Rokan Untuk Indonesia

Ilustrasi

Oleh : Hadi M Djuraid

Beyond Nasionalism

Kado indah menjelang HUT ke-73 RI dipersembahkan pemerintah kpd rakyat Indonesia melalui @Kementerian ESDM: penglolaan Blok Migas terbesar di Tanah Air, Blok Rokan di Riau, diserahkan ke PT Pertamina (Persero)

Ini adalah momen besar dn bersejarah bagi industri migas Tanah Air. Saya kultwit utk sdikit jelaskan soal itu.

Melalui konferensi pers yang dipimpim Wamen Arcandra Tahar, Selasa 31/7 malam, Blok Rokan yang sudah 50 tahun dikelola Chevron Indonesia akan dikelola oleh Pertamina setelah habis masa kontrak thn 2021, dgn sistem gross split.

Rokan adalah blok onshore terbesar Indonesia. Rata2 produksi 207,148 barel per hari, dengan cadangan hingga 1,5 miliar barel. Wajar jika banyak kontraktor migas besar tertarik utk mengelolanya.

Chevron selaku kontraktor eksisting dan Pertamina diberi kesemoatan pertama utk mengajukan proposal pengelolaan Blok Rokan pasca terminasi. Jika proposal keduanya dinilai tdk layak, akan dilelang secara terbuka.

Menteri ESDM Ignasius Jonan membentuk Tim 22 WK (Wilayah Kerja) utk mengevaluasi blok-blok migas yg telah habis masa kontrak, termasuk evaluasi kedua proposal tsb.

Parameter yg digunakan adalah ekonomi dn bisnis, dlm kerangka kepentingan nasional, bukan parameter politic, tekanan publik, dsb. Yang dipilih adalah proposal yg paling mmberi nilai lebih dan keuntungan maksimal bagi negara.

Utk itu Menteri ESDM dn Tim 22 WK menetapkan smcam “owner estimate”: menghitung dg jeli dn teliti brp nilai yg wajar utk blok migas tsb. Penetapan ini adalah tahapan paling krusial proses ini.

Berdasarkan “owner estinate” itu ditetapkan 3 variabel utama penilaian: minimal signature bonus yg harus dibayar ke pemerintah, komitmen kerja pasti, dan diskresi utk besaran split antara pemerintah dn kontraktor.

Tenggat submit proposal final: Selasa 31 Juli 2018 pkl 17.00 Wib. Langsung dievaluasi oleh Tim 22 WK, diputuskan oleh Menteri ESDM, dn diumumkan hari itu juga selepas Isya.

Pertamina diputuskan sbg pengelola Blok Rokan krn proposal yg lebih baik: signature bonus USD 784 juta atau Rp 11,3 triliun, komitmen kerja pasti USD 500 juta (Rp 7,2 triliun), dn diskresi 8%. Signature bonus adalah dana yg harus dibayarkan kontraktor ke penerintah sblm kontrak ditandatangani. Ini utk mnunjukkan keseriusan skaligus kesiapan dn bonafiditas kontraktor.

Maka pemerintah akan mndapatkan dana segar sebesar Rp 11,3 triliun dlm bentuk Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). Ini bisa jadi PNBP terbesar selama ini dlm satu kali transaksi. Adapun potensi pendapatan negara dlm berbagai bentuk selama 20 thn mncapai sekitar USD 57 miliar atau Rp 825 triliun. Blm lagi multiplier effect yg amat signifikan bagi perekonomian setempat dn nasional. Sesuai ketentuan 10% participating interest mnjadi hak daerah melalui BUMD.

Dengan mengelola Blok Rokan, kontribusi Pertamina thd produksi migas nasional akan melonjak hingga 60%. Thn 2018 kontribusi Pertamina baru 36% dan tahun depan 39%. Pasca 2021, Pertamina layak masuk jajaran world top oil company. Walhasil ketika banyak pihak meneriakkan nasionalisme dlm pengelolaan blok migas, Presiden @Jokowi melalui Jonan, Arcandra, dn Tim 22 WK berpikir dn bekerja keras melampaui itu, beyond nationalism, utk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Tantangan pasca alih kelola adalah mnjaga tingkat produksi, agar kontribusi Blok Rokan sebesar 26% dr total produksi migas nasional ttp terjaga, bhkan ditingkatkan. Kita yakin Pertamina mampu menjawab tantangan itu. Terima kasih Chevron Indonesia yg telah 50 tahun mengelola Rokan dn mmberi sumbangsih utk masyarakat dn perekonomian nasional. Peluang investasi di industri migas Indonesia masih terbuka lebar.

Selamat datang Pertamina di Blok Rokan. Selamat bekerja keras dan unjuk kinerja terbaik untuk Bumi Pertiwi.

Sekian, smoga bermanfaat, terima kasih.

#RokanUntukIndonesia

Sumber : Status Facebook Hadi M Djuraid

Wednesday, August 1, 2018 - 21:00
Kategori Rubrik: