Ribut Soal Toa, Kalian Ini Picik Apa Bego?

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

 

Hanya kaum Muslim bolot bin katrok bin picik bin cupet saja yang meributkan soal toa atau pengeras suara (loudspeaker), apalagi sampai membuat keonaran dan kekerasan hanya karena soal toa!

Lebih bego dan picik lagi yang menganggap orang-orang yang minta suara keras toa untuk dikecilin sebagai "penista agama" (Islam). Lebih bego, cupet, dan picik lagi jika ada orang yang mengklaim rela "jihad" dan perang hanya karena persoalan toa.

Memang benar, kecerdasan ada batasnya, tapi kebahlulan dan kedunguan memang betul-betul tak terbatas bak samudra yang tak bertepi, laksana langit yang tak berujung.

 

 

Bagi orang yang mempunyai akal sehat, pikiran jernih, dan hati nurani yang masih berfungsi sulit untuk memberi label "penista agama", apalagi sampai ngamuk kesetanan dan rela jihad perang, hanya karena persoalan toa yang bid'ah dan made in Barat itu!

Kok bisa, ada orang yang ngamuk dan mengobarkan jihad atas nama Islam, padahal dalam agama ini tidak ada doktrin dan ajaran tentang toa? Toa juga bukan budaya Muslim. Nabi Muhammad pun tak pernah memakainya wong toa sendiri baru diciptakan pada abad ke-19 oleh para ilmuwan "kapir" Barat.

Toa sendiri konon baru diperkenalkan penggunaannya di masjid tahun 1930an. Dulu, sebelum ada teknologi toa, umat Islam di Nusantara menggunakan bedug dan kentongan untuk memanggil orang salat. Maka, status toa itu sama dengan bedug dan kentongan itu. Masak umat Islam rela jihad hanya karena urusan bedug dan kentongan? Apa nggak diketawain para kampret yang bergelantungan nanti?

***

Karena merasa tidak penting urusan pertoaan inilah mengapa berbagai negara yang penduduknya mayoritas Muslim, termasuk di Timur Tengah, juga membatasi penggunaan toa.

Mayoritas negara-negara dimana umat Islam menjadi mayoritas rata-rata menggunakan toa dengan suara keluar masjid hanya untuk azan saja sebagai "panggilan salat". Ada juga sebagian, selain untuk azan, juga dipakai untuk khotbah Jumat. Tapi jarang sekali. Selebihnya dilarang penggunaan toa hingga keluar masjid. Hanya boleh dipakai internal masjid saja (misalnya untuk salat, baca Al-Qur'an, pengajian, dlsb).

Kementerian Urusan Islam Saudi, seperti ditulis oleh Hala Al-Qahtani, juga membatasi penggunaan toa masjid yang hanya boleh dipakai keluar kalau untuk azan, khotbah Jumat, Idul Fitri dan Idul Adha, juga ketika salat minta hujan. Itu saja. Selebihnya harus dipakai kedalam masjid saja.

Dasarnya mengacu pada Al-Qur'an surat Al-Isra ayat 110: "....janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu, dan jangan pula merendahkannya. Carilah jalan tengah di antara kedua itu". Selain dalil naqli ini, juga karena pertimbangan "ketertiban sosial" dan mendahulukan "kepentingan umum".

Di Uni Emirat Arab, penggunaan toa masjid juga dibatasi secara ketat gegara protes warga (Saeed Lakhal) tentang penggunaan toa untuk ceramah-ceramah fanatik, intoleran, dan radikal sehingga mengganggu relasi sosial antar-masyarakat Emirat yang sangat plural dan kompleks.

Di Bahrain, negara tetangga Saudi, aturan penggunaan toa masjid lebih ketat lagi. Toa yang suaranya boleh keluar masjid hanya digunakan saat azan saja. Titik. Tidak pakai koma. Selebihnya harus digunakan untuk inernal masjid saja karena penggunaan "toa eksternal" dipandang mengganggu hubungan antarindividu dan masyarakat Bahrain yang sangat majemuk dari sudut pandang agama.

Masjid-masjid yang berisik karena suara toa akan dikenai sanksi hukum. Kementerian Urusan Islam, Keadilan dan Waqaf, seperti ditegaskan oleh Abdallah Al Mualy, secara tegas mengatakan bahwa masjid yang menolak merendahkan volume suara toa, akan dicabut semua peralatan sound system dan pihak takmir masjid akan dikenai sanki.

Jadi Indonesia ini mungkin satu-satunya negara mayoritas Muslim dimana toa masjid dan "adiknya" (musala atau langgar) bisa bebas merdeka digunakan untuk kegiatan apa saja dan kapan saja.

Tapi lucunya, masih saja ada suara-suara kampret kutilen yang sering mengigau kalau umat Islam di Indonesia itu tertindas, pemerintah anti-Islam, dlsb. Tertindas dan anti-Islam dengkulmu mlonyot.

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

 

(Sumber: Facebook Sumanto AQ)

Sunday, August 26, 2018 - 09:30
Kategori Rubrik: