Riba Di Bank

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.MA

Riba di bank itu sebenarnya bisa diubah menjadi bukan riba, asalkan kita tahu titik ribanya yang mana.

Lalu titik riba itu diganti saja akadnya menjadi akad lain yang bukan riba. Selesai, beres dan segampang itu. Bisnis jalan, tidak perlu ribut risain, atau koprol jumpalitan bikin gerakan anti riba segala.

Tidak usah bikin bank baru yang belum tentu bisa bertahan hidup. Karena butuh modal besar, SDM, pasar dan lainnya. Belum lagi persaingan di dunia perbankan yang amat ketat. Sudah gitu, berhadapan dengan riba ujing-ujungnya tetap saja pakai banyak hilah juga.

Sama saja ketika pakaian kita kena najis, misalnya ada kotoran burung. Cukup kita pusatkan perhatian pada bagian yang kena najisnya saja, lalu kita cuci hanya bagian itu saja, di bawah keran air. Dikucek-kucek sedikit lalu peras dan selesai.

Pakaian sudah sah dipakai untuk shalat, karena 3 indikator najis yaitu warna, aroma dan rasa sudah hilang.

Tidak harus pakaian itu seluruhnya dicuci, masuk mesin cuci, direndam berhari-hari, dibilas, dikucek-kucek, dibanting-banting di papan penggilesan, terus dijemur berhari-hari, terus disetrika. Jelas semua butuh waktu lama, tenaga, kerjaan dan pastinya biaya yang mahal.

Malah saking awamnya, pakaian itu dicuci 7 kali, salah satunya pakai tanah. Disamakan dengan najis air liur anjing rupanya.

Disitulah perbedaan nyata antara orang berilmu dan tidak berilmu :

قل هل يستوى الذين يعلمون والذين لا يعلمون

Kalau kita belajar dan punya ilmunya, masalah jadi simple dan solusinya pun sederhana.

Sebaliknya kalau ilmu tidak ada, masalah sepele jadi urusan besar, solusinya justru malah tidak jadi solusi, malah tambah besar masalahnya.

Satu lagi, ada orang tidak berilmu, tapi cenderung merasa dirinya paling berilmu. Lalu orang lain dianggap salah semua.

Itu namanya musibah kubro.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Wednesday, September 11, 2019 - 10:45
Kategori Rubrik: