Rizki Kita Rizki Orang Lain

ilustrasi

Oleh : Mimi Hilzah

Driver ini jelas belum pernah mampir ke sini. Pelanggan yang memesankan orderannya sendiri. Ditambahi pesan, "Kak, stok sultana masih ada? Buat gojeknya satu, boleh ya?"

Si driver datang. Anak muda, jangkung. Wajahnya terlihat jelas. Sebelum buka pintu, saya beri kode untuk pakai masker. Scarf melilit di lehernya segera dinaikkan ke wajah. Saya cek, jaga-jaga siapa tahu ada helem nanti yang berpotensi dibanting kayak kemarin. Oh, aman!

"Ini berasnya buat kamu..."

"Buat saya?" Sorot matanya kaget tapi senang.

"Iya, itu hadiah dari sini. Trus ini kue yang diantar ke pelanggannya, ya? Nah, yang ini kue untuk kamu..."

Dia membeku beberapa detik.

"Ini dari pelanggan yang pesan gojeknya. Buat kamu bawa pulang."

"Driver yang marah-marah kemarin itu bodoh ya, Bu? Rejekinya dapat beras, maki-maki ibu jadinya rejekinya terbang..."

Saya bahkan tidak memberi bintang satu sebagaimana saran teman-teman. Nggak kepengin membalas? Bukaaannn... Kemarin saya butuh dua jam menenangkan diri sebelum lanjut bekerja di dapur saking ndak enaknya. Mengelola emosi itu ternyata sangaaattt sulit. Tapi saya harus bisa. Ada lima asisten yang kelak mencontoh tindakan saya. Pun ada diri saya sendiri yang berutang keinginan untuk menjadi orang yang lebih sabar.

Maka berulang kali membuka aplikasi gojek, muncul permintaan memberi nilai, saya abaikan. Rejeki driver kemarin bukan di tangan saya. Yang di tangan saya adalah jika suatu hari saya mengorder jasa antar dan akunnya muncul, saya akan membatalkannya. Saya tidak ingin lagi bekerja sama dengannya itu adalah hak saya. Tapi bagaimana ia melayani orang lain, itu bukan hak saya memutuskan.

Begitulah. Kadang memang rejeki itu seperti ada yang mengatur arah datang dan perginya. Tapi kadang juga, kita sebenarnya punya sedikit kuasa untuk mengelola adab kita sendiri agak rejeki tak menjauh.

Sumber : Status Facebook Mimi Hilzah

 
Saturday, June 6, 2020 - 10:45
Kategori Rubrik: