Romantis

ilustrasi

Oleh : Ramadhan Syukur

ORANG TUA gue bukan tipikal pasangan romantis. Kadang gue melihat mereka seperti punya jarak. Apalagi saat di depan anak-anak.

Gue gak banyak tahu, seperti apa bentuk kasih sayang mereka dulu. Seinget gue paling, bapak gue sangat menghormati masakan ibu gue. Apa saja yang dimasak, gak ada yang dikomentarin. Pasti dimakan.

Beda dengan istri gue yang sangat perhatian. Bahkan kadang gue merasa perhatiannya agak berlebihan. Atau guenya mungkin yang gak paham bentuk kasih sayang darinya.

Saat mau bepergian, misalnya, acara bisa tertunda cuma gara-gara warna baju gue gak matching sama celana. Norak. Luday. Kritiknya. Ganti.

Sudah di parkiran mau berangkat kondangan, gue terpaksa balik lagi cuma gara-gara lupa nyukur jenggot dan kumis. Kayak penjahat, katanya.

Setiap kali gue melakukan suapan pertama waktu makan, pasti dia nanya entah untuk yang keberapa ribu kali, sudah baca "bismillah belum?" Gak peduli di mana aja. Mau di warung kek, di resepsi pernikahan kek, pasti diingetin.

Saat ada janjian ketemuan dengan seseorang, sebelum berangkat ada aja yang terlihat kurang di matanya. Gigi gue belum bersihlah, kuku jari tangan gue belum dipotonglah, ada satu bulu hidung yang nongol dan harus dibuanglah. Pokoknya macem-macem dan ada aja.

Dulu gue rada jengah dengan perhatian yang berlebihan gitu. Gue kadang kok merasa diperlakukan seperti bukan suaminya, tapi kayak anak remaja kesayangannya.

Tapi semua perhatian dan peringatan itu jadi begitu berarti saat gue bepergian mengendarai mobil dan dia ada sebelah gue. Dialah yang selalu mengingatkan agar gue gak perlu nyolot menghadapi pengendara lain yang ugal-ugalan di jalan gak tahu aturan. Gak ada untungnya.

Bahkan saat mobil gue penyok ditabrak motor yang melawan arus, dia mencoba menenangkan gue yang emosi. Padahal di dalam benak gue sudah ada setan yang membisiki untuk mengejar pengendara itu dan menghajar kepalanya dengan kunci setang.

"Paling masuk penjara!" Kata gue yang asal ngomong tanpa dipikir. Padahal kalo sudah masuk hotel prodeo bakal nyesel seumur hidup. Gak ngaruh tuh mau dibilang kayak Imam Bonjol atau Pangeran Diponegoro.

Istri memang pengendali emosi yang luar biasa. Enggak sekedar nyuruh bilang "istiqfar". Tapi melakuka sesuatu yang membuat kebegoan kita sebagai lelaki yang kuat terkendali.

Tapi apa yang pernah gue alami, atau para suami kebanyakan, tentu belum ada apa-apanya dibanding yang dialami suaminya Ibu Iriana.

Hampir setiap hari suaminya selama empat tahun dihina, difitnah, dan dicaci maki. Padahal dia pemimpin tertinggi di negeri ini. Tapi dia gak pernah meladeni. Padahal kalau dia mau, dia bisa melakukan pembalasan dengan cara yang gak bakal terlupakan seumur hidup para penghujatnya.

Untunglah laki-laki tangguh itu punya istri yang sabar luar biasa seperti Iriana. Istri yang sanggup menaklukan suami dengan kesabaran dan penuh perhatian. Istri yang sadar betul bahwa jabatan presiden bukanlah simbol maha tinggi yang boleh membuatnya angkuh. Yang boleh membuatnya semau-maunya. Selama masih bisa merendah ya merendahlah sampai gak bisa lagi dihina.

Entah berapa kali media memergoki Ibu Iriana sedang unjuk kemesraan. Saat memperingati Hari Pendidikan Nasional di halaman Istana Merdeka, ibu Iriana beberapa kali tertangkap kamera terlihat mesra sedang memerhatikan rambut sambil mengibas-ngibaskan tangan di atas bagian belakang kepala suaminya.

Lain waktu Iriana terlihat sedang merapikan dasi, mengancingkan kerah baju, atau memberi isyarat dari kejauhan saat rambut suaminya yang sedang berpidato berantakan. Atau bercanda ringan di sela-sela kesibukan keduanya.

Betapa pentingnya seorang wanita pendamping dalam hidup ini. Baik di dalam rumah tangga, apalagi dalam mengurus negara.

Lelaki itu sebetulnya makhluk lemah yang sok berlagak kuat dan berkuasa atas wanita cuma krn dia berotot di waktu muda. Di masa tua dia, saat otot2 itu sudah melemah, istrilah penguatnya. Semua kesombongan yang kamu miliki, gak ada artinya. Kesombongan inilah kata dokter Marianne J. Legato yang membuat para suami di belahan dunia manapun meninggal lebih dulu daripada istrinya.

Jika ada orang yang koar2 "nikah itu indah sebagai fiksi dan ngeri sebagai fakta", gak usah dianggap. Orang kayak gitu biasanya hidupnya awut-awutan dan gak jelas. Pengecut. Orang Minang bilang, bujang lapuak. Atau jomblo karatan.

#AkuIriana170419TDH

Sumber : Status Facebook Ramadhan Syukur

Tuesday, February 5, 2019 - 12:00
Kategori Rubrik: