Rindu Gus Dur

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Gusdur, ia seorang egaliterian tulen, tanpa batas formal kepada siapa saja karena pandangannya manusia harus diperlakukan equal, celetukannya kepada warga nahdiyyin begitu vulgar namun segar, sehingga yg disindir tak sadar kalau dipapar. Ingat bagaimana dia membesut PKB, partai yg mewadahi warga NU yg juga punya syahwat politik, walau kadang malu2, tapi mau, malah ada yg disuruh maju langsung ngguyu.

Gusdur dipasang, Gusdur dihadang, itulah politik. Bagaimana gentingnya saat dia digusur dari istana oleh kelompok politikus busuk, kemaruk. Pasukan banser siap perang, Gusdur melarang, dia keluar dari istana dengan tenang, dia mendahulukan kelangsungan Indonesia, dia tidak mempertahankan kekuasaan untuk memenuhi nafsu kuasanya. Dialah Gusdur, dia negarawan, dia faham dimana Tuhan dimana setan, tak perlu dibuatkan partai, karena Tuhan dan setan tidak bisa disejajarkan dengan partai2an.

 

 

Irian Barat dikembalikan sesuai nama aslinya *Papua*, kini Jokowi meneruskannya dengan membangunnya, dia begitu paham Papua dianak tirikan, emasnya saja yg jadi bancaan, rakyatnya dimarjinalkan tanpa pendidikan, tanpa pembangunan, tanpa jembatan, hanya diberi kebanggaan punya hutan, itupun sertifikat HPHnya punya Bob Hasan.

Dia keliling dunia menyampaikan bahwa Indonesia masih ada, kasus 98 yg menghempaskan Indonesia tidak bisa dibiarkan, dia kesana kemari meyakinkan negara lain, Indonesia bangkit dari kesulitan dan punya harapan. Perjalanannya dicemooh, katanya presiden cuma jalan2. Gusdur menjawab santai, buatnya Amerika dan Belanda, Hawai dan pantai sama saja, karena dia tidak bisa melihatnya, kekurangan penglihatannya tidak bisa membuat dia kemaruk jalan melihat pemandangan, mata batinnyalah yg mendorong dia harus jalan menjelaskan, bahwa negaranya masih ada untuk kelak berjaya bersama rakyatnya.

PKB, partai yg dibesutnya bersama Mathori, akhirnya menjadi rumah tak ramah untuk anak dan istrinya. Seperti halnya Paramadhina yg memaksa keluar keluarga Nurcholis karena dirampas oleh koloni yg gak berbudi. PKB sama nasibnya, Muhaimi is Kandar, yg konon masih kemanakannya telah merampas dengan akal liciknya, dia tak segan mendepak sepupunya, dia lupa Gusdur pamannnya, dia lupa Gusdur pendirinya. Walau tidak salah dia akhirnya menjadi ketum PKB tapi caranya yg tidak biasa, kerakusan atas kekuasaan begitu kelihatan.

Kampanye cawapres yg norak dan murahan, billboard dipasang dimana2, dia mendesak Jokowi harus menerimanya dan mengatasnamakan ulama, kiayi, seolah satu keharusan Indonesia menerimanya sbg cawapres. Dia lupa MUHAIMIN is KANDAR, Muhaimin is not cawapres !!!, you just Kandar.

Setelah tidak ada tanda2 Jokowi mau menerimanya, dia tiba2 naik kuda bersama Prabowo dkk, yang notabene musuh murahan pemerintahan dimana PKB ada didalamnya, akhlak aslinya kelihatan naik kepermukaan, ah apalah kesetiaan, Gusdur saja dia abaikan, apalah balas budi, apalah akal budi, yg penting bisa unjuk gigi, kampanye cawapres walau belum ada yg beli, dia loncat kesana sini. Partainya dicap setan, tetap saja dia berdempetan. Anda haqqul yakin, kalau Prabowo menawarnya jadi cawapres, langsung dia limbung loncat kesana, apakah dia memikirkan akibatnya untuk negara, noway..dia bukan siapa2, dia tak beda dengan lainnya, dia anak bangsa kelas murah dan tidak punya marwah, kasian PKB, kasian NU, kasian Kiayi, kasian Ulama, semua diumpankannya untuk mendukung nafsunya, padahal dia belum bisa apa2, cuma menang gaya, itupun tak seberapa. NU dan nahdiyyin adalah * lilin * untuk Indonesia, menerangi dengan membakar diri, mengorbankan jiwa raga untuk bangsanya, bukan membeli lokasi billboard untuk kepentingan dirinya. NU itu payung kebangsaan yg membanggakan jangan diobral murahan, jadilah orang NU tapi jangan nganu-nganu.

Min, andai Gusdur masih ada, kau pasti dimasukkan taman bermain di play group, karena kelasmu masih kelas taman nak kanak. Sukanya lari sana sini, manjat billboard sambil berdiri meneriaki Jokowi, aku ada disini, siap mendampingi. Jokowi mesem mendehem, mengko yo Min, nek wis lulus TK, awakmu tak kon belajar kitab nahwu atawa moco kitab RUMI, Fihi Ma Fihi, nambah ilmu sangu mati.

Gusdur, jasadmu bersama tanah air, ruhmu bersama Indonesia. Kami tetap cinta, karena jasamu bukan cuma utk NU. ENGKAULAH RUH KEBENARAN YG TDK DIMAKAN ZAMAN. Alfatihah..

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Wednesday, April 18, 2018 - 11:15
Kategori Rubrik: