Revolusi Setengah Hati

Ilustrasi

Oleh : Riza Iqbal

Andaikan, Jokowi berhasil diturunkan dari tampuk kekuasaan, apakah situasi politik akan tenang? 
Apakah kelompok yg selama ini berteriak 'Kebangkitan Umat Islam' akan berjaya? 
Apakah Indonesia menjadi negara berideologikan Agama?
Jawabannya "Tidak"
Loh kok bisa..????

Sebelum Jokowi menjadi Presiden, tidak ada suara kelompok fundamentalis yg menginginkan perubahan politik Indonesia. Aksi2 yg mereka lakukan hanya aksi sporadis terhadap kelompok tertentu, seperti kasus FPI di Monas, di Kendal dan kasus2 receh lainnya. Tidak ada aksi konfrontasi langsung dengan Pemerintah. HTI yg ditengarai ingin merubah sistim dan ideologi negarapun, nyaris tidak terdengar suaranya. Padahal saat SBY berkuasa, HTI memperoleh status badan hukum dari Kementerian Hukum dan HAM pada 2 Juli 2014. Lantas kenapa saat Jokowi berkuasa, kelompok ini keluar bak laron dimusim hujan??

Ada benang merah yg bisa ditarik dari tindakan2 Jokowi dalam menata negeri ini. Bila penguasa sebelumnya masih memberikan ruang kepada kelompok2 tertentu, Jokowi sangat tegas membatasi bahkan memangkas gerak langkah kelompok yg selama ini merampok dan menikmati hasil rampokan. Karena itulah mereka sangat membenci Jokowi.

Jokowi berhasil membuat kekuatan orba gamang. Mereka sulit mencari kasus yg bisa menjatuhkan Jokowi, jadi isu agamalah yg pas untuk menyingkirkan Jokowi. Kelompok fundamentalis, dimanfaatkan untuk tujuan mengambil alih kekuasaan. Meski muslim, Jokowi bukan dari kalangan santri. Dengan memanfaatkan kelompok fundamentalis, mereka terus menggoyang Jokowi. Agar kepentingan mereka tidak diganggu gugat dan sukur2 kembali berkuasa.

Membangkitkan orde baru terang2an, tidak akan menjatuhkan popularitas Jokowi, bahkan elektabilitasnya akan lebih tinggi sebab, kelompok reformis yg menjatuhkan orde baru, masih lantang suaranya. Begitu juga kelompok yg menginginkan kembalinya militer kepanggung politik. Salah satu tujuan gerakan reformasi 1998 adalah, mengembalikan militer ke barak dan menghapus kekuatan politik militer.

Tidak heran, dalam setiap aksi, baik aksi jalanan maupun aksi propaganda, kelompok fundamentalis meneriakkan pesan sponsor seperti, romantisme orde baru, kejayaan orde baru. Padahal mereka berteriak kebangkitan Umat Islam, sedangkan rezim orde baru, memiliki sejarah buruk terhadap gerakan Umat Islam. Mereka juga mencoba mrmposisikan berada dalam satu barisan dengan TNI. Mengajak TNI berpolitik dengan jargon "Kembalikan Dwi Fungsi ABRI/TNI namun membenturkan TNI dengan Polri. Karena Polri selama ini bergerak membasmi sel2 kelompok fundamentalis.

Kelompok Orba tidak mungkin mendukung penuh kelompok fundamentalis seperti HTI. Sejarah sudah membuktikan bahwa, orba hanya memanfaatkan kekuatan Islam tapi tidak mengakomodasi menjadi kekuatan politik, dan akan menjadi bumerang bagi klan cendana mengingat masa lalunya.

FPI masih bisa dikendalikan, ormas yg awalnya bernama Pam Swakarsa, lahir untuk membela kepentingan orde baru. HTI lah yg menjadi ganjalan sebab memiliki misi tersendiri. Kelompok orba gamang dengan kelompok ini yg semakin lama semakin membesar, bahkan memiliki sponsor internasional yg bisa menyingkirkan kekuatan dan tujuan mereka. Mereka harus bisa mengantisipasi bila kelompok ini punya posisi tawar yg tinggi.

Menyingkirkan teman seperjuangan secara langsung, bisa menimbulkan antipati dan benturan. Jadi mereka sangat bersyukur ketika Pemerintah mengeluarkan Perppu No 2 tahun 2017. Apalagi DPR mengesahkannya menjadi UU. Otomatis posisi tawar kelompok orba masih tetap lebih tinggi dari kelompok fundamentalis yg karena kekuatan hukum, tidak bisa lagi hadir secara terang terangan dipanggung politik.

Jadi pahamkan kenapa Perppu begitu mulus ditetapkan menjadi Undang-undang?
Mereka melakukan Revolusi setengah hati, karena kepentingan mereka setengah2. Tidak satu suara, tidak satu tujuan.

Sesama kampret dilarang saling mendahului.

Sumber : Status Facebook Riza Iqbal

Saturday, October 28, 2017 - 20:00
Kategori Rubrik: