Rieke yang Semakin Oneng

 

Oleh: Sahara Djati

Penyataan Oneng yang disebarluaskan media pro-KMP yaitu Republika dan kroni-kroninya telah banyak memicu dugaan-dugaan tak menentu di kalangan Projo. Namun jangan gusar. Sebab Oneng memang sejak dulu sudah kelihatan gila hormat, semata karena dia memiliki panggilan tidak terhormat sebagai orang yang oon-nya kebangetan seperti peran yang dimainkan di sinetron komedi Bajaj Bajuri.

Oneng dibesarkan di dunia teater panggung dan dikenal orang setelah memerankan karakter bloon yang mengocok perut. Meskipun Oneng sejatinya cerdas sebagaimana gelar akademisnya S2 lulusan UI jurusan Filsafat dan Sastra.

Oneng juga pandai membuat puisi, menulis buku yang lumayan bisa terjual di pasaran juga jago berpolitik. Namun sayangnya, kesuksesan Oneng tidak menunjang kesuksesannya melanggengkan hubungan rumah tangganya yang kandas di tengah puncak kejayaannya di kancah perpolitikan tanah air.

Kita semua tau bahwa orang yang jago berpolitik dan memainkan peran-peran tipuan untuk mengambil tepukan penontonnya adalah sejenis bunglon yang sebenarnya tak layak dipercaya ucapannya. Dulu waktu saya aktif di dunia perburuhan, saya melihat gaya politik Oneng yang culas terhadap gerakan-gerakan buruh. Dia mirip Iqbal yang memanfaatkan partainya untuk membesarkan diri menjadi orang terkenal dan kaya. Namun, lagi-lagi saya mencium gelagat tidak baik dari gerakan-gerakan manuver Oneng dan Iqbal yang tidak cantik.

Sejak dulu saya antipati dengan Oneng, apalagi ketika dia sengaja mendekati SPLEM SPSI untuk mendukung mereka dalam menyuarakan suara-suara buruh yang nyatanya tak pernah tuntas disuarakan hingga kini, salah satunya pembubaran pekerja outsourcing yang kami sebut perbudakan modern.

Bagaimana mau tuntas, lha wong pembuat kebijakan OUTSOURCING itu ya ibunya sendiri. Mana mungkin suara kami didengarkan? Dan itulah kebohongan Oneng yang sampai kini membuat saya muak. Oneng juga sempat mengumpulkan keluarga PKI untuk diakui sebagai warga yang tak berdosa. Yang waktu itu sempat menghebohkan karena upayanya membuat FPI mengobrak-abrik acara yang diselenggarakannya dan Oneng hampir saja menjadi korban amukan FPI.

Mungkin karena itu pulalah, pak Jokowi menjadi dicap serupa oneng, pecinta PKI. Karena pak Jokowi berasal dari satu atap dengan Oneng: PDIP. Oneng begitu getol mengkampanyekan pak Jokowi ketika pilpres tahun lalu, dia menitipkan suara buruh kepada pak Jokowi soal upah. Harapannya, siapa tahu Pak Jokowi akan memilihnya menjadi menteri tenaga kerja. Nggak tahunya kagak. Mangkel-lah si Oneng, merasa tak dianggap.

Secara dia merasa tidak punya cacat. Paham soal buruh Indonesia dan merasa tahu banyak soal buruh. Lah kok malah Pak Hanif Dzakiri yang tidak terkenal itu yang dipilih Jokowi. Sebenarnya, Oneng musti bersyukur bahwa dia dipakai Pak Jokowi untuk membuktikan diri bahwa dia mampu menjadi pembantu Menko Maritim dalam menangani kasus Pelindo II. Namun sayangnya dendam Oneng terlalu besar, ditambah kesombongannya yang merasa sejajar dengan Pak Jokowi atas posisinya di DPR itu. Sehingga bisa seenaknya membuat pernyataan yang berisi ancaman pemakzulan, seperti yang diberitakan media.

Oneng sangat tidak patut mengancam Pak Jokowi dengan pemakzulan atas kasus Pelindo II sebab Oneng bukan siapa-siapa, hanya anggota DPR yang menjadi terkenal karena keonenegannya. Kenapa kasus Pelindo II tidak mampu diungkap sejak tahun 2010? Padahal, kasus penyelewengan tersebut terjadi sejak tahun itu dan Oneng pun sudah menjadi anggota DPR RI.

Harusnya Oneng angkat topi tinggi-tinggi buat Pak Jokowi yang mampu dan berani membongkar kasus dwelling time PT Pelindo ini. Bukannya malah mengancam. Dasar Oneng! Mending balik lagi aja luh jadi Oneng-nya Bajuri, elu lebih lucu di sonoh.

Salam Oon!

Sumber: Facebook Sahara Jati

 

Friday, December 25, 2015 - 11:30
Kategori Rubrik: