Rindu Sahabat Muslimku

ilustrasi

Oleh : Herry Tjahjono

Saya seorang Kristiani, dan pernah punya seorang sahabat Muslim di Yogya. Ketika saya masih kuliah, dia sudah bekerja sebagai seorang pegawai negeri di sebuah instansi pemerintah. Saya memanggilnya “Mas”. Hubungan kami sangat baik, dan umumnya orang mengatakan – hubungan kami sudah lebih dari saudara. Sebagaimana lajimnya anak kuliahan, saya kadang kekurangan dana untuk menyambung hidup sebulan. Dan sering saat kepepet, saya datang ke rumahnya – dan ikut makan bersama keluarganya. Dia punya seorang istri dan anak yang masih kecil. Seperti juga halnya jika saya mendapat sedikit rejeki, saya berbagi dengannya (meski jujur saja, saya lebih sering makan di rumahnya daripada saya membagikan sesuatu padanya).

Hubungan kami adalah hubungan yang tulus sebagai sesama sahabat, sebagai sesama manusia – tanpa embel-embel atribut apa pun : baik itu kesukuan kami (saya Cina, dia Jawa campur Arab, saya Kristiani dan dia Muslim, saya masih kuliah dan dia sudah berpenghasilan). Indah sekali hubungan yang murni dan bersih semacam itu. Dia sembahyang dengan tertib dan taat secara Islam. Tapi dialah yang paling sering mengingatkan saya untuk pergi ke gereja, berdoa malam, dan lainnya.

Setiap kali lebaran, saya datang ke rumahnya dan kami bermaaf-maafan – lalu seperti biasanya – saya ikut makan bersama mereka. Demikian juga ketika Natal tiba, dia yang pertama kali memberi saya ucapan selamat Natal, dan bahkan sering memberi saya bingkisan Natal. Waktu berlalu sedemikian cepatnya, sampai saya lulus kuliah dan bekerja, berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya. Kami mulai jarang berhubungan sampai bertahun-tahun lamanya.

Sampai suatu saat saya mendengar kabar – sahabat saya di Yogya yang saya panggil “Mas” itu terserang stroke. Saya tidak bisa langsung datang menjenguknya, karena kepadatan jadwal kerja. Setelah cukup lama mengatur jadwal, saya masih ingat – sekitar bulan Desember saya berkesempatan menjeguknya. Saya sangat terkejut melihat kondisinya. Serangan stroke yang dideritanya termasuk parah, sehingga untuk berbicara pun sulit. Istrinya kelihatan jauh lebih tua, dan nampak letih. Dan yang membuat saya terguncang adalah ketika istrinya bercerita – tatkala sahabat saya itu mulai pulih dari serangannya – orang pertama yang dia tanyakan adalah saya – meski dengan suara tak jelas. Saya hampir menangis mendengarnya.

Dengan pelahan saya duduk di ranjangnya dan bertanya apakah dia kangen pada saya. Dengan susah payah dia coba menjawab – namun suara yang keluar dari mulutnya sangat tak jelas – meski akhirnya saya tahu, dia ingin menjawab : “ Kangen..” Saya memeluknya dan air mata saya nyaris tumpah. Kami berpelukan dan dia menangis terguncang-guncang.

Selanjutnya saya mencoba banyak bercerita ngalor-ngidul untuk menghiburnya, dan hati saya merasakan - dari sorotan matanya – betapa gembiranya dia bertemu saya. Dengan bahasa yang sulit saya mengerti, dia meminta istrinya untuk memasakkan sesuatu buat saya. Masakan kesukaan saya waktu jaman kuliah dan sering makan di rumahnya : tempe goreng yang diiris tipis-tipis, sambel, sayur kangkung dan krupuk. Saya terharu. Kami makan bersama, meski dia kesulitan menelan dan disuapi oleh istrinya.

Sampai saatnya saya berpamitan, dia menangis – seolah berat sekali berpisah dengan saya. Saya maklum, sebab saya sendiri sebetulnya tak mau meninggalkannya – namun hal itu tak mungkin saya lakukan. Dengan berat dia melepas saya, namun air mata saya jadi tumpah tak terbendung ketika dia mengucapkan sesuatu yang tak saya mengerti…..sampai istrinya menjelaskan bahwa sahabat saya itu mengucapkan : “ Selamat Natal mas Herry….! “ (meskipun waktu itu masih pertengahan bulan Desember).

Air mata saya tak henti menetes dan memeluknya erat sekali lagi.

Sumber : Status Facebook Herry Tjahjono

Wednesday, December 25, 2019 - 09:00
Kategori Rubrik: