RInduku pada Neno Warisman

Oleh: Rudi S Kamri

Entah berapa purnama saya tidak melihat lagi kiprah ibunda ratu pembuat ulah Neno Warisman. Ada rindu bergolak saat tidak lagi bisa membaca ucapannya yang sering membuat saya tersedak. Mungkin dia sedang menepi dari kegaduhan atau sedang belajar menganyam kesabaran dalam menerima kekalahan.

 

Hj. Titi Widoretno Warisman alias Neno Warisman yang lahir tahun 1964 dan berulang tahun tanggal dan bulan yang sama dengan Presiden Jokowi harus kita akui adalah ikon perjuangan dari kelompok yang menginginkan sebuah kemenangan. Segala cara dia lakukan untuk meraih keinginan, meskipun harus melakukan doa yang mengancam Tuhan. 

Neno Warisman telah berhasil menulis sebuah sejarah dan definisi dari sebuah makna kalah. Kekalahan yang berulang yang membuat dia gagal memetik bintang. Seandainya dia berhasil menang mungkin saat ini dia sedang duduk manis di sebuah jabatan publik yang membuat jumawanya semakin panjang merentang.

Saya tidak tahu apa yang sekarang Neno Warisman rasakan, saat melihat jagoan pilihannya telah tunduk menyatu menjadi bagian dari pemerintahan yang dipimpin oleh orang yang selalu dihujat dengan suara kuat. Mungkin dia stress atau kecewa atau sedang dihibur oleh sahabat hatinya Mardani Ali Sera. Atau mungkin juga dia sudah menjadi sosok terlupakan karena digilas berulang kegagalan.

Rinduku pada Neno Warisman, adalah sejujurnya rindu akan sebuah perjalanan kehidupan perempuan yang berbeda aliran. Tapi harus saya akui dia adalah rival setara yang sering membuat saya merajut rangkaian kata-kata untuk menghujatnya. 

Mudah-mudahan Neno Warisman berhasil mendapatkan pencerahan atas rangkaian kekalahan. Saya berharap dia kembali menjadi pelakon drama yang tidak harus memanipulasi sebuah doa untuk menghibur penontonnya.

Semoga !!!

 

(Sumber: Facebook Rudi S Kamri)

Monday, November 11, 2019 - 19:30
Kategori Rubrik: