Rizal Ramli, Pintar Saja Tidak Cukup, Harus Bisa Kerja Sama

Oleh : Aldie El Khaezzar

Saya liat di timeline masih ada beberapa pihak yg mempertanyakan “penggusuran” Rizal Ramri (RR) dari posisinya. Mungkin ada baiknya kita liat kilas balik gimana kiprah RR dr awal sampai akhir, nanti mungkin bakal terlihat jelas.

RR diangkat jadi Kemenkomar (dsingkat gini aja biar gampang :D) pada 12/8/2015. Sehari setelahnya, beliau langsung “bekerja” giat di media dengan membuka konfrontasi dengan kemen BUMN masalah pembelian pesawat pesawat Garuda. Spontan Rini menjawab bahwa itu di luar kewenangan Kemenkomar. Dan ga pake lama, RR pun mendapat teguran,

>>> "Bukan diumbar di media karena nanti masyarakat akan bingung. Presiden menghendaki kritik menteri yang satu ke yang lain bagus dalam hal koreksi, tapi tak elok jika disampaikan lewat media," kata Teten. >>>

Ga cukup sampai disitu, dibuka episode baru dengan JK, ga sampai seminggu kemudian, masalah proyek 35 GW. Dan ini pun langsung disambut kembali oleh presiden,

>>> "Tugasnya menteri mencari solusi dari setiap problem (masalah) yang ada dari target dan kebutuhan yang sudah kita berikan," kata Jokowi usai acara Indonesia EBTKE Conex 2015 di JCC Senayan, Jakarta, Selasa (19/8/2015). >>>

Hitungannya kalo di perusahaan udah SP2 dalam seminggu. Bayangkan. What’s next? Yaitu dengan SS masalah Freeport pada Oktober 2015. Mungkin anda masih ingat bagaimana RR mempertanyakan sikap SS yg seolah lebih spt pegawai PTFI ketimbang menteri. Artinya dalam 2 bulan, sudah ada 3 orang yang dikonfrontasi secara terbuka. Jokowi pun turun untuk menengahi. Ini seharusnya udh SP3 alias out kalo di perusahaan pd umumnya, tapi tyt presiden masih bersabar.

>>> "Menteri fokus bekerja, jangan sibuk jadi komentator," kata Jokowi, dalam pembukaan rapat kabinet di Istana Bogor, Selasa 8 Desember 2015. >>>

Selesai? Belum, masih ada yg berikutnya, yaitu blok Masela. Kali ini masih dgn orang yg sama, SS. RR lebih memilih opsi pembangunan onshore, sementara SS bersikukuh pilihan offshore. Warning lagi?

>>> Presiden Jokowi, kata Johan, tidak senang kalau perbedaan pendapat dilakukan di ruang publik seperti di media massa dan media sosial. "Menteri sudah saling menyerang di ranah publik. Presiden belum lama ini sudah menyampaikan agar silang pendapat tidak disampaikan ke publik," kata Johan. >>>

Ini masuk SP4, sungguh luar biasa. Untungnya setelah itu masalah mereda, kabinet relatif menjadi lebih kondusif. Kedua menteri kembali fokus mengenai pekerjaan masing2. Mungkin ada yg bertanya2 sebetulnya apa misi utama yg diberikan presiden ke RR. Ga macem2, yaitu masalah Dwelling Time (DT) pelabuhan, dan ini malah terkesan minim dari pantauan media terkait RR kecuali sewaktu beliau datang dan melakukan pemboran cor di jalur kereta. Lalu bagaimana progress DT semasa menteri RR bekerja?

Ada perkembangan yg cukup besar, tapi…

>>> Rizal menyatakan, sudah ada perbaikan pada dwell time. Dari yang sebelumnya sekitar 6 hari menjadi 4,39 hari. Meskipun sebenarnya masih jauh dari target Rizal sebelumnya, yakni 3 hari per Oktober 2015.

"Tadinya kalau awal 2015, dwelling time itu antara 6-7 hari. Kita berhasil turunkan menjadi sekitar 4,39 hari," ungkap Rizal, dalam jumpa pers di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (22/12/2015). >>>

Artinya, target sebetulnya belum tercapai, masih sangat jauh. Memang bukan masalah yg mudah krn ini birokrasi pelabuhan termasuk rumit. Lalu bagaimana kemajuan di 2016?

>>> "Saya tunggu. Jika 6 bulan tidak bergerak sama sekali, ada menteri yang akan saya copot," ucap Jokowi saat meresmikan Pusat Logistik Berikat di Cilincing, Jakarta Utara, Kamis, 10 Maret 2016. "Saya cek lagi sudah di bawah 5 hari."

Jokowi menginstruksikan menteri yang berhubungan dengan dwelling time mengikuti sistem seperti yang dilakukan Singapura dan Malaysia. Presiden berharap, bulan ini atau bulan depan waktu dwelling time hanya 3 hari.

Jokowi juga mengingatkan salah satu penyebab terjadinya perombakan kabinet jilid pertama adalah masalah dwelling time. Presiden minta menteri, yang sekarang ada di kabinetnya, segera menyelesaikan persoalan dwelling time supaya tidak menjadi korban seperti saat perombakan kabinet I. "Jangan sampai ada korban lagi terkait dengan dwelling time, jangan main-main lagi," ucapnya. >>>

Ini saya liat warning terakhir. Namun, sayangnya penyakit lama masih bisa kambuh. Di tengah isu reshuffle, RR malah terlibat konflik dengan Ahok dalam sengketa reklamasi.

Lalu bagaimana dengan DT pelabuhan saat ini? Terakhir saya lihat di web masih di kisaran 3.xx.

(http://dwelling.indonesiaport.co.id/)

Apakah ini cukup? Wallahualam, kalo strict melihat angka, masih belum, sebab presiden mau DT kita setara Singapura atau minimal Malaysia. Tp kalo melihat progress, sdh jauh lbh baik. Saya yakin kalo sejak awal RR fokus di masalah DT, mungkin target 2 hari udh bisa didapat.

Kritik itu ga salah, tapi kritik tentu tetap punya etika. Sewaktu presiden sudah beberapa kali menegur, itu hendaknya jadi perhatian. Apakah Jokowi anti kritik internal? Ga juga, buktinya opsi onshore blok masela usulan RR lah yg dipilih ketimbang opsi SS di offshore. Hanya saja, tentu melalui cara yg baik scr internal. Sebagai bawahan, tentu ada adab atau etika yg harus dijaga apalagi terhadap seruan atasan.

Dulu seorang manager saya pernah bilang kurleb:
“Saya lebih baik punya kawan kerja yang biasa2 saja tapi mau diajak bekerja sama (nurut, cooperative) ketimbang orang pintar tapi susah dibilangin, susah kerja bareng”

Ya, buat mereka yg sehari2 bekerja dalam tim mencapai goal/target tertentu dlm sebuah proyek, kerjasama adalah faktor yg sangat penting dan patuh terhadap atasan adalah slh satu indikasi tsb. Dan ini yg saya lihat kurang ada dlm diri RR karena beliau sdh berkali2 mengabaikan seruan presiden.

Suka ga suka, mau ga mau, ga ada pilihan lain buat RR selain ngikuti jejak Pokemon. Loh Pokemon lagi. Ko bisa?

Iya, kaya Pokemon…GO kan**

Sumber : Facebook Aldie El Kaezzar

Thursday, July 28, 2016 - 11:15
Kategori Rubrik: