Rocky Gerung Mimpi Hana Hanifah

ilustrasi

Oleh : Karto Bugel

Pernah memotret sebuah object dan bingung mencari sudut yang tepat?

Pernah menulis tentang seseorang dan kita dibuat ribet dari sisi mana kita melihat?

Ngomongin orangpun selalu tentang dari sisi mana kita melihatnya. Tentang siapa dia dimata kita, dan seperti apa kita sebenaranya.

Saya, anda memiliki cara berbeda. Ketika saya lebih senang melihat dari sisi kemanusiaan teetang sebuah peristiwa dan anda dari sisi agama, tak perlu kita berdebat disana. Tidak anda atau saya lebih benar.

Demikianlah ketika seorang Rocky Gerung mengkritik Jokowi karena mengundang Achmad Purnomo yang menurutnya telah lebih dulu direkomendasikan oleh DPC PDIP Solo sebagai bakal calon wali kota Solo dan kemudian dikaitkan dengan pencalonan Gibran sebagai Walikota Solo.

Serta merta Rocky gerung memilih narasi Jokowi melakukan prostitusi politik.

Apakah karena apa yang saat itu ada dikepala Rocky adalah tentang prostitusi online yang dilakukan oleh Hana Hanifah, bukan hal yang mustahil.

Rocky menilai kalau Hana Hanifah diketahui publik telah melakukan prostitusi online yang menyangkut moral pribadinya, sedangkan Jokowi telah melakukan prostitusi politik yang melibatkan moral publik.

Moral. Dua peristiwa berbeda namun dilihat dari sudut yang sama. Yang satu menyangkut moral pribadinya, yang lain melibatkan moral publik. Moral yang menyertai sebuah pekerjaan yakni prostitusi.

Apakah Jokowi melakukan sebuah kegiatan berupa prostitusi politik, ini membutuhkan banyak debat dengan banyak dalil.

Namun, mengapa sudut pandang prostitusi justru menjadi pilihan Rocky, pasti terkait dengan minat atau hasrat atas sisi kurang yang bersangkutan dalam masalah tersebut.

Paling tidak fakta bahwa sampai dengan hari ini dia masih bujang, tak harus diperdebatkan. Dan itu sudah cukup bagi siapapun untuk mengambil sudut pandang.

Moral pribadi dan moral publik disandingkan dalam konteks prostitusi. Kedua "jenis moral" itu sedang dijadikan senjata oleh Rocky.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, prostitusi adalah pertukaran hubungan seksual dengan uang atau hadiah sebagai suatu transaksi perdagangan.

Berarti Rocky menggunakan kata "prostitusi" hanya sebagai idiom, bukan arti harafiahnya. Tak perlu perdebatan lagi disini.

Moral pribadi Hana dijadikan rujukan bagi moral publik Jokowi. Secara moral, apapun yang dilakukan oleh Hana adalah salah, maka demikian pula seharusnya moral publik yang dituduhkan kepada Jokowi.

"Benarkah?"

Moral, akhlak, etika, budi pekerti hingga susila adalah tentang bagaimana suatu masyarakat berbudaya berperilaku.

Menuduh seseorang seolah tak bermoral jauh lebih sulit dibanding dengan pelanggaran hukum yang sudah dilakukannya.

Menuduh Jokowi dengan teori moral yang sama dengan idiom prostitusi yang dilekatkan pada pribadi Hana yang jelas-jelas telah melanggar hukum, seharusnya masuk wilayah tuduhan serius.

Biarkan saja, itu wilayah orang yang ngerti hukum. Tetapi apakah Rocy lebih mulia dibanding Hana Hanifah yang dijadikan bumper keburukan untuk mengkritik Jokowi, sepertinya tawa sinis orang waras akan menjawab.

Prostitusi adalah spontanitas Rocky ketika membuat ilustrasi. Khayalan dan mimpinya sangat mungkin tak jauh-jauh dari sana, sehingga yang terucap hanya itu. Hanya yang menjadi angannya.

Ada potensi kekurangan yang membuat dia dengan mudah berucap kata prostitusi sebagai gambaran akan mimpi dan khayalan dia yang memang kurang dalam hal yang berhubungan dengan kebutuhan semacam itu.

Peristiwa Hana Halifah sangat mungkin adalah salah satu mimpi yang tak pernah terwujud dan hari-hari ini sungguh membenani dan mengganggu pikiran misalnya.

Paling tidak fakta bahwa sampai dengan hari ini dia masih bujang, tak seorangpun menyanggahnya. Dan itu sudah cukup bagi siapapun untuk mengambil sudut pandang.

Satu hal yang pasti bahwa Hana jauh lebih baik dibanding Rocky, dia menjual tubuh miliknya sendiri, tanpa bersembunyi pada ruang kemunafikan. Dia lebih jujur dan siap bertanggung jawab tanpa melibatkan siapapun.

Sementara Rocky, seluruh kemampuannya berbicara dari olah pikir ruang imajinasi di kepalanya, diperjual belikan demi eksistensi pribadi tapi bersembunyi dalam kerumunan massa yang selalu melindunginya.

Dungu sebagai kata pilihan, selalu dia lekatkan kepada siapapun yang dianggapnya tak sepaham. Dia berdalih dan berdebat dengan kalimat berputar, memelintir logika lawan, dan tertawa diatas kebenaran semu.

Dia jual murah semua miliknya bahkan harga dirinya, hanya demi rasa puas telah mempermalukan orang lain.

Dia rela berdandan dan berbaju bukan tentang siapa dirinya hanya untuk bisa dianggap sekaum dan diterima.

Siapakah pelacur sebenarnya, Rocky??

Terlalu banyak pelacur-pelacur politik tak tahu malu yang menggadaikan apapun demi nafsu tak ada batas puas para pengkhianat negara. Mereka jual semua yang bisa hanya demi kekuasaan.

Diluar sana, banyak Hana-Hana yang lain yang jauh lebih berharga dan lebih bermartabat dibanding para pecundang-pecundang tersebut dan yang akan terus merelakan badannya dinikmati pria hidung belang yang bahkan tak pernah di kenalnya demi sekaleng susu dan sesuap nasi bagi anaknya dirumah.

"Rocky?"

Kadang saya berpikir, dia adalah orangnya Jokowi.

"Koq...??

Mbuh....

Status Facebook Karto Bugel

Friday, August 7, 2020 - 22:15
Kategori Rubrik: