Rokok, Djarum Dan Anak-anak

ilustrasi

Oleh : Harun Inskandar

Meski saya sudah beberapa tahun berhenti merokok, tapi produsennya, pabrik rokok, tetap saja membuat saya terkagum-kagum.

Kalau ketemu orang bule ngrokok krètèk di negaranya sendiri, bau asap dan bara 'ting plêtik' yang menyala di ujung batang rokok, khas, membuat saya senyum2 bangga.

Susah lho ketemu momen itu. Selain mereka ndak bole ngrokok di sebarang tempat, kalau pun merokok biasanya rokok 'putih'. Tak lirik merek rokoknya, memang ndak kelihatan. Tapi yakin, pasti itu produk Indonesia !

Jalan2 ke kota atau pulau lain, mesti ketemu orang yang pakai bahasa lokal. Atau bahasa Indonesia logat lokal. Menyadarkan saya ada di kota atau pulau lain. Harus hati2 bicara, sopan, pokoknya masuk kandang kambing harus ikut mengembik.

Tapi yang bikin hepi dan tenang ternyata pabrik rokok juga. Entah merek apa, mesti ada saja yg nempel di baliho atau papan reklame. Iklan rokoknya. Ada dari Sabang sampai Merauke. Ooo . . Berarti saya masih di wilayah Indonesia.

Lewat darat di kanan kiri jalan banyak pohon2 yang tertanam. Ada yang masih kecil atau sudah cukup rindang. Adem rasanya. Nanti atau sekarang. Itupun sebagian 'jasa' pabrik rokok 'itu'

Beberapa tahun belakangan, pabrik rokok 'itu', giat lakukan penghijauan. Pinggir jalan, pantai, pelataran candi, pelataran dan lingkungan pesantren, dan lain-lain . . .

Apalagi kalau lihat Liem Swie King meloncat sambil sabetkan raket bulu tangkisnya. Smèsh model ini dulu populer. Jumping smash. Lawan gêlagêpan, Liem Swie King menang. Lawan pun, waktu terima piala, berdiri lebih rendah dari King, yang juara nomer satu.

Lagu Indonesia Raya terdengar, Sang Saka Merah Putih di kerek naik pelahan. Kita orang Indonesia, nangis termehek-mehek haru dan bangga.

Seingat saya Liem Swie King, juga puluhan bintang bulu tangkis kita yang 'nggarap' ya pabrik rokok 'itu' . . .

Apakah Liem Swie King, datang dan ikut latihan di pabrik rokok 'itu', setelah umur 18 tahun ? Supaya ndak dituduh ter'eksploitasi', seperti yang digariskan oleh Undang-undang ?

Ya pasti ndak. Wong umur 15 tahun sudah juara PON. Juara All England umur 20 tahun. Kalau baru masuk latihan di pabrik rokok umur 18 tahun, ya ndak bisa jadi juara. Telat.

Di penjuru dunia manapun, para pemain berbakat, baik seni atau olahraga, bahkan 'iptek', jauh2 hari sudah dicari. Ketemu, dikumpulkan, dan dilatih. Mumpung masih seger, luwes, liat, dan otaknya bersih.

Ada polemik antara sebuah Pabrik Rokok, tepatnya Persatuan Bulutangkis, PB Jarum dengan KPAI, Petugas yang 'melindungi' anak2.

Pabrik itu dituduh eksploitasi anak, dibawah umur 18 tahun, untuk iklan produknya. Rokok. Pabrik, baca PB, membantah, itu kegiatan melulu untuk cari bibit dan bakat2 terpendam di bidang olah raga Bulu Tangkis. Lewat audisi.

KPAI bersikukuh, karena ada memang 'undang-undangnya'. Bahwa CSR (Corporate Social Responsibility) pabrik rokok ndak boleh cantumkan merek, logo, nama, pada saat eventnya. Juga tidak boleh libatkan anak dibawah umur 18 tahun.

Pabrik rokok sudah beberapa langkah 'mundur'. Peserta sekarang pakai kaos sendiri tanpa ada logo dan nama produk rokoknya. Spanduk dan baleho di pinggir lapangan juga. Nama event audisi pun sudah ndak pakai nama rokok atau pabriknya.

Tapi KPAI masih ngotot minta ini-itu terus. Kaus pelatih, dan panitia, yang ada tulisan nama produk pun disuruh copot. Ndak boleh ada embel2 merek produk. Regulasi katanya.

Beneran regulasi, ndak ada 'pesan sponsor' ? Jika benar regulasi, harusnya 'garang' juga melarang anak2 ikutan demo khilafah. Ber-kali2 terjadi. Berani ? Mbèl !

Melihat begitu ngototnya KPAI, interpretasi dan terapkan 'regulasi' se-mau2 sendiri, mungkin bener juga 'dugaan' sebagian orang. Ada sponsor !

Siapa sponsor 'biang'nya sudah kasak-kusuk di-luaran, meski dibantah. Ada juga 'tukang tunggang'nya. Sudah pada tahu semua, siapa. Yang 'itu2 juga. Gerombolan 'Pemabok'. Mabok Harta, Mabok Tahta, Mabok Wanita, dan Mabok Agama . . .

Bagaimana ujungnya ? Happy ending ? Win-win Solution ? Njungkel kesandung ? Jangan kuatir. 'Lawan' KPAI dan para 'Haters' kali ini adalah sebuah pabrik rokok. Ya. Pabrik rokok ! Coba sesekali lihat iklan rokok di televisi.

Saat muncul larangan iklan dengan tayangan 'orang merokok' sekaligus 'rokok'nya. Ndak ada pabrik rokok yang mengeluh, tapi 'mengeliat' hindar sambil meloncat.

Hasilnya ? Iklan rokok jadi iklan paling kreatif dan cerdas, juga ciamik. Tanpa perlu gambar rokok pun, konsumen sudah tahu. Tambah laris malahan, karena 'perokok' mendapatkan apa yang selama ini mereka bayangkan. Iklan-nya menjadi wakil diri para 'perokok'. Citra diri yang selalu di-angan2kan . . .

Jantan, eksekutif, suka petualangan, humoris, kreatif, setia kawan. Ndak perlu capek2 dan kerja keras lagi untuk meraih 'style' itu. Cukup duduk selonjor, nyulut sebatang rokok, lalu nyruput kopi . . .

Pabrik rokok tahu itu !

Jadi. Jika para 'haters' yang ingin 'menghabisi' pabrik rokok, buang jauh2 pikiran 'utopis' itu. Ndak mungkin bisa. Hil hil mustahil !

Para pecinta anak2 yang punya bibit dan bakat olahraga, Bulu Tangkis utamanya, jangan juga cemas. Meski PB Jarum rencanakan stop 'audisi' tahun depan. Mereka, PB Jarum, akan segera temukan cara.

Mereka telah terbukti 'smart', cekatan bergeliat seraya melompat. Bertahun-tahun.

Tentu saja di belakangnya ada jutaan rakyat Indonesia yang ikut berdoa. Sebab 'mereka' telah sumbangkan pada negara, Uang Rupiah dengan jumlah 'sak hohah', lewat pajak dan cukai-nya.

Ada pula ribuan petani tembakau, dari Jember, Temanggung, dan lain-lain. Berdoa khusuk buat pabrik pembeli hasil kebonnya. Juga ribuan karyawan pabriknya.

Ada juga ribuan anak2 berbakat yang rajin berdoa untuk 'mereka'. Tempat di letakkannya segala harapan hidup masa depan yang lebih cerah. Serta berbakti pada negara.

Alam Lingkungan juga tak henti kirimkan bisikan angin segar. Ucapan terima kasih atas ratusan ribu pohon Mahoni, Bakau, dan lain-lain, yang 'mereka' tanam, untuk kembali segar dan hijau-kan bumi . . .

Dan jangan lupa, ada sekelompok 'manusia' yang di sela2 waktu 'ngaji', mbahas 'sorogan' santri, ndèrès 'kitab', juga sampaikan doa. Itulah Wong NU. Para Nahdliyin . . .

Pasti mereka kuatir pabrik rokok tutup. Belum NU kalau belum 'ngrokok', kata mereka. Meski begitu, bagi 'Nahdliyin' yang ndak ngrokok, jangan asal percaya dan terprovokasi. Karena meski NU, Gus Dur nggak merokok. Apalagi Ibu Sinta Nuriyah, mBak Yenni, dan Bu Khofifah . . .

Tabek untuk PB Jarum, pabrik rokok, dan rokoknya juga . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar.

Wednesday, September 11, 2019 - 10:30
Kategori Rubrik: