Reyhan Fajri, Korban Elit Politik

ilustrasi
Oleh : Muhammad Jawy
 
Saya membayangkan anak ini sangat santun dan manis. Pagi-pagi ia sudah bersiap bersantap sahur dengan kawan-kawannya. Tak disangka dini hari itu di dekatnya sedang terjadi kerusuhan yang dipicu oleh egoisme elit politik dan pendukungnya, yang ngotot mengerahkan massa, meskipun semua bukti kuat mengatakan mereka kalah pemilu. Yang memilih memaksakan aksi massa, padahal masih ada jalan konstitusi yang bisa ditempuh. 
 
Sebagai anak muda, wajar kalau rasa keingintahuannya menyeret langkahnya mendekat ke sumber suara riuh. Ia tak menyangka, langkahnya itu menyebabkannya ia terkena peluru nyasar yang entah siapa yang menembakkannya, dan karena apa. Konflik memang tak pernah mengenal korbannya, siapapun bisa menjadi korban.
 
Meninggalnya Reyhan seharusnya cukup menjadi penghenti gerakan massa ini, seharusnya semua berhenti dan merenung, apa yang salah dengan semua ini. Namun itu tak dilakukan, egolah yang dipilih, bulan Ramadhan pun tak kuasa untuk menghentikan hawa nafsu setani untuk saling mengalahkan.
Setelah debu sisa kerusuhan mulai memudar, alangkah baiknya kematian Reyhan di usianya yang baru 16 tahun, menjadi pengingat bagi semuanya. Tak layak mengorbankan orang lain demi ego politik, karena jabatan presiden pun tak akan mampu menghidupkan anak manis yang telah mati ini. Tidak akan pernah.
 
Ia sudah menjadi pahlawan bagi keluarganya, maka seharusnya ia juga menjadi pahlawan bagi bangsa Indonesia, yang mengingatkan bahwa kita tidak pernah menyerahkan kewarasan, kemerdekaan dan nurani kita kepada kerakusan segelintir elit dan para pendukung fanatiknya.
 
Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu, selamat jalan Reyhan Fajari.
 
Sumber : Status Facebook Muhammad Jawy
Sunday, May 26, 2019 - 16:30
Kategori Rubrik: