Riba dan Bagi Hasil

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.MA

Inti haramnya bank konvensional terletak pada sistem bunga yang katanya bersifat ribawi. Maka bank syariah menggunakan sistem bagi hasil biar tidak riba. Begitu kata seorang teman yang duduk jadi pimpinan di salah satu bank syariah.

Saya sih setuju-setuju saja dengan teorinya. Tapi ketika saya uber dengan pertanyaan lanjutan, jawabannya tidak memuaskan saya.

Saya tanya begini : Namanya juga bagi hasil, berarti kalau usaha itu sudah membuahkan hasil, barulah hasilnya dibagi.

Kalau hasilnya belum ketahuan, apa bisa dibagi hasilnya? Logikanya kan belum bisa dibagi. Apanya yang mau dibagi? Berapa keuntungannya pun belum ketahuan.

Biasanya dunia usaha ketika membenamkan sebuah investasi butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa menangguk keuntungan. Hampir tidak ada yang instan. Kebanyakannya diawal-awal malah 'membakar uang' alias burning the money dulu.

Pertanyaan kedua : Kapan kah kita bisa tahu hasil usaha? Tiap bulan atau tiap tahun?

Umumnya keuntungan usaha baru diketahui bukan tiap bulan tapi tiap tahun. Biasanya perusahan besar yang sudah dipercaya oleh bank, baru hitung-hitungan yang realistis di akhir tahun pas tutup buku. Disitulah ada pembagian deviden. Disitulah kita bagi-bagi hasil keuntungan.

Saya masih penasaran saja. Kalau para pengusaha yang dimodali oleh bank syariah baru tahu keuntungan usahanya di akhir tahun, kok bank syariahnya malah tiap bulan sudah bagi-bagi keuntungan kepada kita sebagai nasabahnya?

Lha, dari mana bank syariah bisa tahu berapa keuntungan yang didapat oleh para pengusaha tiap bulannya?

Atau jangan-jangan bank syariah cuma nebak-nebak saja alias cuma nembak doang. Sebenarnya sama sekali belum tahu berapakah keuntungan para pengusaha. Dan pastinya belum tahu berapa dapat share dari keuntungan para pengusaha.

Tapi dari pada repot-repot, lalu bank syariahnya ngarang dan main tembak saja, pokoknya kita yang nabung di bank itu langsung diberi : bagi hasilnya.

Paling jauh standarnya pakai rate suku bunga dari Bank Indonesia (BI). Dan itulah yang digunakan oleh semua bank konvensional selama ini. Namun terlanjur dianggap riba dan diharamkan, karena alasan tidak boleh mematok keuntungan di awal, harus ikut realitas apa adanya.

Saya mengaku terus terang, bagaimana urutan dan asal-usulnya uang yang bank syariah berikan kepada kita sebagai 'bagi hasil', saya pun gelap dan terus terang nggak tahu ceritanya, nggak tahu rumusnya, nggak paham adonannya, plus tidak ngerti bumbu racikannya.

Soalnya ketika saya tanyakan kepada teman saya di bank syariah, dia muter-muter juga menjelaskannya. Saya malah tambah tidak paham.

Katanya kita dilarang taqlid buta, tiap fatwa harus tahu dalil dan logikanya. Tapi untuk fatwa yang satu ini, jujur saya dan kita semua sebenarnya cuma taqlid buta saja. Pokoknya bank syariah itu halal lantas bank konvensoinal itu haram.

Dalilnya?

Pokok MUI dan para ustadz bilang begitu. Ente taqlid aja deh.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Sunday, December 8, 2019 - 10:30
Kategori Rubrik: