Risma Jadi Dukun Tiban

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Risma itu Ibu Tri Risma Harini, Walikota Surabaya. Tak ada yang sangsikan, siapa pun, prestasi 'Mak-e' Arek2 Suroboyo ini.

Tidak hanya puluhan penghargaan yang datang dari dalam maupun luarnegeri, di tataran 'nyata' pun sudah kelihatan hasilnya.

Monggo main dan jalan2 ke Surabaya untuk lihat buktinya. Tanya juga secara acak pada warga Surabaya, 'bagaimana' Beliau ini . . .

Kalau dibolehkan oleh Undang-undang jadi Walikota sampek 100 kali dan umur Ibu Risma nyampèk, cukup, Arek Suroboyo tentu bersuka-cita, bersuka-ria.

Kultus individu ? Embuhlah sak karepmu !

Omong2 soal usia, tanggal 20 November kemaren Beliau Ulang-tahun. Yang ke 58. Seperti biasa Beliau sendiri lupa atau sengaja melupakan.

Tapi Arek2 Suroboyo ndak. Mereka cari cara, apa saja, kapan saja, bagaimana, moment2 untuk bikin bahagia Sang Emak.

Apalagi yang bisa mereka berikan kecuali itu. Untuk membalas apa2 yang telah dikerjakan, diserahkan pada mereka. Bingung mereka. Karena Bu Risma itu sudah sampai 'maqam' manusia yang 'telah selesai' dengan dirinya sendiri.

Senyum warga sudah cukup baginya. Karena juga dirasa sebagai senyum miliknya. Ke-bahagiaan warga pun bahagianya juga.

Di sela acara kumpul2 dengan wartawan, Bu Risma cerita tentang kunjungannya ke Afrika Selatan. Cerita ziarah ke makam Syech Yusuf, ulama asal Gowa yang jadi Pahlawan di Afrila Selatan.

"Ada suasana mistis, Bu !" tanya wartawan memancing. Tiba2 ada keributan, salah satu wartawan kesurupan. Bicara apa saja. Ndlosor ke lantai. Teman2nya segera menolong sebisa mereka. Hiruk pikuk . . .

Bu Risma pun kaget, setengah panik. Mulutnya komat-kamit baca2 doa. Raih gelas air putih, di atas meja sampingnya, di dekatkan ke mulutnya yang komat-kamit. Di beri doa, lalu diminumkan pada yang kesurupan. Kayak 'dukun' begitu. Dukun 'tiban', dukun dadakan . . .

Tiba2 di tengah kepanikan, muncul iring2an masuk ruangan. Staf dan wartawan juga. Bawa kue ulang tahun lengkap dengan lilinnya. Yang kesurupan tiba2 bisa 'sadar'

Bingung sejenak lalu ngakaklah, Bu Risma . . .

"Kurang ajar . . . Kurang ajar, Arek2 iki . . .!" Sedikit memisuh di sela tawa bahagianya. Rupanya beliau 'dikerjai'. Di 'prank' i.

Setelah acara tiup lilin, bu Risma 'ditanggap'. Ditanya kesan2 dan komennya.

Acara pun menjadi bukan kayak bicara dengan Walikota tapi malah lebih mirip obrolan di gardu ronda. Cangkruk-an, istilah Suroboyonya. Ringan, penuh canda, mengalir apa adanya. Tanpa batas, tanpa sekat . . .

"Gak jelas arek2 iki, atek sandiwara2an" kata Bu Risma. Pakai main sandiwara segala.

"Tadi baca2 doa, apa doanya, Bu' ada yg tanya

"Al Fatehah !" Jawab Risma disambung ketawa renyah.

"Tak pikir waktu aku cerita makam-makam, ada yang pikirannya kosong. Lalu kesurupan."

"Ada orang kesurupan bukannya dibacakan apa kek. Malah ditanyai, Sopo koen, siapa kamu. Minta apa !" Sambung Bu Wali lagi. Dia ketawa lagi, yang hadir pun ketawa puas. Ngakak. Lupa mereka ada dalam Kantor dan di depan Walikota . . .

"Ekspresi Ibu tadi itu lho," kata wartawan menggoda. "Ya aku pancen wedi, memang saya takut kok !" Gar-gêr lagi . . .

Sayang suasana seperti itu, tak lama lagi akan jadi tinggal kenangan. Tahun depan akhir masa jabatan Bu Risma sebagai Walikota.

Tapi beliau seperti gajah, mati akan tinggalkan gading. Layaknya harimau yang mati pun masih tinggalkan belang.

Setiap warga Surabaya tentu punya Ibu pribadi di rumah. Tapi mereka pun punya Ibu Bersama. Itu Bu Risma . . .

Kasih Ibu kepada Beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia . . .

Selamat Ulang Tahun, Bu.
Mugi2, semoga, Pengeran senantiasa paring, berkenan memberi Ibu, sehat, rejeki, sabar, dan sisa umur yang berkah . . .

Dan seakan ikut berpesta, bunga Tabebuya pun rame2 memekarkan dirinya. Semarak dan cerah ceriakan jalanan Surabaya . . .

Juancook, cèk uuapik-é, Rek . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Friday, November 22, 2019 - 13:00
Kategori Rubrik: