Rizal Ramli Membuat Saya Gagal untuk Tidak Mencaci

Oleh : Rudi S Kamri

SAYA termasuk orang yang sangat setuju kita tidak perlu membuka konfrontasi dengan orang lain yang mempunyai preferensi pilihan politik yang berbeda. Toh Pemilu sudah selesai dan Alhamdulilah Puji Tuhan 99,99% Joko Widodo telah memenangi Pilpres kali ini. Jadi kita tidak perlu lagi saling mencaci. Yang perlu kita lakukan adalah berusaha keras merekatkan kembali hubungan diantara saudara sebangsa yang sempat terbelah karena Pilpres 2019.

Tapi keinginan mulia tersebut ternyata tidak mudah dilakukan. Bukan karena niat kita kurang kuat atau kurang kukuh. Tapi lebih pada akal sehat kita kembali terprovokasi oleh ulah norak bin kampungan dari kubu sebelah. Dan itu mereka lakukan berulang-ulang sehingga dengan segala hormat pada etika kesantunan yang saya yakini, saya terpaksa harus kembali bersuara keras untuk membungkam kepekokan kelompok mereka.

 

Salah satu manusia yang harus kita sumpal mulutnya dengan narasi yang keras adalah Rizal Ramli. Jujur di mata saya dia sudah kehilangan status elite sebagai ekonom apalagi seorang intelektual. Premis saya kuat, karena Ybs dalam setiap tindak-tanduknya apalagi lisannya sama sekali tidak mencerminkan kapasitas seorang intelektual yang layak untuk dihormati.

Nafsu ingin berkuasa dan rasa sakit hati karena dianggap tidak becus bekerja saat menjabat Menko Kemaritiman rupanya telah memporak-porandakan akal sehat Ybs menjadi seorang yang merasa maha benar dan Jokowi selalu dianggap salah. Sehingga Ybs sering sekali terlihat 'out of focus' atau asal bunyi dalam menilai suatu. Obyektivitas dia sebagai seorang ilmuwan lenyap ditelan keserakahan yang menggerogoti setiap detak nadinya.

Ada 2 hal yang perlu saya kupas tuntas. PERTAMA 
Masalah rencana pemindahan ibukota negara. Rencana ini kembali diwacanakan Presiden Jokowi karena memang sudah menjadi agenda Pemerintah dari Presiden ke Presiden RI sebelumnya. Mulai Presiden Soekarno sampai era Pemerintahan Presiden SBY. Dan ini masih dalam tahap wacana yang perlu persiapan dalam banyak hal mulai pertimbangan geografi, geopolitik, infrastruktur maupun ketersediaan anggaran. Dan saya yakin hal ini masih membutuhkan waktu yang cukup lama. Pada akhirnya setelah melalui proses pertimbangan teknis dan kajian akademis tentu saja akan melibatkan persetujuan DPR, DPD dan MPR menyangkut pertimbangan politik dan penganggaran finansialnya. 

Jadi sangat tolol kalau ada orang termasuk Rizal Ramli yang mengkaitkan hal ini dengan kepentingan pragmatis seorang Jokowi atau berkaitan dengan figur Anies Baswedan apalagi dikaitkan dengan Pemilihan Presiden.

KEDUA
Pemilihan Presiden sudah usai. Dan mayoritas rakyat Indonesia telah menentukan pilihannya. Sesuai dengan hasil hitung cepat insyaallah Jokowi dapat dipastikan akan menjabat sebagai Presiden RI sampai tahun 2024. Ini realita yang harus diterima oleh seluruh rakyat Indonesia baik bagi pemilih Jokowi maupun pemilih Prabowo. Suatu keniscayaan dalam proses demokrasi bahwa harus ada pemenang dalam suatu kontestasi yang kemudian disahkan secara konstitusional. 

Rizal Ramli adalah sosok manusia yang tidak legowo, tidak demokratis dan tidak realistis. Komentar dia bahwa rakyat tidak perlu ibukota baru tapi Presiden baru, adalah komentar terbodoh dari orang yang katanya seorang akademisi. Namun saya pribadi memaklumi kalau menilik dari garis wajah dan bentuk bibir yang seperti habis disengat kalajengking, memang dia masuk katagori manusia berhati busuk dan tidak layak menjadi pejabat publik.

Sekali lagi harus saya akui kali ini saya gagal mengendalikan diri untuk tidak mencaci. Karena menurut saya kalau omongan ngawur seorang Rizal Ramli tersebut tidak dilawan akan dianggap sebagai kebenaran terutama oleh para pendukungnya yang belum bisa menerima kenyataan dan tidak bisa 'move on'. Dan bagi saya ini merupakan narasi Post Truth yang harus dilawan dengan keras, agar distorsi informasi di ruang publik tidak merajalela.

Shame on you Rizal Ramli !!!

Salam SATU Indonesia

Wednesday, May 1, 2019 - 23:15
Kategori Rubrik: