Rizieq Pulang dan Bikin Gaduh, TNI Dituding, Prabowo Kemana?

Ilustrasi

RIZIEQ PULANG Bikin, TNI DITUDING, PRABOWO KEMANA?

Oleh : Agung Wibawanto

Mengikuti dinamika politik nasional selama sebulan ini, ada sebuah pertanyaan di dalam benak saya yang mungkin juga bagi masyarakat lain. Pertanyaan sederhana, Menhan Prabowo kemana? Lho, kenapa dengan Prabowo? Jika bicara Rizieq beserta pendukungnya, dan juga terkait TNI yang kini sedang dituduh abuse of power karena mlorotin poster Rizieq, maka benang merah diantara kedua obyek issue tersebut tentu tidak lain, Prabowo yang kini menjabat Menhan.

Jauh sebelum ini (menolak lupa), bahwa Prabowo dengan Rizieq adalah teman politik (sebatas kepentingan politik). Demikian pula dengan kendaraannya masing-masing yakni Partai Gerindra dengan FPI cs. Hubungan (politik) mereka pertama kali saat kontestasi pilkada DKI 2017. Sama-sama mendukung Anies-Uno dengan tujuan lanjutannya agar menang pilpres 2019. Meski Rizieq ngibrit ke Arab (dengan alasan umroh tapi lupa pulang), tidak menjadikan masalah.

Prabowo pun menyempatkan diri sowan ke kediaman berupa rumah kontrakan Rizieq di Arab. Mereka berbincang hingga merancang strategi bersama. Hubungan keduanya sangat mesra hingga pilpres bergulir dan Prabowo dinyatakan kalah (meski sudah ngotot menolak hasil pilpres hingga ke sidang MK). Kelompok Rizieq juga gak tanggung-tanggung menggalang opini massa menolak Jokowi melalui aksi brutal berhari-hari. Sudah keluar biaya hingga memakan banyak korban, tapi misi gagal.

Jokowi tetap dinyatakan menang dan dilantik sebagai Presiden RI 2019-2024. Dari sini sudah mulai ada bibit pertikaian. Kubu Prabowo menganggap kelompok Rizieq tidak maksimal bekerja memenangkan dirinya, seperti saat pilkada DKI. Sementara kubu Rizieq pun demikian, merasa kurang mendapat suplai terutama dana dari Prabowo. Apalagi setelah pelantikan Jokowi, Prabowo ditunjuk sebagai Menhan. Kubu Rizieq semakin sakit hati dan menyatakan sudah putus secara politik.

Sementara pendukung Jokowi juga tidak sedikit yang menolak dan kecewa Prabowo jadi menteri. Jokowi asal-asalan menunjuk begitu saja Prabowo menjadi menteri? Tentu tidak. Ini politik di lingkar istana, tentu sudah melalui sebuah perumusan hitung-hitungan politik. Bahkan milih ketua RT sekarang ini saja bisa sangat politis. Jokowi sangat mengenal kekuatan musuh-musuhnya, diantaranya ada nama Prabowo dan Rizieq (tentu berikut bolo kurowo nya). Bagaimana mengeliminir kekuatan tersebut?

Setelah memastikan menguasai mayoritas kursi di parlemen, maka perlu juga mengurangi kekuatan riil di dukungan rakyat. Pilihan yang paling mungkin adalah dengan merangkul Prabowo (Gerindra) agar sedikit melunak dan sekaligus memecah kongsi perahu dengan Rizieq. Kalau dua-duanya sangat riskan karena bisa balik dikuasai, begitupun jika memberi tempat kepada Rizieq dan kelompoknya. Mereka orang-orang yang lebih sulit diatur. Maka dipastikan sebuah posisi menteri kepada Prabowo.

Dan sudah dipikirkan pula mengapa posisi Menhan yang diberikan. Selain berlatar belakang militer, kapasitasnya juga di soal pertahanan negara. Namun yang terpenting, ada tugas khusus yang dibebankan kepada Prabowo yakni mengendalikan Rizieq dan kelompoknya (terutama juga dari luar yakni organisasi Islam Internasional dan ISIS). Namun sepertinya, ada hal menarik lainnya, berupa kesepakatan antara Prabowo dengan Jokowi dalam misi mengendalikan Rizieq.

Nampaknya Prabowo meminta agar dia tidak terlihat langsung dalam menjalankan misi tersebut. Karena bagaimana pun Prabowo masih punya rasa sungkan jika harus terang-terangan bermusuhan dengan Rizieq dan kelompoknya. Dan memang tidak ada ruginya bagi Jokowi karena yang penting kelompok itu terkendali dan Prabowo bisa terus mengawasi Rizieq dengan 'pura-pura' masih menjalin hubungan baik. Kesepakatan lainnya adalah (sekali lagi ini intuisi saya), Prabowo sengaja diplot tidak sebagai media darling.

Media darling itu adalah orang yang kerap bicara kepada publik (baca: media) dan selalu dicari-cari media. Prabowo orang yang suka ceplas-ceplos hingga sulit menjaga kerahasiaan. Jadi akan terlalu berbahaya jika misal tiba-tiba dicegat untuk bicara kepada media. Untuk itu kita awam sangat jarang mendengar Prabowo bicara ke media mengeluarkan statemen ataupun komentar. Tidak heran, hingga kini pun Prabowo belum menanggapi soal kepulangan Rizieq dan TNI yang tegas mencopot baliho Rizieq.

TNI sudah jelas berada dibawah area kerjanya Menhan. Menhan akan bertanggungjawab pula terhadap apa dan bagaimana TNI. Pangdam Jaya, Mayjen Dudung Abdurachman terang-terangan antipati kepada Rizieq dan FPI. KASAD Andika Perkasa dan Panglima Hadi Tjahjanto pun tidak ada mengeluarkan sikap larangan ataupun memperingatkan Pangdam Jaya (alih-alih dicopot ataupun dipecat). Apakah mereka tidak tahu? Apakah Prabowo selaku Menhan juga tidak tahu?

Sebuah pertanyaan lucu bukan? Artinya, mulai dari Menhan, Panglima hingga KASAD tidak ada yang menegasikan. Artinya, sudah dalam restu mereka. Prabowo solid dengan aparat ke bawahnya, dan loyal kepada Jokowi, mematuhi perintah dan komando Jokowi. Tapi jika ditanya, kemana Prabowo? Ya, tidak kemana-mana, hanya tidak ingin terlihat saja. Apakah itu menjadi masalah? Yang terpenting goalnya. Misi berjalan baik dan lancar. Hingga kini masih menjalankan 'penertiban' kepada Rizieq dan kelompoknya.

Karena sepertinya masih ada perlawanan dari oknum-oknum kelompok Rizieq. Rizieq sendiri kini dikabarkan tengah istirahat dan tidak ingin terlihat di depan publik dulu. Ini salah satu goal agar Rizieq masuk 'kandang' saja sambil mengikuti proses hukum yang tengah digodok kepolisian. Dalam artian Rizieq tidak melakukan aktivitas dan tidak ada kerumunan. Apapun hasilnya, Jokowi sudah men-drill Prabowo dengan baik untuk menaklukan 'temannya' sendiri meski tidak harus kelihatan. (Awib)

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto

Saturday, November 28, 2020 - 19:00
Kategori Rubrik: