Revolusi Susi dan Susu Prabowo

Ilustrasi

Oleh : Awan Kurniawan

Indonesia darurat susu? Produksi susu nasional hingga saat ini masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.

Dari data Akademi Gastronomi Indonesia angka konsumsi susu sapi Indonesia termasuk paling rendah di Asia, berkisar 17,2 kilogram per tahun.Angka itu masih kalah jauh dari Singapura dengan angka 48,6 per kapita, Malaysia 36,2 per kapita, Thailand 33,7 per kapita, Myanmar 26,7 per kapita, dan Filipina 17,6 per kapita.

Pada tahun 2016 angka kebutuhan konsumsi susu nasional berkisar antara 4,45 juta ton atau setara dengan 17,2 kg setiap orang per tahunnya. Namun, dari total kebutuhan susu nasional, pelaku usaha lokal baru bisa memenuhi sekitar 20 persen.

Angka ini bergeser tidak jauh pada 2017, saat ini produksi susu dari peternak lokal hanya sebesar 18% dari total kebutuhan nasional sebesar 4,45 juta ton per tahun. Angka produksi lokal yang hanya mencapai 825 ribu ton saja. Sekitar 82% kebutuhan susu dipenuhi dengan impor.

Tidak adanya kewajiban menyerap produksi susu lokal menjadi salah satu penyebab kemunduran sektor peternakan sapi perah di Indonesia. Kewajiban ini dicabut pada 1998 menyusul penandatanganan Letter of Intent Dana Moneter Internasional (IMF).

Padahal, sampai tahun 1985 pemerintah Indonesia mewajibkan industri pengolahan susu menyerap produksi peternak sapi perah lokal. Kewajiban inilah yang membuat bisnis persusuan di Indonesia kala itu bergairah. Bahkan, sampai era 1990-an, produksi peternak sapi lokal mampu memenuhi hingga 50% kebutuhan susu nasional.

Data Gabungan Koperasi Susu Seluruh Indonesia (GKSI) mencatat dalam empat tahun terakhir jumlah populasi sapi perah di Indonesia terus turun. Sampai 2016, jumlah populasi sapi tercatat 291.183 ekor, jauh berkurang dibandingkan 2013 sebanyak 438.745 ekor.

Angka ini juga sejalan dengan penurunan jumlah peternak di Indonesia. Pada 2016, jumlah peternak yang tergabung dalam koperasi mencapai 96.355 orang, turun dibandingkan 2013 sebanyak 102.726 orang.

Pemenuhan kebutuhan susu segar dari pasokan domestik pernah mencapai angka yang cukup baik pada 2001 berkisar pada angka 40 %. Tapi kemudian terus alami penurunan. Berikutnya hingga hari ini kita masih terus mengimpor 2,8 juta hingga 3 juta ton pertahunnya untuk memenuhi kebutuhan susu dalam negeri.

Dari 58 industri pengolahan susu yang beroperasi di Indonesia, hanya 8 perusahaan yang bermitra dengan peternak dan menyerap susu segar di dalam negeri. Mereka lebih memilih Impor dari luar negeri karena produksi susu segar dalam negeri cenderung terus turun dan dan kualitasnya masih rendah. Maka tidak heran bila susu para peternak saat ini dihargai murah oleh para pelaku industri susu, kisarannya Rp 4.200-4.500 per liter.

Pada kondisi ini, saya pikir gerakan Revolusi putih yang d gaungkan Prabowo nampak seperti guyonan belaka. Kita boleh saja mencitakan anak anak kita tercukupi kebutuhan proteinnya, tapi protein tidak hanya dari susu bukan?

Saya rasa lebih rasional jika digalakkan gerakan makan ikan. Stok produksi ikan kita melimpah, serapannya untuk konsumsi perkapita juga belum terlalu tinggi. Ikan lebih rasional daripada susu.

Daripada ngomong besar pake kata revolusi segala, ujungnya impor lagi. Atau PT. Susu nusantara milik Prabowo yang di komandoi Fadli Zon sudah menyiapkan stok susunya? Entahlah, tapi jujur pada saat ini Susi lebih rasional daripada susu Prabowo.

Sumber : Status Facebook Awan Kurniawan

Monday, October 30, 2017 - 14:45
Kategori Rubrik: