompas’, edisi 2 Juni 1979 ? Sindhu girang bukan alang kepalang.

MESKI mengandalkan kaki, namun kewartawanan adalah tugas dan pekerjaan intelektual. Memahami sejarah adalah modal seorang wartawan, itulah tulisan Romo Sindu saat mengenangkan P. Swantoro, Wakil Pemimpin Redaksi Kompas.

Swantoro adalah wartawan berlatar belakang dosen sejarah dan dia menulis refleksi sejarah dalam kolom khasnya. Kumpulan tulisannya menjadi buku, “Masa Lalu Selalu Aktual” – memaparkan, antara lain, apa yang terjadi di Russia, Jerman, Iran, Kamboja dan tentunya Indonesia – berakar dari sejarah masa lalu. Ada jejaknya.

Dalam bab 4, Sindhunata menulis ‘Bukuku Kakiku‘ mengulas betapa pentingnya wartawan membaca buku, sebagai penopang tugas jurnalistiknya. Tanpa kaki, kita tidak berdaya. Demikian juga kita sebagai pewarta – tanpa referensi di kepala kita – lewat bacaan, buku buku. Sebelum terjun ke lapangan. Hilang arah.

Bab 5 menulis ‘Menuliskan Human Interest Masyarakat Menengah ke Bawah‘ dengan penegasan bahwa ‘cerita berita’ lebih menarik perhatian pembaca dibanding ‘berita peristiwa’.

Buku ini bertabur dengan petuah, petatah petitih dalam bahasa Latin dan Jerman, dua bahasa asing yang dikuasai Romo Sindhu, selain bahasa Inggris, Indonesia dan Jawa – tentu saja.

Bahasa Latin (nampaknya) adalah bahasa wajib yang dikuasai oleh seorang Romo / Pastur. Sedang bahasa Jerman didapat dari pengalamannya menimba ilmu di Negeri Kanselir itu.

Buat saya, buku memoar Sindhunata, 40 tahun menulis: “Belajar Jurnalistik dari Humanisme Harian ‘Kompas‘ – Harga Sebuah Visi” – merupakan buku refleksi – bahan renungan sekaligus buku referensi kita sebagai jurnalis, reporter di lapangan. Dari media mana pun.

BAGIAN penting dan paling menarik dari buku ini ada di penutup yaitu ‘Menulis Berita Berarti Belajar‘.

Ditegaskan, wartawan tulis bertugas seperti fotografer yang mengambil banyak gambar dan mencari detail – meski yang dipakai hanya satu dua. Pada era kamera manual dengan film 24 – 36 frame, wartawan foto menghabiskan 1 – 2 roll film, meski yang dimuat hanya satu dua saja.

Demikian juga wartawan tulis. Harus banyak mengggali banyak fakta, mencari data rinci, yang kemudian memanfaatkan sebagiannya – sesuai dengan konteks peristiwa yang diliput dan ditulisnya.

Berkaitan dengan kemampuan menyortir informasi, fakta dan data detail – itulah, yang membuat para wartawan harus belajar terus menerus.

Dalam konteks masa kini – di era digital dan banjir informasi – kita bisa membaca begitu banyak berita sekilas, yang kurang bahan, kurang fakta dan data detail di lapangan, membuat berita yang ada nampak umum dan datar saja. Hambar. Tak ada kedalaman. ***

NB : Tulisan ini sudah dimuat di media online dengan judul yang sama januari 2020 lalu - saat akun FB saya take down - dan saya posting di FB ini, barangkali ada rekan sesama jurnalis dan fesbuker lain yang tertarik dan belum membacanya. **

Sumber : Status facebook Supriyanto Martosuwito

Saturday, August 8, 2020 - 19:30
Kategori Rubrik: