Rio Haryanto, Pertamina dan "Logika" F1 Petronas

Oleh: Aldie El Kaezzar
 

Setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya Rio secara resmi tampil di Formula One (F1) musim 2016 bersama tim Manor Racing. Tim ini masih relatif baru, kiprahnya di F1 baru dimulai pada tahun 2010. Musim 2016 nanti, Manor akan menggunakan mesin Mercedes. Keterlibatan Pertamina dalam F1 sedikit banyak mengundang kontroversi. Sebagian mempertanyakan kenapa Pertamina malah “menghamburkan” uangnya untuk ikut mendukung Rio di F1? Jumlah 5 juta USD (sekitar 69M). Apa yang dicari Pertamina? Kenapa mereka mau menginvestasikan uangnya ke sebuah tim baru di ajang F1? Tim yang pada musim 2015 bahkan menduduki peringkat paling akhir baik itu untuk klasmen constructor ataupun driver, tanpa mendapat 1 poin pun.

Tentu yang paling tahu alasannya adalah Pertamina, kita hanya bisa menduga, menganalisa. Yang jelas, Pertamina bahkan sudah menjadi sponsor Rio sejak tahun 2010 saat dirinya masih bertarung di GP3 yang pamornya tentu jauh di bawah F1. Jadi kalau hari ini Pertamina masih terus “mengikuti” Rio ke F1, logikanya, sponsorhip selama ini tentulah dinilai menguntungkan mereka. Di GP3 saja didukung, apalagi kelasnya sudah F1, gampangnya begitu. Mungkin sulit mengukur secara matematis seberapa menguntungkan itu untuk Pertamina. Tapi mari kita coba lihat melalui sebuah pendekatan lain, misalnya melalui apa yang dilakukan Petronas. Bisa jadi kita lebih memahami kenapa pada akhirnya Pertamina juga tertarik melakukan langkah serupa.

Petronas pertama kali terjun ke dunia F1 sejak 1995. Saat itu mereka menjalin kerjasama dengan tim Sauber. Senada dengan Manor, Sauber saat itu tergolong baru menapaki dunia F1, yaitu tahun 1993, atau 2 tahun sebelum Petronas bergabung. Setelah 9 tahun bersama, tahun 2009 Petronas harus berpindah ke lain hati karena mengikat kerjasama dengan pabrikan mesin ternama, Mercedes. Kerjasama yang boleh disebut sukses karena sudah sejak 2 musim belakangan ini Mercedes berhasil merajai F1. Apa keutungan buat Petronas masuk ke dunia F1? Tentu saja yang paling jelas adalah dari sisi marketing, pengenalan diri Petronas dan Malaysia ke penjuru dunia, international exposure for image and brand building. Petronas, sebagaimana Pertamina, mempunyai unit bisnis lubricant/pelumas dan tentunya erat terkait dengan dunia otomotif. Jadi kalau mereka ingin memperluas market di pasar global, tentu image dan branding menjadi faktor yang sangat penting. Bagaimana sebuah produk bisa dijual kalau konsumen tidak pernah mengenal atau bahkan mendengar brand tersebut? Apalagi produk yang dijual untuk barang yang tergolong “mewah”, mobil dan motor. Tentu konsumen akan berpikir dua kali mencoba produk baru yang tidak mereka kenal. Dan keikutsertaan Petronas di F1 memang memberikan keutungan tersendiri. Contohnya saat mereka memperkenalkan produknya di China, konsumen sudah dengan cepat mengenalinya. Ini jelas mempersingkat waktu dan biaya pemasaran karena F1 secara tidak langsung telah memperkenalkan dan memasarkan brand Petronas kepada konsumen dunia. Tayangan F1 termasuk acara ber-rating tinggi. F1 hanya kalah dibanding Piala Dunia dan Olimpiade dari segi jumlah penonton. Karena itu promosi melalui ajang ini dinilai efektif. Dari audit didapatkan bahwa biaya sponsorship F1 mereka selama setahun justru lebih rendah 5% dibanding biaya marketing yang diperlukan untuk mendapat tingkat exposure atau pengenalan yang serupa. Jadi secara keuangan justru terjadi penghematan biaya namun dengan multiplier effect yang lebih besar. Tahun 2009, setelah 10 tahun lebih terlibat dengan dunia F1, market share Petronas meningkat sebesar 10% menjadi 18%. Karena itu tidak mengherankan kalau sampai saat ini Petronas tetap mempertahankan strategi tersebut.

Potensi multiplier effect ini dimanfaatkan betul oleh Petronas dan Malaysia. Ada satu hal menarik yang dilakukan Petronas saat pertama kali bekerjasama dengan Sauber, yaitu mereka membentuk perusahaan dengan nama Sauber Petronas Engineering tahun 1996. Perusahaan ini didirikan sebagai penyuplai mesin untuk tim Sauber. Dari sinilah Petronas akhirnya mampu mendidik engineer-engineer Malaysia dalam pengembangan teknologi otomotif, termasuk Proton yang pada 2012 akhirnya membeli teknologi dan paten terkait dari Petronas untuk mengembangkan sebuah engine baru berstandar Euro 6C. Tak hanya itu, pemerintah Malaysia juga membangun sirkuit Sepang tahun 1997 dengan biaya sebesar 286 juta RM (75 jt USD), tentu kontroversial karena melibatkan uang negara yang tidak sedikit. Namun seperti yang kita tahu saat ini, kita bisa melihat efeknya untuk pariwisata dan ekonomi Malaysia.

Sejauh mana Pertamina akan memanfaatkan momentum ini? Apakah Pertamina nanti akan mengadakan kolaborasi dengan Esemka (yang saat ini progressnya masih berjalan sebagaiman ulasan di post terdahulu)? Ataukah ke depan nanti mereka juga akan bergabung dengan tim engine developer semisal Renault atau Ferrari mungkin? Atau mereka hanya membatasi diri untuk marketing produk pelumas mereka saja? Entah. Yang jelas, Pertamina memang tampak serius dalam mengincar pasar global. Saat ini mereka telah melakukan ekspansi ke negara semisal Malaysia, Thailand, Singapore, Japan, Bangladesh, Nigeria, South Africa, Yaman, Oman, Swiss dan Australia. Tercatat sejak 2012 Pertamina sudah mengekspor ke 23 negara dunia. Memang masih jauh tertinggal jika dibanding Petronas yang bahkan sudah memasuki pasar Europe, US dan South America. Namun paling tidak mereka berusaha serius melakukan ekspansi ke luar negeri, utamanya pasar Indo China. Saat ini mereka baru saja membeli 75% saham Amaco Production Co.Ltd, sebuah perusahaan pelumas di Thailand. Di saat bisnis upstream (hulu) yang tengah lesu akibat jatuhnya harga minyak mentah, pilihan untuk melebarkan investasi di bisnis downstream (hilir) jelas pilihan yang masuk akal walaupun tantangan pelambatan ekonomi dunia juga harus dipertimbangkan. Yang jelas, selama tidak melibatkan dana APBN seperti halnya proyek kereta cepat (HSR), saya sangat mendukung agar BUMN Indonesia melakukan manuver bisnis semisal ini. Sudah saatnya BUMN Indonesia ikut meramaikan persaingan bisnis global agar makin kompetitif dan mampu menjadi perusahaan berkelas dunia.

Selamat berjuang Rio dan Pertamina.

Referensi:

http://www.petronas.com.my/…/…/Pages/sports/motorsports.aspx
http://www.thestar.com.my/story/…
http://www.motortrader.com.my/…/proton-acquires-petronas-e…/
http://www.pertaminalubricants.com/id/international
http://industri.bisnis.com/…/pertamina-lubricant-ekspansi-k…
http://nasional.sindonews.com/…/pertamina-lubricants-ekspan…
https://en.wikipedia.org

(Sumber: Facebook Aldie El Kaezzar)

Tuesday, February 23, 2016 - 09:00
Kategori Rubrik: