Ribetnya Islam Versi Radikalis

ilustrasi

Oleh : Marlis Afridah

Dari dulu syarat menjadi muslim hanya membaca kalimat syahadat dengan penuh keyakinan. Lain-lain adalah dinamika dalam beragama, berproses. Jenjangnya masing-masing, ada muslim, lalu mu’min, dst, dst, semakin tinggi mungkin sampai jadi kekasih Allah. Wallahualam.

Lalu ada sekelompok muslim awam yang ‘kurang ngaji’ menambah-nambahi syaratnya, menjadikan semakin berat dan aneh-aneh; seakan-akan menjadi muslim itu harus shalat berjamaah di masjid jika tidak berarti munafik, atau menjadi muslim berarti harus teriak takbir jika tidak berarti kafir, dst dst. Ngawur, tidak jelas rujukannya, tapi juga tidak sedikit yang mulai percaya. Biasanya sama-sama gak ngaji atau gak punya akses ke sumber-sumber yang autoritatif. Mencengangkan sekali tapi artinya tantangan mencerdaskan umat ke depan semakin berat.

Beragama secara membabibuta tanpa mengaji yang runtun dan berjengjang dari sumber-sumber yang autoritatif memang berbahaya sekali. Berbahaya bagi diri sendiri dan masyarakat, toksik bagi lingkungan. Ini penistaan agama yang nyata, ketika agama dibela-bela justru dengan tanpa ilmu. Menjadikan yang melihat muak dan justru antipati pada agama. Ilmu harusnya mendahului amal. Mau mengamalkan agama tapi tidak ngaji ilmu agama yang benar dan sabar berproses jadinya hanya merusak saja.

Semoga segera diusut tuntas pelaku persekusi Eko Banser di Jaksel kemarin agar publik tahu sebenar-benarnya siapa dan berafiliasi dengan ormas / ideologi mana si pelaku tersebut. Terorisme yang sangat canggih saja bisa diungkap jika mau, apalagi cuma ‘premanisme’ pinggir jalan yang amatiran.

Mewakili diri sendiri yang merasa mencintai hewan / binatang hanya ingin menambahkan satu poin saja ; mencaci maki orang lain dengan sebutan “monyet”, “anjing”, “babi” dan seterusnya, tidak membuat ybs jadi serendah “monyet”, “anjing”, dan “babi”. Faktanya, bahkan “monyet”, “anjing”, dan “babi” tidak serendah mahluk-mahluk itu. Jadi serendah apa? Simpulkan saja sendiri. Intinya, hewan / binatang bahkan lebih mulia dari manusia yang suka mencacimaki padahal dibekali akal budi.

Tak ada yang salah dengan tercipta di dunia sebagai hewan / binatang. Mereka bahkan yang sangat patuh pada hukum alam, tidak menimbulkan kerusakan di bumi. Yang salah kalo tercipta sebagai manusia tapi tidak menggunakan akal budi, merasa berbuat kebajikan padahal hanya menimbulkan kerusakan, tidak sadar pula. Shame on you, siapapun kamu, sebentar lagi juga terungkap. Caper aja

Kohesi sosial adalah tulang punggung NKRI. Siapa yang ingin merusak bangsa dan negara Indonesia, mereka pertama dan utama merusak kohesi sosial masyarakat. Negara semestinya tidak abai dengan ancaman-ancaman yang ingin merusak kohesi sosial. Karena jika terlanjur rusak, besar sekali ongkos kemanusiaannya, dan berat sekali memperbaikinya. Wallahualam.

Sumber : Status Facebook Marlis Afridah -

Thursday, December 12, 2019 - 12:00
Kategori Rubrik: